Dewan Pers

Dark/Light Mode

Peringati HSN, PDIP: Jokowi Satukan Nasionalis Dan Islam

Sabtu, 23 Oktober 2021 00:43 WIB
Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah (Foto: Istimewa)
Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - PDIP ikut memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2021 dengan menggelar dialog hybrid dari di Gedung DPP, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Jumat (22/10). Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah mengatakan, hadirnya Hari Santri di era kepemimpinan Presiden Jokowi memiliki makna tersendiri bagi Banteng. 
 
“Pak Jokowi menunaikan harapan para pendiri bangsa agar antara nasionalisme dan Islam, antara golongan nasionalis dan Islam bersatu padu untuk menjaga mempertahankan republik Indonesia yang kita cintai ini,” kata Wakil Ketua MPR ini, seperti dikutip gesuri.id.
 
Basarah menjelaskan, sejarah Hari Santri berawal dari kampanye Pilpres 2014. Saat itu, tepatnya 27 Juni 2014, ia mengajak Jokowi ke Pesantren Babussalam Malang, Jawa Timur. Di situ, Jokowi bertemu KH Thoriq bin Ziyad. Jokowi lalu ditawarkan kontrak politik membuat peringatan Hari Santri Nasional. 
 
“Pak Jokowi memenuhi permintaan KH Thoriq Bin Ziyad dan para alim ulama yang hadir di pesantren Babussalam itu. Di akhir pidato kampanyenya 27 Juni 2014, Pak Jokowi menyatakan, insya Allah akan menetapkan Hari Santri Nasional. Alhamdulillah, ketika beliau terpilih, di 22 Oktober 2015 beliau kemudian secara resmi mengumumkan mengeluarkan Keppres No 22 Tahun 2015 yang menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional,” cerita Basarah.
 
Sekretaris Bamusi PDIP Perjuangan Nasyirul Falah (Gus Falah) menuturkan, PDIP dan kaum santri sangat dekat. Buktinya, sejumlah kader PDIP yang duduk di jabatan strategis berlatar belakang santri. Demikian juga Bung Karno, di masa perjuangan bahu membahu dengan kaum santri untuk memerdekakan Indonesia. 
 
“Jadi, kalau kita bicara PDI Perjuangan dengan kaum santri, sesungguhnya amat dekat,” ucapnya. [USU]