Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Terjadi di Prancis, Italia, Belgia & Portugal: Demo Berujung Ricuh Akibat Biaya Hidup Tinggi
Senin, 19 Oktober 2026 08:02 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Demonstrasi besar-besaran berujung ricuh terjadi di Prancis, Italia, Belgia, dan Portugal. Massa memprotes kenaikan harga dan biaya hidup yang semakin tinggi. Di Prancis, gedung dibakar, toko-toko dijarah, dan ribuan orang ditangkap.
Demonstrasi di Prancis diawali protes pelajar sekolah menengah (lycées) yang mengkritik kekurangan guru dan buruknya kondisi bangunan sekolah. Pemerintah Prancis telah berupaya merespons keluhan para pelajar tersebut. Saat diwawancarai sebuah stasiun televisi pada 8 Oktober 2026, Menteri Pendidikan Prancis Édouard Geffray menjanjikan penambahan 3.000 guru pengganti.
Namun, janji itu belum meredam gelombang protes. Aksi para pelajar ini, kemudian didukung kelompok serikat pekerja dan aktivis gerakan Rompi Kuning (Gilets Jaunes). Isunya melebar. Mereka memprotes lonjakan harga pangan, energi, inflasi, serta kebijakan ekonomi Presiden Emmanuel Macron.
Aksi besar pun terjadi di sejumlah kota di Prancis Sabtu (17/10/2026). Diperkirakan 550.000 hingga 800.000 orang turun ke jalan di berbagai kota besar. Demo yang awalnya berjalan damai berubah menjadi kerusuhan saat pihak keamanan mulai membubarkan massa dengan paksa.
Di Paris, ibu kota Prancis, jalanan penuh kepulan asap gas air mata. Massa yang marah kemudian membabi buta, merusak dan menjarah butik mewah, supermarket, toko ponsel, serta membakar kendaraan dan fasilitas umum.
Baca juga : Padamkan Karhutla, Negara Lain Yang Mau Bantu, Silakan Datang
"Seluruh ruas jalan di Paris telah hancur lebur," ujar Wakil Wali Kota Paris Emmanuel Gregoire, seperti dikutip BBC, Sabtu (17/10/2026).
Balai kota bersejarah Hôtel de Ville de Limoges di Limoges tak luput dari amukan massa. Bangunan bergaya Neo-Renaissance yang sudah berusia 140 tahun ini terbakar sebagian. Menara loncengnya runtuh.
Kantor Wali Kota di Marseille dan Lille turut dibobol massa. Di dua kota ini, toko mewah seperti Hermes dan supermarket dijarah.
"Macron, mundur! Para politisi berbohong, kelompok ultra-kaya terus menumpuk kekayaan 10 tahun terakhir. Ini adalah revolusi, kita sedang merebut Bastille!" pekik pengunjuk rasa di Marseille saat menerobos masuk ke Kantor Wali Kota.
Kericuhan juga meluas ke Toulon, Caen, Grenoble, Avignon, Pau, Montpellier, Valence, Strasbourg, Rennes, Toulouse, Angers, Nice. Di kota-kota ini, fasilitas publik, pertokoan, kantor polisi, tak luput dari vandalisme dan amuk massa.
Baca juga : Setelah Ini, Siapa Lagi?
Dilaporkan, sebanyak 1.200 orang ditangkap aparat keamanan. Ratusan massa aksi dan polisi mengalami luka-luka dalam bentrokan.
Presiden Emmanuel Macron menegaskan, pelaku perusakan dan penjarahan akan menghadapi proses hukum. "Mereka yang telah melanggar, menyerang prefektur serta bisnis, menjarah bahkan balai kota kami, akan dituntut dan dihukum," kata Macron, seperti dikutip AFP, Minggu (18/10/2026).
Di Italia, aksi besar terjadi di Milan dan Bologna. Para pengunjuk rasa bentrok dengan polisi, menjarah toko, dan membakar properti di pusat kota. Polisi menggunakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan massa. Kantor berita Italia LaPresse melaporkan, dua polisi terluka dan sekitar 50 demonstran, banyak di antaranya masih di bawah umur, ditahan.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni kerusuhan tersebut. “Berdemonstrasi adalah hak. Membakar kota-kota kita bukanlah hak,” tulis Meloni, dalam media sosial X.
Di Bologna, polisi melaporkan adanya demonstran yang melemparkan batu dan terlibat bentrokan dengan petugas. Beruntung, aksi di sana berlangsung damai.
Baca juga : Buntut IHSG Anjlok, Polri Usut Permainan Di Pasar Modal
Di Belgia, aksi berlangsung setelah mahasiswa menggelar protes selama beberapa pekan terkait biaya pendaftaran universitas. Di Brussels, ibu kota Belgia, polisi menembakkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan demonstrasi. Polisi menyebut demonstran melemparkan benda ke arah petugas dan membakar bangunan. Di Liège, kota di sebelah timur Brussels, polisi juga menggunakan meriam air untuk membubarkan massa.
Di Portugal, aksi unjuk rasa terjadi di Lisbon. Puluhan ribu orang turun ke jalan untuk memprotes krisis biaya hidup, upah rendah, dan sulitnya mengakses perumahan di kota-kota besar. Harga rumah di Portugal dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2017. Harga sewa untuk rumah baru juga mengalami kenaikan tajam.
Menteri Urusan Parlemen Portugal Carlos Abreu Amorim mengatakan, pemerintah tidak akan menyerah pada teriakan dari jalanan. Sebaliknya, para demonstran menilai, para pemimpin politik tidak memahami persoalan yang mereka hadapi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya