Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Perseteruan para pendukung tokoh politik tidak hanya terjadi di musim Pilpres dan Pilkada. Dua luar musim itu, mereka masih sering silang pendapat, meski tensinya tak sepanas saat kontestasi politik terjadi. Pendukung tokoh A akan terus mengagung-agungkan idolanya dan menyerang tokoh saingan. Hal yang sama terjadi pada pendukung tokoh B dan seterusnya.
Hal ini sebenarnya bukan fenomena baru. Sejak dulu, para pendukung dalam politik memang sudah terbelah secara ekstrem ke dalam dua kubu: pecinta dan pembenci. Ketika internet menjamur, kedua kubu ini semakin menemukan kanalisasi ekspresinya. Hingga munculkan term lovers dan haters.
Untuk para tokoh, ketika memutuskan masuk dalam dunia politik, harus siap menghadapi ini. Pertarungan dua kubu tersebut akan sangat sengit dan tak kenal waktu. Apalagi di dunia maya. Sikap like and dislike, suka tak suka, akan terlihat jelas dalam kolom komentar media sosial. Bahkan ada juga yang menyiapkan fitur khusus untuk memilih di antara like atau dislike terhadap sosok tertentu.
Baca juga : Dicari, Tokoh Peduli Lingkungan
Tidak sedikit di antara mereka yang sikapnya meradikal. Para lovers mendeklarasi dan menghimpunkan diri ke dalam komunitas fans-based yang fanatis. Apa yang dikatakan atau diunggah idolanya dipuji, didukung, dan tak sedikit ikut-ikutan. Mereka di barisan depan menjadi pembela bahkan melakukan serangan balik bila ada yang nyinyir atau berkomentar negatif kepada idolanya.
Sementara, ada para haters yang memilih untuk menjadi kritikus. Mereka akan menjadi musuh bagi siapa saja yang ditengarai berseberangan atau tidak bersahabat dengan idolanya. Mereka akan berkomplot dengan siapa saja untuk menyerang tokoh yang dibencinya dengan komentar-komentar pedas.
Dalam pilihan para lovers dan haters dalam bersikap bermacam-macam. Ada yang sangat ideologis, emosional, ada juga yang rasional dan pragmatis. Namun, kesemuanya memiliki kesamaan gerakan: membela tokoh idola dan menyerah tokoh lawan.
Baca juga : Waktunya Tunjukkan Kepedulian
Bagi yang sikap dan kesetiaannya berdasarkan ideologis dan emosional, biasanya mereka menjadi ekstrimis, hard-core, dan pendukung fanatik: right or wrong is my idol. Hal ini memang ada baiknya, tapi banyak tidak menguntungkan. Sebab, sering kali mereka tidak bisa objektif dan mengabaikan fakta.
Sementara, bagi yang rasional dan pragmatis, sikap mereka bisa berubah jika sosok idola merugikan dirinya atau kelompoknya. Dia akan gampang berpindah haluan. Lovers pun menjadi haters atau sebaliknya. Namun, kebiasaannya akan tetap sama: suka menyerang.
Fenomena ini jelas tidak sehat. Pandangan mereka menjadi tidak objektif. Sikap menghargai dan menghormati akan luntur. Yang lebih berbahaya, para lovers dan haters tersebut gampang tersulut emosi, dan berpotensi berbuat di luar koridor hukum.
Baca juga : Puasa & Upaya Kurangi Sampah
Untuk itu, fenomena ini harus dihilangkan. Semua tokoh politik harus mau menyadarkan para pendukungnya, mencintai atau membenci berlebihan tidaklah baik. Jangan malah menikmati fenomena ini dan mengambil keuntungan elektoral dari perseteruan lovers dan haters.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.