Dark/Light Mode

Bamsoet Minta Pemda Perhatian

Timpang, TKD Guru Sekolah Umum Bisa Rp 6,5 Juta, Guru Madrasah Cuma Rp 1 Juta

Kamis, 14 Oktober 2021 21:22 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo (tengah) menerima pengurus PGMI, di Jakarta, Kamis (14/10). (Foto: Dok. MPR)
Ketua MPR Bambang Soesatyo (tengah) menerima pengurus PGMI, di Jakarta, Kamis (14/10). (Foto: Dok. MPR)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua MPR Bambang Soesatyo mendukung agar Pemerintah Daerah (Pemda) bisa memberikan Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) yang setara antara guru madrasah dengan guru di sekolah umum SD-SMA. Sebab, selama ini, menurut Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI), masih ada kesenjangan perlakukan. 

Sebagai contoh, TKD Guru SD di DKI Jakarta bisa mencapai Rp 4,3 juta-Rp 6,5 juta per bulan. Sementara, TKD Guru Madrasah hanya Rp 1 juta per bulan, belum termasuk potongan pajak 15 persen. TKD tersebut belum pernah ada kenaikan selama 10 tahun terakhir.

"Kondisi di berbagai daerah lain juga hampir sama. Sangat ironis. Sebaiknya ada regulasi yang jelas, yang bisa menyetarakan TKD Guru Madrasah dengan TKD Guru di sekolah umum, sebagai bentuk penghormatan sekaligus keberpihakan terhadap jasa dan pengabdian para guru. Mengingat dana pendidikan pada tahun 2021 ini sudah naik 5 kali lipat menjadi Rp 550 triliun," ujar Bamsoet, sapaan akrab Bambang, usai menerima pengurus PGMI, di Jakarta, Kamis (14/10).

Berita Terkait : Penutupan PPSA XXIII Lemhanas, Ketua MPR Ajak Perkuat Wawasan Kebangsaan

Pengurus PGMI yang hadir antara lain Ketua Syamsudin dan Sekretaris Suhardi. Hadir pula Ketua DPW PGMI DKI Jakarta Makhrus, Sekretaris DPW PGMI DKI Jakarta Edi Sulaksono, dan Anggota DPW PGMI DKI Jakarta Nurlaelah.

Ketua DPR ke-20 ini memaparkan, menurut Data Statistik Tahun Ajaran Semester Ganjil 2020/2021 Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, jumlah madrasah negeri dan swasta di Indonesia dari mulai tingkat Raudhatul Athfal, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, hingga Aliyah, mencapai 83.551 unit. Dengan jumlah siswa mencapai 9,6 juta jiwa, jumlah guru mencapai 929.511 jiwa, dan tenaga pendidik mencapai 140.636 jiwa.

Bamsoet menekankan, madrasah merupakan aset kekayaan pendidikan nasional. Keberadaan madrasah yang menggabungkan pendidikan keagamaan dengan pendidikan formal, sangat membantu bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. 

Berita Terkait : Bila Jadi, Bamsoet Tak Ingin Ada Penumpang Gelap Dalam Amandemen

“Khususnya dalam melahirkan anak bangsa yang mencintai agamanya sekaligus mencintai bangsa dan negaranya. Sehingga membantu menciptakan suasana kesejukan dan moderasi beragama. Dari madrasah, anak bangsa bisa didik mengenai pentingnya merajut perbedaan dan keragaman melalui tradisi keagamaan dan kearifan lokal," papar Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menerangkan, prestasi peserta didik Madrasah juga sangat mengagumkan. Sebagai contoh, tim robotik Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Kota Makassar berhasil menyabet 4 gelar juara sekaligus dalam ajang Asean Robotic Day (ARD) 2021 pada September 2021.

"Menunjukkan bahwa siswa madrasah siap menghadapi era Industri 4.0 dan Cybion (Cybernetics, Biologi and Ontology). Besarnya potensi para siswa madrasah tersebut tentunya harus didukung dengan keberpihakan negara yang ditunjukan oleh pemerintah pusat dan daerah dalam menjamin kesejahteraan para guru dan tenaga didiknya," pungkas Bamsoet. [USU]