Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Profil Jay Herdman, Putra Pelatih Timnas yang Jadi Andalan Baru Bali United
- Barcelona Tutup Pramusim dengan Gelar Joan Gamper Trophy 2026
- Fitrah Maulana Bangga Bawa Persib Juara Dewata Challenge Series
- STY Puji Perkembangan Persija Usai Laga Uji Coba Di Thailand
- Gabung Klub Arab Saudi, Kakak Pemain Persib Dibanderol Rp1,4 T
Lestari: Perjuangan Kesetaraan Perempuan Gerakan Bersama Peradaban
Kamis, 20 Agustus 2026 22:17 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa perjuangan kesetaraan dan pemberdayaan perempuan bukanlah isu sektoral semata, melainkan sebuah agenda peradaban bangsa yang harus menjadi gerakan bersama.
Pernyataan itu disampaikan Lestari dalam Focus Group Discussion bertema Memperkuat Representasi Perempuan dalam Revisi Undang-Undang Pemilu yang diselenggarakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Lestari menilai, meskipun telah ada kemajuan, berbagai hambatan struktural dan kultural masih menghadang kemajuan perempuan Indonesia.
Rerie, sapaan akrab Lestari, menyebut fenomena ini sebagai ‘tembok kaca’ yang membutuhkan keberanian luar biasa untuk didobrak.
Baca juga : MPR Dorong Evaluasi Pelaksanaan Konstitusi Demi Wujudkan Keadilan Sosial
Rerie mengungkap, sejumlah data yang menggambarkan ketimpangan yang terjadi saat ini. Antara lain, terkait keterwakilan politik perempuan. Meskipun ada kebijakan afirmasi 30 persen calon legislatif perempuan, jelas Rerie, komposisi perempuan di DPR RI saat ini baru mencapai 21,9 persen.
Partai NasDem yang telah menempatkan lebih dari 30 persen caleg perempuan dalam tiga pemilu terakhir pun masih menemui kendala di lapangan. Ia menyoroti kesulitan dalam mencari kader perempuan yang siap maju di dunia politik karena belum mendapatkan izin atau dukungan penuh dari keluarga.
"Sulit sekali mencari perempuan yang siap. Ada yang bersedia, tapi belum bisa diterima oleh lingkungan. Suaminya siap, keluarganya tidak memberikan izin," ungkap Rerie.
Selain itu, ujar Rerie, ketimpangan juga terjadi di sektor ketenagakerjaan dengan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan yang hanya sekitar 55 persen, jauh di bawah laki-laki yang mencapai 84 persen.
Baca juga : Meletakkan Strategi Budaya
Dari sisi perlindungan kerja, tambah dia, sekitar 61 persen perempuan masih bekerja di sektor informal yang minim perlindungan dan jaminan sosial, serta upah yang lebih rendah daripada laki-laki di posisi yang sama.
Menurut Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI itu, persoalan utama bukan terletak pada kapasitas perempuan, melainkan pada struktur sosial yang belum adil dan bias budaya patriarki yang masih mengakar.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mengajak seluruh elemen bangsa, termasuk partai politik, untuk menjadikan isu perempuan sebagai sebuah gerakan kebangsaan, bukan sekadar formalitas pemenuhan kuota.
Menurutnya, membela perempuan adalah keharusan untuk memastikan arah masa depan bangsa. Rerie juga menekankan, pentingnya pendidikan dan perubahan pola pikir untuk memberdayakan perempuan agar mampu menentukan jalan hidupnya sendiri, dimulai dari hal-hal kecil seperti pengakuan atas identitas diri.
Baca juga : Cendekiawan Indonesia-Malaysia Bahas Negara Madani di Tengah Dunia Multipolar
"Bicara tentang perempuan dan memposisikan perempuan dengan setara, sejatinya kita sedang membangun peradaban bangsa yang lebih baik di masa depan," pungkas Rerie.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya