Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Putu Rudana: Dunia Pendidikan Perlu Kembali ke Ajaran Ki Hajar Dewantara
Kamis, 3 Oktober 2024 12:55 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI), Putu Supadma Rudana, menilai dunia pendidikan Indonesia harus kembali gagasan besar Ki Hajar Dewantara. Menurut dia, gagasan besar Ki Hajar Dewantara, yang telah membangun Tamansiswa pada 3 Juli 1922, adalah satu institusi atau lembaga pendidikan yang secara komprehensif memberikan pendidikan berkebudayaan secara holistik kepada anak-anak atau masyarakat.
Hal itu disampaikan Putu Rudana sebagai Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR periode 2019-2024, dalam Studium Generale dengan tema ‘Bedah Budaya Nusantara’, di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta, Sabtu (28/9/2024).
“Afirmasinya jelas, tidak boleh ada kasta di dunia pendidikan, semua harus sama mendapatkan hak. Saya sebut di sini, pendidikan adalah hak asasi manusia yang harus dipenuhi oleh negara. Pendidikan tidak hanya mengejar semata angka-angka, tapi mampu membangun jiwa komprehensif yang luar biasa,” ujar Putu, melalui keterangannya, Kamis (3/10/2024).
Kata Putu, para founding father, salah satunya Ki Hajar Dewantara, memiliki pemikiran yang sangat visioner guna mencerdaskan kehidupan bangsa. Bukan cerdas hanya di intelektual saja, tapi juga cerdas dalam arti cultural comprehensive. Makanya, Tamansiswa membangun generasi yang melampaui generasi saat ini sehingga wajib dibumikan dan di-mainstreaming.
Dia melanjutkan, pendidikan saintifik memang penting. Tapi pendidikan juga harus cerdas secara emosional dan spiritual.
Baca juga : APP Group Pamerkan Produk Kertas Halal Di Pameran Halal Indonesia
"Mungkin kita pernah mendengar dari motivator, IQ, EQ, SQ. Ini sudah ada dari dulu Ki Hajar Dewantara, jadi rujuklah ke Ki Hajar Dewatara. Tamansiswa sudah punya dari dulu hal ini, bahwa kecerdasan itu tidak cukup dengan intelektual, harus emosional juga, harus spiritual,” jelas dia.
Putu melanjutkan, pendidikan merupakan aspek sangat strategis dan penting bagi kehidupan dan berkelanjutan sebuah negara, serta menjadi faktor penentu kemajuan maupun kemunduran suatu bangsa. Sumber daya manusia (SDM) harus terus ditingkatkan kualitasnya, karena aset utama dalam membangun sebuah bangsa dan negara.
“Sumber daya manusia tidak hanya maju dari segi keilmuan material (ilmiah saintifik), tapi juga cerdas secara emosional dan spiritual. Inilah yang dibutuhkan oleh Indonesia ke depan,” ujarnya.
Oleh karenanya, Putu mengatakan, sangat tepat apabila dikaji kembali pemikiran dari Bapak Pendidikan Indonesia dan pendiri Tamansiswa, yakni Ki Hajar Dewantara. Konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah pendidikan yang holistik. Peserta didik dibentuk menjadi insan yang berkembang secara utuh yakni rasio, olah rasa, olah jiwa, dan olah raga melalui proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, dilaksanakan dalam suasana penuh keterbukaan, kebebasan, serta menyenangkan.
“Ki Hajar Dewantara juga menekankan pentingnya mengakar pendidik pada budaya, bahwa peserta didik harus memahami dan menghargai warisan budaya bangsa. Ini dapat meningkatkan rasa identitas dan kebanggaan, serta memberikan pemahaman yang lebih baik tentang nilai-nilai lokal,” jelas dia.
Baca juga : Prof Nanat Optimis, Pendidikan di Era Prabowo Akan Lebih Baik
Putu lalu menjelaskan mengenai pendidikan yang holistik. Kata dia, penting juga mengedepankan pemahaman menyeluruh tentang sejarah kebudayaan. Dalam rangka melengkapi penguasaan ilmu dan teknologi, emosional, dan spiritual.
Sebagai Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia, Putu ingin mengajak tidak hanya mengunjungi museum, tapi juga belajar mengenai kebudayaan. Menurut dia, sejatinya museum adalah sekolah. Sementara, kebudayaan dan seni akan lestari jika sebagai bangsa mengenal dan memahaminya.
“Menarik intisari ilmu yang terkandung di dalamnya untuk kemudian kita sesuikan dengan kebutuhan hari ini. Kearifan lokal dan kebijaksanaan lokal kita, sangat relevan dengan konteks internasional hari ini. Inilah yang dinamakan dengan from local wisdom to global action,” ungkapnya.
Di samping itu, Putu berharap gagasan, besar Ki Hajar Dewantara terhadap pendidikan juga digaungkan semangatnya menjadi internasionalisme atau multilateralisme. Bahkan, ia mendorong gagasan besar ini yang sifatnya sangat universal harus sampai di forum tingkat tertinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tentu saja, diperlukan diplomasi untuk perjuangkan Ki Hajar Dewantara gagasannya dihargai dunia.
“Mereka (dunia) harus tahu ada sosok Ki Hajar Dewantara yang seharusnya mendapatkan nobel, ini tanggung jawab kita. Kita belum pernah mendapatkan penghargaan nobel itu. Sosok yang harus diperjuangkan agar mendapatkan nobel dunia dari Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara,” jelas Putu.
Baca juga : Pelacakan Tim Elang, Kunci Perundingan Pembebasan Pilot Selandia Baru
Menurut dia, peluang Ki Hajar Dewantara untuk bisa mendapatkan nobel sangat besar. Hanya saja, bagaimana pemerintah atau negara yang memperjuangkannya melalui jalur diplomasi.
“Kita punya mimpi ada sosok bangsa mendapatkan nobel prize, hal ini untuk duduk dan sejajar dengan bangsa lain. Jadi harus kita pastikan untuk diperjuangkan, Ki Hajar Dewantara berhak untuk mendapatkan nobel di tingkat dunia,” kata Putu.
Diketahui, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) berdiri tahun 1955 di Daerah Istimewa Yogyakarta. Universitas ini memiliki komitmen dalam pengembangan Catur Dharmya Perguruan Tinggi dan mengembangkan ajaran Kemandirian, Kemerdekaan dan Kebangsaan sesuai cita-cita pendiri UST yaitu Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara.
Taman Siswa (Taman berarti tempat bermain atau tempat belajar, dan Siswa berarti murid) adalah nama sekolah yang didirikan Ki Hadjar Dewantara tanggal 3 Juli tahun 1922 di Yogyakarta.
Pada waktu pertama kali didirikan, sekolah Taman Siswa ini diberi nama "National Onderwijs Institut Taman Siswa", yang merupakan realisasi gagasan Dewantara bersama-sama dengan teman di paguyuban Sloso Kliwon. Sekolah Taman Siswa ini sekarang berpusat di balai Ibu Pawiyatan (Majelis Luhur) di Jalan Taman Siswa, Yogyakarta, dan mempunyai 129 sekolah cabang di berbagai kota di seluruh Indonesia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya