Dark/Light Mode

Genjot Swasembada Energi

Rabu, 25 Juni 2025 06:48 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Data impor minyak dan gas sungguh bikin geleng-geleng kepala. Sebagai negara yang kaya potensi minyak dan gas, Indonesia justru menjadi pengimpor besar.

Dari 1,6 juta barel kebutuhan minyak setiap hari, kita hanya mampu memproduksi 600 ribu barel. Sebanyak 1 juta barel sisanya harus impor. Untuk gas juga sama. Dari 8 juta ton kebutuhan elpiji per tahun, produksi dalam negerinya hanya 1,6 juta ton. Sisanya impor.

Kondisi ini jelas sangat berbahaya bagi Indonesia. Apalagi, cadangan minyak kita hanya bisa bertahan untuk 21 hari. Jika impor minyak tersendat, kurang dari satu bulan, Indonesia bisa kolaps.

Baca juga : Perang Iran Vs Israel Dan Subsidi BBM

Apalagi, saat ini kondisi Timur Tengah sebagai salah satu eksportir minyak sedang panas dengan adanya perang Iran vs Israel. Selain itu, ancaman Iran menutup Selat Hormuz akan membuat harga minyak melonjak karena pasokannya terhambat.

Ketergantungan terhadap impor ini membuat harga BBM di dalam negeri susah dijinakkan. Harga BBM non-subsidi terus fluktuatif dan tinggi, mengikuti perkembangan harga minyak dunia.

Saat harga minyak dunia melambung, harga BBM subsidi juga bisa ikut terimbas. Dampaknya beban subsidi membengkak. Hal ini berbeda dengan negara-negara yang swasembada minyak. Mereka bisa tenang menentukan harga BBM sendiri tanpa harus terpengaruh perkembangan global.

Baca juga : Rumah Merpati

Menghadapi kondisi ini, Presiden Prabowo Subianto bertekad, dalam tiga tahun pemerintahannya, Indonesia harus mandiri di bidang energi. Mandiri artinya sudah tidak tergantung dengan impor lagi.

Saat ini, produksi minyak kita sedang seret. Rata-rata lifting minyak kita ha nya 600 ribu barel per hari.

Lalu, apakah kita bisa mandiri di bidang energi? Kalau sungguh-sungguh, tentu bisa. Setidaknya ada tiga jurus yang bisa kita gunakan untuk mencapai mandiri energi. Yaitu meningkatkan produksi migas, meningkatkan penggunaan bioenergi, dan mengurangi konsumsi migas. Jika ingin kemandirian energi dicapai dengan cepat, ketiga jurus ini bisa dilaksanakan berbarengan.

Baca juga : Ancaman Perang Dunia III dan Target Ekonomi Tumbuh 8%

Untuk meningkatkan produksi, cadangan minyak kita masih banyak. Sumur-sumur juga banyak. Saat ini, terdapat 301 Wilayah Kerja (WK) migas yang telah melakukan eksplorasi. Di tahun 1977, kita pernah mencapai lifting 1,6 juta barel per hari. Angka tersebut bisa dijadikan acuan untuk kita meningkatkan lifting. Pemerintah pun telah menargetkan, bisa mencapai lifting 1 juta barel per hari pada 2030.

Untuk bioenergi, kita sangat kaya. Indonesia adalah produsen terbesar minyak sawit dunia. Daripada kita meladeni kampanye hitam Uni Eropa terhadap minyak sawit, lebih baik kita optimalkan saja produk tersebut menjadi menjadi bahan bakar.

Jurus terakhir adalah mengurangi konsumsi. Saat ini, minat masyarakat untuk menggunakan kendaraan listrik semakin besar. Tren ini harus dimanfaatkan Pemerintah agar jumlah kendaraan listrik semakin banyak. Caranya, bisa dengan melanjutkan relaksasi pajak dan mendorong para produsen untuk berlomba lomba berinovasi menciptakan kendaraan listrik yang lebih andal.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.