RM.id Rakyat Merdeka - Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menjadi tantangan dalam pembudayaan kegemaran membaca. Sayangnya, peran orang tua dan perpustakaan di satuan pendidikan dirasa belum optimal untuk meningkatkan budaya membaca.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Nusa Tenggara Barat (NTB), Amir, mengakui perlu adanya keterlibatan orang tua dalam pendampingan membaca dan menulis di keluarga.
“Seringkali orang tua malah asyik bermain gadget, sehingga anak kurang mendapat contoh yang baik. Orang tua harus jadi teladan,” ujarnya, pada gelar wicara bersama Duta Baca Indonesia, di Mataram, Kamis (24/10/2024).
Baca juga : Pasar Sambut Baik Kabinet Prabowo, Rupiah Menguat Ke Rp 15.472
Kurang optimalnya peran perpustakaan pun diakui Amir. Ia mengambil contoh bagaimana perpustakaan sekolah yang justru disesaki buku-buku kurikulum, bukan bacaan penunjang yang bersifat pengayaan pengetahuan.
Idealnya, perpustakaan di sekolah bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan pengetahuan. Misalnya, ketika ada penugasan, guru bisa meminta siswa untuk ke perpustakaan sehingga mereka bisa berbondong mencari referensi di situ.
Persoalan lainnya, kata Amir, sebagian besar harga buku masih mahal. Harga buku bacaan kalah dengan paket pulsa. Faktor ini turut andil kenapa masyarakat tidak sanggup memperoleh bacaan yang sesuai dengan kebutuhan. Dan tidak semua perpustakaan memiliki koleksi bacaan yang memadai.
Baca juga : Dikira Hilang, Bocah Asyik Main Di Atap Apartemen
“Di NTB, baru sekitar 6-7 persen saja perpustakaan yang memenuhi syarat ketersediaan jumlah bahan bacaan dan dibutuhkan masyarakat,” aku Amir.
Jika di sekolah perpustakaan kurang dimanfaatkan, kondisi tidak jauh berbeda juga ditemukan di perguruan tinggi. Di kampus kini sulit menemukan mahasiswa yang gemar membaca.
Rektor UIN Mataram Masnun Tahur mengatakan, mahasiswa lebih sering memperbarui status media sosialnya dibandingkan pengetahuannya. Hal ini nampak dari sedikitnya referensi yang dituliskan saat menyusun skripsi atau pun tugas ilmiah lainnya.
Baca juga : Banyak Pemain Muda, Hansi Flick Pede Barca Juara
Sementara, Dosen FKIP Universitas Mataram Ahmad Junaidi berbicara mengenai pentingnya menulis. Dia mengatakan, menulis merupakan kegiatan merapikan pikiran. Namun, ia mengingatkan ketika seseorang mulai menulis, sebaiknya tidak menggunakan kata-kata yang sensasional (clickbait) atau membuang waktu dengan menulis yang tidak ada kaitannya dengan isi tulisan.
“Kita bisa membuka artikel dengan kutipan, ide pokok, provokasi terukur, atau dengan menggabungkan poin-poin penting dalam tulisan,” tandas Ahmad.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.