Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Pidato Presiden Prabowo di Sidang Umum PBB nanti malam, bukan sekadar pengumuman “Indonesia sudah kembali!”. Pidato tersebut juga menjadi penanda arah politik luar negeri Indonesia ke depan.
Indonesia tidak hanya ingin didengar. Tapi juga dihargai. Diperhitungkan. Banyak target yang ingin dicapai dalam kesempatan langka berbicara di depan para delegasi dan pemimpin dunia tersebut. Salah satunya: mengubah tatanan dunia. Termasuk masalah Palestina.
Terdengar berat, futuristik dan penuh tantangan, namun itulah yang perlu diperjuangkan di Markas Besar PBB, New York, Selasa, 23 September 2025, pukul 09.00 waktu setempat atau pukul 20.00 WIB.
Baca juga : Kepercayaan Yang Ternoda
Gedung bersejarah itu akan menjadi saksi “gebrakan” tersebut. Apalagi Indonesia sudah sepuluh tahun absen. Selama ini, Indonesia seolah mengambil jeda untuk merenung. Sekarang, Indonesia kembali.
Dalam dunia yang semakin multipolar ini, sebagai negara besar, Indonesia ha rus mampu memanfaatkan posisi strategisnya.
Kita berharap, pidato Presiden Prabowo mampu menggugah hati dunia dengan pesan yang jelas dan tegas. Pesan yang akan mendorong kerjasama internasional yang lebih adil, setara, transparan, serta berbasis pada kepentingan global bersama. Bukan kepentingan satu atau dua negara.
Baca juga : “Api” Kecil, Dampak Besar
Diplomasi bebas aktif yang selama ini dianut, memang terdengar klasik dan klise. Namun, Indonesia memang tidak perlu terjebak dalam pertarungan dua atau tiga kekuatan besar yang sekarang berebut pengaruh. Indonesia bebas. Juga aktif.
Di sinilah pentingnya Indonesia menjadi jembatan antara negaranegara besar dan negaranegara berkembang. Indonesia bisa memberikan solusi mulai dari perubahan iklim sampai krisis kemanusiaan yang sekarang terjadi di Palestina.
Dengan mengusung semangat keseta raan, kebersamaan, dan perdamaian, kita berharap nama Indonesia kembali ke tempat yang seharusnya di mata dunia.
Baca juga : “Ganti Wajah, Ganti Nasib?”
Berbicara mengenai pidato di Sidang Umum PBB, Pidato Presiden Soekarno di tahun 1960, masih menjadi ikon. Selalu dikenang dan dihargai. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia.
Pidato yang sangat kuat mengenai perjuangan negara-negara berkembang, kemerdekaan, dan penentangan terha dap imperialisme dan kolonialisme tersebut, telah mengilhami banyak negara. Pidato ini menjadi benih lahirnya Gerakan NonBlok, setahun kemudian.
23 September 2025, Indonesia kembali ke Sidang Umum PBB. Kehadiran Indonesia bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi membangun masa depan bersama dunia. Untuk dunia yang lebih baik. Juga untuk Indonesia. Dan, tentu saja, rakyatnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.