Dark/Light Mode

Gerindra Soroti Polemik Administrasi JKN

Jangan Persulit Layanan Kesehatan Korban Gempa!

Selasa, 1 September 2026 06:50 WIB
Ilustrasi, layanan BPJS Kesehatan. (Foto: Dwi Pambudo/RM.id)
Ilustrasi, layanan BPJS Kesehatan. (Foto: Dwi Pambudo/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Putih Sari meminta BPJS Kesehatan memastikan pelayanan medis bagi masyarakat terdampak gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo di Nusa Tenggara Timur (NTT) berjalan cepat dan tidak terkendala persoalan administrasi.

Putih menegaskan, persoalan administratif, termasuk status kepesertaan maupun tunggakan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), tidak boleh menghambat korban gempa memperoleh pelayanan kesehatan.

Wakil Ketua Komisi IX DPR ini mendorong BPJS Kesehatan membuka saluran pengaduan untuk mempercepat pelayanan kepada para korban gempa. Tujuannya, agar penanganan medis terhadap korban terdampak gempa tidak tertunda.

"Dalam kondisi darurat bencana, korban bencana yang membutuhkan pelayanan medis tidak boleh terhambat administrasi,” ujar Putih dalam keterangannya, Senin (31/8/2026).

Selain penanganan korban gempa, Putih juga meminta BPJS Kesehatan tetap melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan medis secara rutin dan berkelanjutan. Dia mengatakan, situasi bencana tidak boleh menyebabkan terhentinya pelayanan kesehatan bagi pasien yang sebelumnya telah menjalani perawatan.

Baca juga : Emil Tetapkan Target 1 Dapil 1 Kursi Dewan

"Pelayanan medis yang cepat, jaminan akses kesehatan, pengawasan obat dan pangan, serta kebersihan dapur umum, harus berjalan secara bersamaan agar masyarakat terdampak gempa memperoleh perlindungan kesehatan secara menyeluruh," ujarnya.

Putih juga meminta BPJS Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dinas kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, serta seluruh pemangku kepentingan di lapangan untuk berkoordinasi. Sehingga, korban terdampak gempa dan masyarakat NTT tetap mendapatkan pelayanan kesehatan dengan baik.

Anggota Komisi V DPR Novita Wijayanti menekankan pentingnya kolaborasi antara Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Basarnas, BNPB, TNI, Polri, dan pemerintah daerah dalam menangani bencana di NTT. Dia mengatakan, sinergi lintas lembaga penting untuk mempercepat pemulihan infrastruktur yang terdampak bencana.

“Kita mendorong Kementerian PU, kemudian Basarnas, BNPB, TNI, Polri dan semuanya bisa bersinergi untuk membahas bagaimana percepatan penanganan ini,” ujar Novita.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Perempuan Indonesia Raya (PP PIRA) itu mengatakan, bencana tersebut menyebabkan sejumlah jalan penghubung antardaerah tertutup reruntuhan. Sejumlah rumah warga dan jembatan juga mengalami kerusakan.

Baca juga : Politisi Kebon Sirih Endus Kejanggalan Proyek Padel

Kondisi tersebut membutuhkan penanganan segera dan koordinasi intensif antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, serta kementerian dan lembaga terkait.

“Ini memang memerlukan koordinasi yang sangat intensif dari keseluruhan kementerian, pemerintahan provinsi, pemerintahan kabupaten setempat dan seluruhnya dengan Komisi V sehingga penanganannya bisa terintegrasi dan bisa ditangani dengan cepat,” tegasnya.

Srikandi Fraksi Partai Gerindra itu menegaskan, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya melalui penyaluran bantuan kebutuhan dasar. Perbaikan infrastruktur dan pemulihan tempat tinggal masyarakat juga harus segera dilakukan agar warga dapat kembali beraktivitas dan menjalani kehidupan secara normal.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut sebanyak 188.161 jiwa masih mengungsi akibat gempa bumi di NTT per Minggu (30/8/2026).

“Kami juga memperoleh laporan jumlah pengungsi ada 188.161 jiwa,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan.

Baca juga : Real Madrid Sempurna

Berton menyebut jumlah pengungsi tersebut mengalami penurunan sebanyak 4.142 jiwa yang berasal dari Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai Timur, dan Kabupaten Ngada.

Sementara itu, jumlah korban meninggal dunia tidak mengalami penambahan. Hingga saat ini tercatat 111 orang meninggal dunia akibat gempa tersebut.

Adapun korban luka tercatat sebanyak 1.631 orang. Rinciannya, 223 orang mengalami luka berat dan 1.408 lainnya luka ringan.

Berton juga menyebut hingga Minggu tercatat 9.765 gempa susulan terjadi di wilayah NTT. Gempa susulan terbesar tercatat bermagnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil bermagnitudo 1.

“Gempa-gempa seperti ini kami tetap sampaikan bisa dialami hingga tiga sampai empat minggu setelah gempa pertama terjadi,” tandas Berton. [BSH]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.