Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Ducati disebut-sebut tengah menghadapi perang batin yang getir. Di saat Marc Marquez mendominasi musim ini, rekan setimnya Francesco “Pecco” Bagnaia makin tersisih.
Perang dingin di dalam satu garasi ini mempertaruhkan loyalitas tim. Pengamat MotoGP sekaligus mantan manajer pembalap, Carlo Pernat menilai keputusan Ducati merekrut Marc Marquez bukan strategi balap, melainkan hanya menimbulkan luka emosional bagi Bagnaia.
Pernat menyatakan bahwa langkah Gigi Dall’Igna, Bos Teknis Ducati melukai Bagnaia, terasa seperti pengingkaran atas jasa pembalap yang telah dua kali juara dunia bersama tim itu.
Baca juga : Mau Kunci Gelar Juara, Baby Alien Belum Ada Lawan
Ia bahkan menyebut keputusan merekrut Marquez merupakan wujud ketidaksetiaan pada brand Ducati yang selalu mengembangkan talenta internal.
Seperti perjalanan Bagnaia dari tim satelit hingga jadi juara. Bagnaia, yang sejak debut MotoGP pada 2019 telah setia bersama Ducati dan menjadi juara dunia pada 2022–2023, kini menghadapi tekanan baru: keberadaan Marquez di garasi.
“Langkah Gigi Dall’Igna mengambil Marc Marquez adalah pilihan yang melukai Pecco Bagnaia. Dengan kata lain hal itu membuat mereka (Ducati, red) tidak menghargainya,” sebut dilansir Motosan.
Baca juga : Robi Darwis Janji Tampil Apik Lawan Malaysia
Situasi ini memicu kekhawatiran. Marquez terus menorehkan rekor gemilang dengan delapan kemenangan dari 12 seri awal, serta memimpin klasemen dengan selisih besar.
Sementara performa Bagnaia justru menurun dan sulit adaptasi dengan Ducati Desmosedici GP25. Dominasi Marquez memang nyata: dengan total 381 poin di klasemen sementara, ia unggul 120 poin atas sang adik sekaligus pesaing terdekat, Alex Marquez.
Melihat selisih poin tersebut, Alex Marquez bahkan tidak lagi memasang target gelar juara dunia, melainkan hanya ingin finish sebagai runner-up. “Saya pikir 120 poin itu mustahil, tapi target saya tetap P2,” ujarnya dengan jujur.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya