Dark/Light Mode

Mencari “Orang-orang Nekat”

Minggu, 19 Juli 2026 06:10 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Memberantas korupsi bisa dimulai dari satu langkah taktis: memilih pemimpin yang tepat. Presiden Prabowo yang sudah sangat gerah dengan korupsi, memerlukan figur pemimpin dengan kriteria yang tidak biasa. Di semua instansi dan lembaga.

Memilih orang baik saja tidak cukup. Mereka harus memiliki kombinasi sifat berani, out of the box, taktis, dan “nekat”.

Pemimpin “nekat” adalah seorang eksekutor. Dia harus datang dengan gagah, tanpa beban utang budi di instansi tersebut. Utang budi macam-macam.

Mengapa ini mendesak? Karena yang dihadapi bukan lagi kelas amatir. Oknumnya sudah berurat berakar. Sangat paham “jalan tikus” birokrasi. Dalam beberapa kesempatan, Presiden Prabowo menyebut kelompok ini sebagai deep state.

Baca juga : Empat Penanda “Bersih-bersih”

Menaruh orang baik yang penakut ke dalam sarang ini adalah kesalahan fatal. Mereka akan dijinakkan dalam waktu tiga bulan. Mereka akan ikut arus atau disingkirkan secara perlahan.

Karena itu, Indonesia butuh figur yang siap dan mampu melakukan “bersih-bersih”. Pekan pertama menjabat, dia harus langsung bisa memetakan dan memotong apa yang selama ini menjadi penghambat.

Sejarah kita sebenarnya pernah memiliki prototipe pemimpin nekat ini. Kita punya Baharuddin Lopa yang tidak memiliki rasa takut. Tanpa kompromi. Kita juga mengenal Jenderal Hoegeng. Dia menolak fasilitas mewah dan berani mengarahkan moncong hukum kepada siapa pun.

Yang terbaru, ada Ignasius Jonan. Sebagai orang luar, dia melakukan tindakan radikal di PT KAI dengan merombak sistem. Dia antara lain memilih bawahannya berdasarkan jejak kerja nyata. Meritokrasi murni. Tanpa melihat ijazah formal.

Baca juga : Terpesona “Rompi”

Jonan misalnya mengangkat seorang pegawai yang hanya tamatan SMA dan mengawali karier sebagai tukang parkir kereta, yang akhirnya sukses menduduki posisi Direktur Operasi KAI.

Perjuangan para pemimpin nekat sangat menantang. Nyerempet-nyerempet. Karena itu, di titik kritis, sang pemimpin nekat tidak bisa hanya bersandar pada perlindungan politik elite tingkat tinggi.

Dia juga butuh tameng yang lebih kuat: perlindungan langsung dari rakyat. Syaratnya, kerja dan hasil kerjanya nyata. Pembelaan dan dukungan akan datang kalau rakyat bisa merasakan dampak positifnya.

Saat ini, Indonesia sedang dikejar waktu. Ada di persimpangan jalan. Bisa melaju kencang, jalan di tempat, atau justru mundur. Korupsinya sudah gawat darurat. Sangat parah. Skor Corruption Perceptions Index (CPI) Indonesia masih terpuruk di papan bawah global. Indeks ini menjadi salah satu pertimbangan para investor.

Baca juga : Yang Sial Dan Beruntung

Genderang perang sudah ditabuh oleh Presiden. Kini, mata publik tertuju pada meja kerja Istana. Kita semua menunggu: kapankah orang-orang itu, para “pemimpin nekat” akan diterjunkan ke medan laga?

Melihat semangat tinggi saat ini, kita yakin itu akan segera terjadi. Kita tunggu saja.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 19 Juli 2026 dengan judul "Mencari “Orang-orang Nekat”"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.