Sebelumnya
Outlet tersebut menjual produk dari berbagai pelaku UMKM binaan BRI dari seluruh Indonesia. Produk usaha yang dijual platform ini cukup beragam. Mulai dari buah, sayur, frozen food, makanan dan minuman siap santap, hingga makanan ringan khas daerah.
Supari menyebut selama ini produk klaster masih terbatas, yakni hanya ada di wilayah sekitaran kelompok usaha. Media pemasaran produk juga masih terbilang tradisional sehingga produk UMKM menjadi kurang dikenal oleh masyarakat luas.
“Karena itu, pembentukan outlet akan sangat membantu para pelaku usaha di sektor tersebut,” tuturnya.
Baca juga : Bangkitkan Ekonomi, PLN Dorong Pemanfaatan Limbah FABA
Menurut Supari, salah satu keunggulan BRI lainnya adalah perseroan memiliki 23 juta data yang terintegrasi. BRI bisa mem-profiling data itu agar para pelaku berdaya saing. Supari menyebut perseroan juga telah mengintegrasikan data tersebut dengan lembaga terkait. Di antaranya terhubung dengan Kementerian Investasi terkait digitalisasi, mendapat perizinan dan sertifikasi halal.
Selanjutnya, BRI memiliki format pemberdayaan yang berupa modul lengkap pemberdayaan on site maupun digital. “Pemberdayaan on site bisa kami lakukan dengan Rumah BUMN, kemudian dengan Kemenkop UKM (Kementerian Koperas dan Usaha Kecil Menengah), dan beberapa asosiasi dan pihak-pihak universitas,” kata Supari.
Ada tiga upaya konkret yang dilakukan BRI dalam pemberdayaan UMKM. Pertama, pemberdayaan bisnis berbasis klaster, di mana terdapat 11 ribu klaster UMKM. Kedua, terdapat Pasar.id yang merupakan terobosan kepada para pedagang yang tidak bisa berjualan semasa pandemi. Ketiga, ekosistem komoditas yang perlu efisiensikan.
Baca juga : Pesut Etam Prioritas Cari Pelatih Asing
“Sudah ada 6.580 pasar yang tergabung Pasar.id. Ini platform yang dikelola pedagang pasar, sehingga sangat sarat dengan kearifan lokal,” tutupnya.
Sejalan dengan itu, Direktur Utama BRI, Sunarso menyebut prospek pertumbuhan bisnis Ultra Mikro (UMi) di Indonesia cukup besar. Hal ini lantaran sebuah hasil survei pada 2018 lalu menyebut ada 45 juta nasabah UMi di Indonesia yang membutuhkan pendanaan. Namun, dari jumlah tersebut hanya 15 juta nasabah yang terlayani lembaga pembiayaan formal. Seperti bank, Pegadaian, PNM (Permodalan Nasional Madani), BPR (Bank Perkreditan Rakyat), dan fintech (technology financial).
Karena itu, mantan bos Pegadaian ini menyebut, prioritas pertama yang akan disasar holding UMi adalah 18 juta pelaku UMi belum tersentuh layanan keuangan. Kemudian selanjutnya kelompok yang selama ini mengakses rentenir, pinjaman keluarga. Dan mereka yang sudah dapat pembiayaan tapi butuh tambahan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.