Dark/Light Mode

PSI: Jangan Karena Politik, Sejarah Pembangunan NTT Dihapus

Kamis, 30 Juli 2026 09:19 WIB
Foto: PSI NTT.
Foto: PSI NTT.

RM.id  Rakyat Merdeka - Sekretaris DPW PSI Nusa Tenggara Timur (NTT) Junaidin Mahasan mengajak masyarakat memisahkan perbedaan pilihan politik dari penilaian terhadap rekam jejak pembangunan di NTT.

Menjelang kunjungan Presiden Ketujuh RI Joko Widodo (Jokowi) ke NTT pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026, ia menilai berbagai pembangunan pada masa pemerintahan Jokowi masih diingat dan dirasakan masyarakat.

Menurut Junaidin, setiap kali nama Jokowi kembali disebut, masyarakat NTT turut mengingat berbagai program pembangunan yang dinilai membawa perubahan bagi daerah tersebut.

"Setiap kali nama beliau (Jokowi) kembali disebut, ingatan masyarakat NTT tentang legacy dan jejak pembangunan di NTT pun ikut muncul ke permukaan. Di era Bapak Jokowi, paradigma pembangunan bergeser dari Jawa-sentris menjadi Indonesia-sentris," kata Junaidin kepada wartawan, Kamis (30/7/2026).

Ia mengatakan, bagi sebagian besar masyarakat NTT, perubahan paradigma pembangunan tersebut bukan sekadar slogan, tetapi tercermin melalui berbagai program pemerintah yang dirasakan langsung.

Baca juga : BAZNAS dan KP2MI Perkuat Sinergi Pemberdayaan Pekerja Migran

Dia mengungkapkan, bagi sebagian besar masyarakat NTT, perubahan paradigma itu bukan sekadar slogan. Masyarakat melihatnya melalui pembangunan infrastruktur, penguatan konektivitas, pembangunan jalan dan pelabuhan, pengembangan kawasan pariwisata, serta program Tol Laut.

"Tol Laut bukan sekadar kapal yang berlayar dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya. Tol Laut adalah simbol perubahan cara negara melihat NTT," tuturnya.

Junaidin menilai, kehadiran program Tol Laut menjadi bagian dari upaya memperkuat konektivitas antarwilayah di NTT.

"Laut yang dulu menjadi pemisah, perlahan diubah menjadi jalan. Jarak yang dulu menjadi hambatan, mulai diubah menjadi konektivitas. Dan pulau-pulau yang dulu terasa jauh, mulai dihubungkan dengan denyut pembangunan nasional," jelasnya.

Ia menegaskan, perbedaan pandangan politik tidak seharusnya menghapus fakta-fakta pembangunan yang telah dirasakan masyarakat.

Baca juga : SIM Keliling Kabupaten Bogor 29 Juli, Hadir di Mall Pelayanan Publik Cibinong

"Kalau ada yang hari ini mencoba mengecilkan arti pembangunan di NTT hanya karena alasan politik, saya ingin mengatakan, silakan berbeda pilihan politik. Tetapi jangan menghapus fakta sejarah. Di era Bapak Jokowi, paradigma pembangunan bergeser dari Jawa-sentris menjadi Indonesia-sentris," tegasnya.

Menurut Junaidin, konsep Indonesia-sentris menjadi bukti kehadiran negara hingga ke wilayah kepulauan, perbatasan, dan daerah yang selama ini menghadapi keterisolasian.

"Inilah makna Indonesia-sentris: negara hadir bukan hanya di pusat-pusat pertumbuhan, tetapi juga di wilayah perbatasan, kepulauan, dan pelosok yang selama ini menghadapi keterisolasian," ucap Junaidin.

"Sehingga bagi sebagian masyarakat NTT, Bapak Jokowi bukan sekadar mantan Presiden. Beliau adalah sosok yang meninggalkan cerita, kebijakan, dan pembangunan yang masih dirasakan hingga hari ini," imbuhnya.

Junaidin mengatakan, kunjungan Jokowi ke NTT bukan hanya dipandang sebagai agenda politik, tetapi juga menjadi momentum untuk mengingat berbagai kebijakan yang pernah dijalankan pemerintah pusat di wilayah tersebut.

Baca juga : BPH Migas Gandeng Polisi Ungkap Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi Di Madiun

Menurutnya, kedatangan Jokowi akan membangkitkan kembali memori kolektif masyarakat terhadap berbagai pembangunan yang telah dilakukan.

"Karena itu, ketika Bapak Jokowi datang kembali ke NTT, yang muncul bukan hanya nostalgia, tetapi juga memori kolektif masyarakat NTT tentang apa yang pernah dikerjakan dan apa yang masih menjadi legacy beliau," katanya.

Ia menegaskan, pihaknya tidak bermaksud mengultuskan tokoh tertentu, melainkan mengingat rekam jejak pembangunan yang dinilai masih dirasakan hingga saat ini.

Menurutnya, hubungan emosional antara Jokowi dan masyarakat NTT terbentuk melalui perhatian serta kebijakan yang dirasakan langsung selama masa pemerintahannya.

"Bagi banyak masyarakat NTT, Pak Jokowi telah meninggalkan jejak. Dan jejak itu masih bisa dilihat, masih bisa dirasakan, dan masih menjadi bagian dari cerita pembangunan NTT. Maka ketika Pak Jokowi kembali datang ke NTT, jangan heran kalau masyarakat menyambut dengan hangat. Karena hubungan emosional antara Pak Jokowi dan masyarakat NTT tidak lahir kemarin sore. Hubungan itu dibangun melalui proses yang cukup lama, melalui perhatian, dan melalui kebijakan yang dirasakan masyarakat," tutupnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.