Dark/Light Mode

RSCM Catat Sejarah, Berhasil Implantasi Alat Bantu Jantung Buatan Terkecil di Indonesia

Rabu, 5 Agustus 2026 17:18 WIB
RIZKI SYAHPUTRA / RM
Dari kiri, Senior Manajer Koordinasi Pelayanan Medik RSCM Dr. dr. M. Arza Putra, Sp.BTKV., Subsp.JD(K), Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI dr. Azhar Jaya, S.H., S.K.M., M.A.R.S., Direktur Utama RSCM Dr. dr. Supriyanto, Sp.B., FINACS., M.Kes., Founder & Chairman Borderless Healthcare Group (BHG) sekaligus Founder HeartSpan.ai Dr. Wei Siang Yu, dan Kepala Departemen Kardiovaskular RSCM Dr. dr. Birry Karim, Sp.PD., Subsp.KV(K), berfoto bersama usai memberikan keterangan pers mengenai keberhasilan implantasi perdana Left Ventricular Assist Device (LVAD) terkecil dan teringan di dunia di RSCM, Jakarta, Rabu (5/8/2026). Keberhasilan tersebut menjadi tonggak penting dalam layanan kardiovaskular di Indonesia. LVAD, alat bantu pompa jantung mekanis, berhasil diimplantasikan pada pasien perempuan berusia 45 tahun yang menderita gagal jantung stadium lanjut dengan fraksi ejeksi ventrikel kiri hanya 14 persen. Tindakan ini menandai kemajuan teknologi medis sekaligus memperkuat kapasitas tenaga kesehatan nasional dalam menangani kasus gagal jantung kompleks.
Dari kiri, Senior Manajer Koordinasi Pelayanan Medik RSCM Dr. dr. M. Arza Putra, Sp.BTKV., Subsp.JD(K), Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI dr. Azhar Jaya, S.H., S.K.M., M.A.R.S., Direktur Utama RSCM Dr. dr. Supriyanto, Sp.B., FINACS., M.Kes., Founder & Chairman Borderless Healthcare Group (BHG) sekaligus Founder HeartSpan.ai Dr. Wei Siang Yu, dan Kepala Departemen Kardiovaskular RSCM Dr. dr. Birry Karim, Sp.PD., Subsp.KV(K), berfoto bersama usai memberikan keterangan pers mengenai keberhasilan implantasi perdana Left Ventricular Assist Device (LVAD) terkecil dan teringan di dunia di RSCM, Jakarta, Rabu (5/8/2026). Keberhasilan tersebut menjadi tonggak penting dalam layanan kardiovaskular di Indonesia. LVAD, alat bantu pompa jantung mekanis, berhasil diimplantasikan pada pasien perempuan berusia 45 tahun yang menderita gagal jantung stadium lanjut dengan fraksi ejeksi ventrikel kiri hanya 14 persen. Tindakan ini menandai kemajuan teknologi medis sekaligus memperkuat kapasitas tenaga kesehatan nasional dalam menangani kasus gagal jantung kompleks.