RM.id Rakyat Merdeka - Praktisi pendidikan yang juga Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Itje Chodijah, menilai bahwa dalam 10 tahun terakhir, transformasi pendidikan di Indonesia sudah berada di jalur yang tepat. Ia yakin, pola pendidikan yang berjalan di Indonesia dapat membentuk sumber daya manusia (SDM) unggul dan berdaya saing yang mampu beradaptasi dengan kehidupan di masa depan.
"Transformasi pendidikan yang berjalan saat ini tentunya tidak bisa dibilang sempurna 100 persen. Tetapi, berbagai perbaikan pada sistem pendidikan di Indonesia sudah menunjukkan kemajuan signifikan di sisi pengajar maupun siswa," kata Itje, kepada Rakyat Merdeka.
Ia menjelaskan, dari sisi pengajar, berbagai program yang digulirkan Kementerian Pendidikan, khususnya dalam lima tahun terakhir melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM) sukses meningkatkan kompetensi pengajar di Indonesia.
Baca juga : Surya Paloh Ikhlas Tak Masuk Kabinet
Dia melanjutkan, teknologi dalam pendidikan yang dibangun pemerintah memungkinkan kepala sekolah hingga pengajar menggunakan waktunya dengan baik. Metode yang diterapkan dalam PMM juga membuat pengajar lebih banyak berinteraksi dan berdiskusi di luar ruang kelas, serta menggunakan data untuk pengambilan keputusan-keputusan strategis.
"Pola mendidik yang berkelanjutan juga membuat siswa memiliki bekal yang cukup menghadapi tantangan di masanya dan juga di masa depan. Siswa juga memiliki bekal yang cukup untuk bersaing di dunia kerja nantinya,” ujar Itje.
Ia juga menjelaskan, media pembelajaran seperti Platform Merdeka Mengajar banyak mendapat pujian dari dunia internasional. Sebagai negara berkembang, Indonesia merupakan pelopor yang menciptakan platform belajar guru untuk seluruh pendidik bangsa. Oleh karena itu, banyak negara di dunia yang ingin belajar dari pengalaman pendidikan di Indonesia.
Baca juga : BRIN Promosikan Sorgum sebagai Solusi Pangan Masa Depan
"Ini menjadi kebanggaan bagi dunia pendidikan Indonesia dan menjadi salah satu sukses Pemerintah melakukan transformasi pendidikan. Namun semua ini tentunya berkat kerja keras dan gotong royong yang dilakukan Pemerintah dan stakeholder dalam memperbaiki kualitas ekosistem pendidikan di negara kita," pungkas Itje.
Program ini pun memudahkan para lulusan sekolah untuk mendapatkan pekerjaan. Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilakukan BPS, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang bekerja dalam satu tahun setelah kelulusan juga meningkat. Dari 32,1 persen pada 2021 menjadi 38,4 persen pada 2023.
“Kenaikan kebekerjaan setelah satu tahun kelulusan juga dialami lulusan diploma dari kampus vokasi yang menunjukkan angka 50,2 persen pada tahun 2021, menjadi 58,6 persen pada tahun 2023," kata Sekjen Kementerian Pendidikan Suharti.
Baca juga : Guardiola Sebut Messi Pemain Terbaik Sepanjang Masa
Ia melanjutkan, untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang link and match dengan kebutuhan dunia kerja, Kementerian Pendidikan terus memberikan dukungan dan keleluasan kepada sekolah dan perguruan tinggi dalam mengembangkan kurikulum agar terus relevan, termasuk bersama industri.
“Link and match dilakukan dari hulu ke hilir secara bersamaan. Bahkan, kami juga mengundang guru-guru tamu dari industri untuk mengajar di sekolah dan perguruan tinggi untuk memberikan pengetahuan serta pengalamannya kepada peserta didik,” terangnya. NOV/DWI
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.