Dark/Light Mode

Rayakan Bulan Bung Karno, Pramono Dan Hasto Gowes Bareng Keliling Yogyakarta

Sabtu, 5 Juni 2021 13:34 WIB
Seskab yang juga politisi PDIP Pramono Anung dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto gowes bareng di Yogyakarta merayakan Bulan Bung Karno. (Foto: ist)
Seskab yang juga politisi PDIP Pramono Anung dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto gowes bareng di Yogyakarta merayakan Bulan Bung Karno. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sekretaris Kabinet Pramono Anung Wibowo dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto memiliki cara unik merayakan Bulan Bung Karno. Keduanya memilih gowes bareng di Yogyakarta.

Keduanya di Jalan Sudirman, Kota Yogyakarta, Sabtu (5/6). Mereka mulai gowes pukul 05.30 WIB. 

Sejumlah rekan kerja maupun kolega di PDIP turut serta. Misalnya ada Anggota DPR Deddy Yevri Sitorus dan Paryono. Ikut juga Kepala Sekretariat Yoseph Adhi Prasetyo, Politisi PDIP Pulung Agustanto dan Bane Raja Manalu. Semua peserta memakai jersey bertuliskan Spirit of Bung Karno.

Jalur yang dilalui cukup menantang. Dari Jalan Jenderal Sudirman, iring-iringan bergerak menuju Waduk Sermo. Jaraknya sekitar 39 kilometer dari titik awal. Berhenti di Waduk Sermo, Kulon Progo, Pramono dan Hasto menikmati pemandangan dan berfoto-foto. 

Berita Terkait : Megawati: Patung Bung Karno, Inspirasi Generasi Penerus Bangsa

Setelah beristirahat sejenak, bersepeda dilanjutkan melewati jalur Selokan Mataram. Bagi pesepeda, jalur ini dikenal sebagai Jalur Luna Maya, artis nasional yang beberapa kali bersepeda melewati jalur yang sama. 

Berjalan sejauh 23 kilometer, Pramono dan Hasto cs berhenti di Kopi Klothok Menoreh untuk beristirahat. Tak lama kemudian, mereka melanjutkan gowes. Sempat melewati Bendungan Ancol di Kalibawang, untuk mengarah kembali ke Jalan Sudirman, Kota Yogyakarta.

"Lumayan, ditargetkan 102 kilometer total jaraknya," ujar Hasto.

Hasto mengatakan, Yogyakarta bauran sempurna sebagai kota revolusi, kota kebudayaan, pendidikan, dan pusat pengembangan kebudayaan Jawa. Sehingga sepanjang perjalanan, dirinya dan peserta rombongan bisa melihat langsung bagaimana kota itu mengedepankan nilai-nilai kultural penuh dengan kreativitas dan daya cipta. 

Baca Juga : Ditanya Soal Capres 2024, Sekjen PAN Ngeles Pakai HL Koran RM

"Hidup dalam tradisi kebudayaan ini membuktikan bagaimana Pancasila hidup dalam keseharian masyarakat Yogya. Masyarakatnya sangat toleran dan bergotong royong," kata Hasto. 

Hasto juga menyatakan bahwa keindahan Yogyakarta tersebut sejalan dengan nilai 'memayu hayuning bawana', yang beresensi menjaga keseimbangan jagad raya. Bila lingkungannya tak dijaga dan tercemar, maka rusak pula kehidupan manusianya. Sejalan dengan kondisi Yogyakarta yang selalu indah. 

"Esensinya kira-kira sama dengan bagaimana kita harus menjaga kesehatan tubuh kita lewat asupan gizi yang baik serta ditambahi aktivitas seperti berolahraga. Sehingga tubuh kita pun tetap sehat," kata Hasto. 

Pramono mengatakan memilih bersepeda merayakan bukan Bung Karno. Hal ini juga untuk menjaga kesehatan.

Baca Juga : Saat Pandemi, Bali Paling Siap Gelar Munas Kadin

"Bung Karno mengatakan Men Sana in Corpore Sano, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat," kata Pramono.

Sementara, Pulung mengatakan, Yogyakarta adalah kota yang istimewa. Dari sejarah berdirinya republik, Yogyakarta selalu menjadi bagian penting bagaimana komunitas terbayang rakyat Indonesia berevolusi hingga kini menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Yogya itu istimewa. Sehingga sepedaan di Yogya itu juga terasa sangat istimewa. Apalagi dilakukan saat Bulan Bung Karno. Sehat tubuhnya, sehat jiwanya," kata Mas Pulung, sapaan akrabnya. [DIT]