RM.id Rakyat Merdeka - Momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober, menjadi penanda penting terselenggaranya etos perjuangan membangkitkan gelora nasionalisme yang membuhul dalam dimensi persatuan.
Para pemuda yang berkumpul dalam Kongres Pemuda I di Batavia tahun 1926 kala itu berangkat dari satu kesadaran ihwal pentingnya persatuan untuk melawan kolonialisme.
Meskipun dalam kongres tersebut tidak menghasilkan suatu konsensus yang kuat, namun ini menjadi pijakan awal untuk memperkuat rasa kebersamaan di antara mereka.
Baca juga : Pevita Pearce, Janji Pijat Dan Peluk Suami Tiap Malam
Barulah pada Kongres Pemuda II yang diselenggarakan pada 27-28 Oktober 1928, mereka mulai menyusun dan mengikrarkan Sumpah Pemuda.
Tiga poin penting yang ditekankan dalam ikrar tersebut di antaranya adanya suatu pengakuan satu tanah air dan satu bangsa yakni Indonesia, serta menggunakan satu bahasa, bahasa Indonesia.
Ikrar tersebut tidak sekadar menjadi simbol persatuan dan kebangkitan nasional, melainkan juga menandai lahirnya kesadaran kolektif untuk berjuang menggapai Indonesia Merdeka.
Baca juga : Pelukan Di Bandara Maksimal 3 Menit
Sebagai upaya menghormati dan merefekleksikan semangat persatuan dan kebangkitan pemuda tersebut, tidak mengherankan jika pada tahun 1959, Presiden Sukarno menjadikan tanggal 28 Oktober sebagai Hari Libur Nasional.
Satu hal yang menjadi kunci penting lahirnya semangat persatuan tersebut karena adanya sebuah tantangan, yakni upaya untuk melepaskan masayrakat Indonesia dari kunkungan kolonialisme yang membelenggu.
Inilah suatu tantangan yang mesti dihadapi secara kolektif. Melalui semangat persatuan, inspirasi untuk melawan penjajah tidak pernah pudar, selalu memendarkan berbagai kemungkinan-kemungkinan perlawanan. Sehingga memunculkan optimisme di antara mereka.
Baca juga : Prediksi Malaikat Tentang Manusia
Semangat pemuda yang tak pernah gentar inilah yang dikultuskan Sukarno dalam sebuah dimensi perjuangan bangsa, “Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.
Spirit persatuan menjadi basis untuk melawan. Begitu pun dengan tantangan yang dihadapi kawula muda saat ini akan terasa bermakna jika disikapi dengan semangat kolektivisme di antara mereka. Melebur dalam satu sikap egaliter menjadi modal berharga merencanakan hari ini dan masa depan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.