Sebelumnya
Dari pandangan Anda, seperti apa jaringan terorisme merekrut anggotanya melalui game online dan TikTok?
Mereka masuk sebagai sesama pemain, memulai interaksi melalui bantuan teknis, kerja sama tim, atau sekadar percakapan ringan. Dari hubungan yang tampak biasa ini, komunikasi kemudian diarahkan ke topik-topik yang lebih ideologis. Ketika anak merasa nyaman dan mulai mempercayai lawan bicaranya, proses grooming pun dimulai secara bertahap. Melalui normalisasi narasi radikal, penyampaian konten propaganda ringan, hingga pada akhirnya mengarah pada doktrin yang lebih dalam di ruang tertutup.
Kalau melalui TikTok?
Baca juga : TB Hasanuddin: Semua Platform IT Jadi Pintu Paham Negatif
Metode memetik melalui platform seperti TikTok menunjukkan strategi yang jauh lebih canggih. Pola ini bekerja dengan memanfaatkan algoritma rekomendasi yang sensitif terhadap interaksi pengguna, terutama yang menunjukkan minat terhadap simbol tertentu. Dengan menyebarkan simbol atau isyarat yang hanya dipahami oleh orang-orang dengan kesamaan pandangan. Setelah itu, jaringan teror dapat memetakan calon target tanpa harus melakukan interaksi langsung yang berisiko.
Tahap selanjutnya hingga anak bisa terdoktrin?
Anak atau remaja yang berinteraksi dengan konten tersebut kemudian diarahkan ke ruang komunikasi yang lebih personal, biasanya Telegram atau WhatsApp, yang dikenal memiliki enkripsi kuat dan kontrol keanggotaan yang ketat. Di ruang tertutup inilah proses doktrin dan normalisasi perilaku radikal dilakukan secara sistematis. Sehingga anak tidak menyadari bahwa dirinya sedang diarahkan untuk menerima tindak kekerasan sebagai sesuatu yang wajar.
Baca juga : Tangani Bencana, Kapolri Kerahkan Kekuatan Penuh
Apakah ini terjadi di seluruh wilayah Indonesia?
Temuan bahwa 110 anak dari 23 provinsi telah terekrut memperlihatkan bahwa proses radikalisasi digital bukan kejadian sporadis, tetapi sebuah operasi terstruktur yang memanfaatkan kelengahan ekosistem digital nasional. Rentangnya yang luas, mulai dari Sumatera Barat hingga Jawa Tengah, menunjukkan bahwa internet menghilangkan batas geografis dan mempermudah penyebaran pengaruh ideologis tanpa harus menghadirkan aktor secara fisik. NNM
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 2, edisi Selasa, 2 Desember 2025 dengan judul "Direkrut Via Game Online Dan Medsos, BNPT: 110 Anak Terpapar Terorisme, Pratama Persadha: Pengawasan Aktivitas Digital Anak Minim"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.