Dark/Light Mode

Revolusi Tanpa Senjata

Jumat, 4 Juli 2025 06:14 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Di negeri ini, revolusi tidak harus berdarah. Tapi, ia menuntut sesuatu yang lebih sulit: keberanian untuk membenahi akar ketimpangan. Ketika RAPBN 2026 mulai dibahas dan angka-angka kemiskinan kembali menghiasi media, kita kembali dihadapkan pada pertanyaan mendasar: untuk siapa negara ini dibangun? Jika pembangunan hanya diukur dari angka pertumbuhan, maka rakyat kecil hanya akan terus menjadi angka—tanpa wajah, tanpa suara.

Revolusi sejati lahir ketika negara hadir di rumah rakyat miskin, bukan hanya di forum-forum elite. Ketika dapur menyala, sekolah berdiri, dan rumah sakit bisa diakses tanpa ketakutan akan tagihan. Itulah titik mula perubahan. Bukan dari podium janji, tapi dari empati anggaran.

Baca juga : Politik Tanpa Pelayanan

Belakangan, wacana tentang efisiensi anggaran mulai mengarah ke pemangkasan belanja sosial. Ironis, saat elite sibuk membeli kendaraan dinas baru, warga masih antre bantuan pangan di ujung gang sempit. Di banyak desa, rakyat tak butuh seminar, mereka butuh air bersih. Tak perlu pelatihan, mereka hanya ingin anaknya bisa makan tiga kali sehari. Jika ini belum jadi prioritas, maka apa arti pembangunan?

Politik pembangunan tanpa keadilan sosial adalah kebohongan yang dilegalkan. Kita perlu menggeser orientasi dari ‘bangunan negara’ ke ‘jiwa negara’. Karena negara tak akan runtuh oleh teror, tapi bisa rapuh oleh pengkhianatan terhadap rakyat sendiri. Ketika yang kecil tak dipeluk, dan yang lemah tak disapa, maka tak ada fondasi moral dari pembangunan apa pun yang sedang dibanggakan.

Baca juga : Pejabat Harus Siap Dihujat

Kesejahteraan bukan sekadar kebijakan, tapi keputusan moral. Negara harus punya keberanian untuk mengutamakan yang rentan, bukan yang dekat. Masyarakat yang terus dicekik oleh biaya hidup dan diabaikan oleh sistem, hanya menunggu waktu untuk meledak—bukan dalam aksi anarkis, tapi dalam bentuk apatis dan hilangnya kepercayaan. Dan ketika kepercayaan publik ambruk, kekuasaan tak akan bertahan oleh retorika.

Kita tidak sedang kekurangan program. Kita kekurangan arah dan nurani. Karena itu, anggaran sosial bukan sisa, tapi semestinya menjadi awal. Negara tidak cukup sekadar hadir; ia harus merangkul. Dan pembangunan bukan soal siapa yang membangun lebih megah, tapi siapa yang tidak membiarkan satu pun warganya jatuh ke jurang tanpa tali penyelamat.

Baca juga : Genjot Swasembada Energi

Revolusi tidak harus meletus di jalanan. Ia bisa dimulai dari meja anggaran. Dari pilihan untuk lebih mendengarkan rakyat ketimbang pemilik modal. Dari kemauan untuk menjadikan APBN sebagai naskah cinta untuk bangsa, bukan sekadar spreadsheet kekuasaan. Jika itu bisa kita mulai hari ini, kita tak butuh senjata—cukup empati dan keberanian untuk berpihak.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.