Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Tampil tanpa gairah, para pemain Juventus disiuli publik Turin. Dengan anggaran terbatas, Lazio mampu bertahan di puncak klasemen Liga Italia.
Elang Ibu Kota menerkam Si Nyonya Tua di kandangnya sendiri. Lazio tampil perkasa dengan melumat Juventus 3-0 di Allianz Stadium. Kemenangan ini mengantar Biancocelesti menyamai perolehan poin Inter Milan di puncak klasemen Serie A.
Oliver Provstgaard, Gustav Isaksen, dan Fisayo Dele-Bashiru menjadi mimpi buruk Juventus. Tiga gol tanpa balas membuat pendukung tuan rumah kecewa dan melontarkan siulan keras kepada tim kesayangannya.
Bagi Lazio, kemenangan ini menjadi bukti keberhasilan racikan Gennaro Gattuso. Sebaliknya, Luciano Spalletti harus menerima kenyataan bahwa Juventus tampil jauh di bawah ekspektasi.
“Ini adalah hasil kerja para pemain. Kami bekerja keras selama sepekan, dan sekarang sudah terbentuk sebuah keluarga yang solid,” ujar Gattuso.
Baca juga : Bertahan Dua Dekade, Rekor Susy Akhirnya Pecah...
Pelatih berusia 48 tahun itu juga mengapresiasi klub yang mampu membangun skuad dengan anggaran transfer terbatas. Baginya, kekompakan tim menjadi modal penting untuk bersaing dengan klub-klub besar Serie A.
Gattuso menilai Lazio telah menunjukkan perkembangan mental, terutama ketika harus bertahan menghadapi tekanan lawan.
“Saya ingin tim terus bermain dengan keberanian. Kami harus mengikuti gaya permainan sendiri tanpa setengah-setengah,” tegasnya.
Meski sedang menikmati posisi di papan atas, Gattuso mengingatkan anak asuhnya agar tidak terlena. Setelah kemenangan besar atas Juventus, fokus Lazio langsung diarahkan ke pertandingan berikutnya melawan Parma.
Di kubu seberang, Spalletti tak berusaha menutupi kekecewaannya. Pelatih Juventus itu menilai timnya gagal menunjukkan kualitas permainan. “Juventus tampil inferior. Kami tidak mampu menguasai jalannya permainan dan tidak punya ide tentang ke mana pertandingan harus diarahkan. Sulit menjelaskan hasil seperti ini,” kata Spalletti.
Baca juga : Sekjen PBB Terpukau Bhinneka Tunggal Ika
Ia juga menyoroti kondisi fisik dan mental para pemain. Menurutnya, Juventus terlihat lambat dalam mengambil keputusan maupun merespons situasi di lapangan.
Spalletti menjelaskan, timnya tidak menjalani latihan penuh setelah kembali dari pertandingan sebelumnya. Namun, ia tidak menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk membenarkan kekalahan telak.
“Ada banyak hal yang harus dianalisis. Yang terpenting adalah memperlihatkan reaksi. Masa depan kami tidak ditentukan oleh keberuntungan, melainkan oleh kemauan kami sendiri,” terangnya.
Spalletti juga mengakui perlu mengevaluasi hubungannya dengan para pemain. Ia ingin memastikan komunikasi dan kebersamaan di ruang ganti tetap berjalan, terutama ketika tim menghadapi periode sulit.
Lazio membuka skor pada menit ke-37 melalui sundulan Provstgaard setelah menerima umpan Mattia Zaccagni dari situasi sepak pojok. Juventus mencoba bangkit selepas turun minum, tetapi peluang Nick Woltemade pada menit ke-55 gagal menghasilkan gol.
Baca juga : Acha Septriasa, Nikah Nggak Cukup Cuma Modal Cinta
Alih-alih menyamakan kedudukan, Juventus justru kembali kebobolan. Isaksen menggandakan keunggulan Lazio pada menit ke-66 melalui tembakan kaki kiri setelah menerima umpan Nuno Tavares.
Penderitaan tuan rumah ditutup Dele-Bashiru pada menit ke-89. Ia melakukan penetrasi dalam serangan balik sebelum menuntaskannya dengan tembakan mendatar.
Skor 0-3 bertahan hingga peluit panjang. Lazio pun membawa pulang tiga poin penting dan mengoleksi 19 poin dari tujuh pertandingan, sama dengan Inter Milan. Sementara itu, Juventus tertahan di peringkat kedelapan dan terpaut delapan poin dari dua tim teratas. [GO]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya