Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Dulu, menjadi orang Indonesia berarti punya cerita. Tentang perjuangan melawan penjajah, tentang gotong royong membangun desa, tentang guru-guru desa yang ikhlas menyalakan obor ilmu. Ada cerita kolektif yang mengikat, menumbuhkan kebanggaan, dan memberi arah.
Sekarang, generasi muda tumbuh dalam kebisingan media sosial—penuh informasi, tapi miskin makna. Mereka tahu tren Korea terbaru, tapi tak tahu apa yang sedang diperjuangkan bangsanya sendiri.
Survei terbaru menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan: rasa nasionalisme generasi muda kian menipis. Mereka merasa lebih terhubung dengan identitas digital—sebagai gamer, content creator, atau followers akun-akun global—ketimbang sebagai warga negara. Bukan karena mereka tidak cinta Indonesia, tapi karena negeri ini gagal memberi cerita yang layak dicintai dan dihayati bersama.
Baca juga : Pendidikan Tanpa Jiwa
Negara terlalu lama sibuk mengelola sistem, tapi lupa merawat imajinasi rakyatnya. Kita tidak sedang krisis hukum atau anggaran—kita sedang krisis narasi.
Tak ada kisah yang menyalakan semangat kebangsaan dengan cara yang relevan, jujur, dan menyentuh. Generasi muda butuh arah, tapi tak menemukan peta. Butuh teladan, tapi disuguhi kontroversi. Butuh harapan, tapi yang datang justru repetisi.
Cerita besar bangsa tak bisa diganti dengan jargon iklan kementerian atau tagar di media sosial. Ia harus hadir dalam kurikulum, dalam film, dalam ruang publik, dalam pidato yang bukan sekadar protokoler, tapi menyentuh jiwa. Kita butuh narasi yang menjelaskan: untuk apa kita bersama sebagai bangsa? Apa yang ingin kita bangun bersama? Dan mengapa penting untuk tetap peduli?
Tanpa cerita bersama, bangsa ini akan menjadi kumpulan individu yang kebetulan tinggal di tanah yang sama. Tidak ada rasa memiliki. Tidak ada rasa bertanggung jawab. Dan akhirnya, tidak ada arah ke mana kita ingin menuju sebagai republik. Bangsa tanpa narasi adalah bangsa yang mudah dibelokkan, mudah diadu, mudah dilupakan oleh generasinya sendiri.
Kita tidak butuh cerita heroik yang dibungkus nostalgia. Kita butuh cerita yang membumi: tentang kejujuran, kesetiaan, keberanian kecil di tengah hidup yang berat. Cerita tentang petani yang tetap menanam meski tanahnya digusur. Tentang guru honorer yang tak menyerah meski gaji tak seberapa. Tentang mahasiswa yang tetap belajar meski harus kerja malam. Ini semua adalah kepingan cerita yang jika dikumpulkan, bisa menjadi fondasi bangsa.
Jika kita ingin menyelamatkan masa depan, kita harus mulai dari menyusun ulang kisah. Sebab, generasi yang kehilangan cerita, adalah generasi yang kehilangan kompas. Dan bangsa yang kehilangan kompas, akan terus bergerak… tapi tak pernah sampai ke mana-mana.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.