Dewan Pers

Dark/Light Mode

Menpora Apresiasi UICI Jadi Kampus Digital Pertama di Indonesia

Kamis, 22 September 2022 06:39 WIB
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali. (Foto : Ist)
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali. (Foto : Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali mengapresiasi kehadiran UICI karena menjadi perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menjadi kampus digital

Hal itu disampaikan Menpora pada diskusi bertema "Membangun Mental Konsistensi dan Produktivitas Generasi Milenial" kepada mahasiswa Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) secara virtual, Rabu (21/9) siang.

“Saya menyambut baik, saya apresiasi atas prakarsa dari kegiatan ini kepada panitia luar biasa, anda sudah menyiapkan satu kegiatan yang dulunya mungkin tidak pernah dilakukan. Dan suasana sekarang kita bisa hadir secara live, secara digital dan saya kira ini adalah kampus yang pertama yang mempelopori bagaimana menjadi kampusnya digital,” ujar Menpora Amali.

Menurut Menpora Amali, hal tersebut sudah seharusnya dilakukan, terlebih tuntutan ke depan yang membuat semua orang tidak bisa menghindar dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Berita Terkait : Dekranas Dorong Produk Kerajinan Indonesia Mendunia

“Ini memang tuntutan ke depan, kita tidak bisa lagi lari atau menghindar dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, bagaimana membangun mental, konsisten dan produktivitas generasi milenial,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini pula, Menpora Amali mengingatkan mahasiswa dan pemuda Indonesia agar bisa memanfaatkan bonus demografi. Pasalnya, Indonesia menjadi salah satu negara yang mengalami bonus demografi dimana usia-usia pemuda atau usia produktif lebih banyak.


Dia berharap, bonus demografoi tersebut dapat mendapat manfaat buat bangsa Indonesia bukan malah menjadi mudharat. Pasalnya, ada banyak contoh negara-negara yang berhasil dalam manfaatkan bonus demografi. Tetapi ada juga contoh negara yang gagal memanfaatkan bonus demografi.

“Kalau kita bisa memanfaatkan bonus demografi, maka itu akan bermanfaat buat bangsa dan negara ini. Tetapi kalau kita tidak bisa manfaatkan itu, maka bonus demografinya akan menjadi mudharat buat negara kita dan sudah ada contoh-contoh negara yang tidak bisa mermanfaatkan itu,” jelasnya.

Berita Terkait : Menghadap Jokowi, Menpora-FPTI Jelaskan Kejuaraan Dunia Panjat Tebing Di Indonesia

Adapun contoh negara yang berhasil mengelola bonus demografi antara lain Jepang dan Korea. Sementara negara yang gagal memanfaatkan bonus demografi seperti Afrika Selatan dan Brazil.

Oleh karenannya, menurut Menpora Amali peran perguruan tinggi dan institusi pendidikan sangat penting dalam agar bonus demografi ini bisa dimanfaatkan.

“Kalau kita lihat bahwa bonus demografi ini harus dikelola dengan baik, maka di situ peran perguruan tinggi sangat menentukan. Karena mereka yang produktif itu rata-rata berada di sekolah-sekolah atau di perguruan tinggi. Kalau tidak, seperti yang saya sampaikan tadi yang akan menjadi mudharat,” tukasnya.


Dikatakannya, negara-negara yang berhasil meanfaatkan bonus demografi mereka sudah menikmati hasilnya antara lain meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB), meningkatkan pendapatan perkapita, tingkat pendidikannya tinggi dan juga tingkat kesehatan masyarakatnya tinggi.

Berita Terkait : Ketum IMI Dukung Jambore Nasional Peugeot Indonesia

“Karena memang pemerintah berkonsentrasi mengalokasikan sumber dayanya untuk mengelola bonus demografi terutama juga memberi dukungan yang luar biasa kepada sekolah-sekolah, kepada perguruan tinggi, sehingga mahasiswa, lulusan perguruan tinggi dia menjadi produktif. Karena benar-benar apa yang ada sesuai dengan kebutuhan dengan pasar, tenaga kerja sesuai dengan dunia industri dan lain sebagainya dan kesehatan dari masyarakat itu juga menjadi lebih baik,” paparnya.

Sementara itu, negara yang gagal memanfatkan bonus demografi maka hasil yang didapatkan sebaliknya, dimana tingkat kesehatan di negara tersebut tidak baik, pendidikannya tidak terlalu baik dan alokasi dari sumber daya yang ada lebih banyak disalurkan untuk social safety net atau bantuan untuk masyarakat miskin.

“Sehingga alokasi untuk pendidikan atau lokasi untuk kesehatan itu menjadi berkurang,” ujarnya.