BREAKING NEWS
 

Pacu Produktivitas Kebun Tebu

Dirut PTPN Pede Swasembada Gula

Reporter : DWI ILHAMI
Editor : FIRSTY HESTYARINI
Jumat, 8 Juli 2022 07:30 WIB
Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) M Abdul Ghani. (Foto: Holding Perkebunan).

 Sebelumnya 
Di sektor hilir, SGN memiliki target meningkatkan kualitas rendemen gula, dari 7,3 persen menjadi 11,2 persen pada 2030. Peningkatan rendemen ini akan mengakselerasi produksi gula PT SGN, dari 800 ribu ton menjadi 2,6 juta ton per tahun.

“Langkah peningkatan tersebut membutuhkan investasi. Khususnya pengadaan mesin dan teknologi terbaru. Berbekal arus kas (cash flow) positif, PTPN Group akan melakukan revitalisasi dan peremajaan mesin serta peningkatan fasilitas pabrik gula milik SGN,” jelas Aris.

Gani kembali menegaskan, swasembada gula konsumsi menjadi sebuah keniscayaan, dengan syarat Pemerintah dan seluruh anak bangsa bersatu padu membangun kembali kejayaan industri gula Nusantara.

“Swasembada tidak akan terlaksana dan tercapai tanpa peningkatan produktivitas tebu mulai dari hulu hingga ke hilir,” tegasnya.

Baca juga : Gandeng PTPN X, Petrokimia Gresik Gelar Program Makmur

Ia mengatakan, peningkatan produktivitas menjadi kunci utama untuk mewujudkan kesejahteraan PTR. Menurut kalkulasi PTPN Group, jika produktivitas budidaya tebu mencapai 8 ton per ha, maka PTR dapat meraih Sisa Hasil Usaha (SHU) sebesar Rp 25.695.368.

“PTPN Group optimistis, dalam waktu kurang dari 5 tahun, produktivitas PTR mencapai target. Sehingga kesejahteraan mereka turut meningkat,” harapnya.

Impor Tertinggi

Terpisah, Deputi Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Setianto mengatakan, impor gula dan kembang gula menjadi komoditas non migas yang nilai impornya mengalami kenaikan tertinggi selama Mei 2022.

Baca juga : Embung Tingkatkan Produktivitas Petani Bawang Di Enrekang

Hingga saat ini, kebutuhan gula baik untuk konsumsi maupun industri masih ditopang oleh pasokan impor.

BPS mencatat, nilai impor gula dan kembang gula (kode HS 17) pada Mei 2022 naik hingga 106,8 juta dolar AS (Rp 1,60 triliun) atau 38,2 persen dari bulan sebelumnya.

“Negara asal impor gula ini yang mengalami peningkatan terbesar berasal dari Thailand, Brasil, dan Mesir,” jelasnya dalam konferensi pers, Rabu (15/6).

Rata-rata produksi gula berbasis tebu secara nasional masih berkisar 2,1 juta ton hingga 2,3 juta ton. Gula lokal sepenuhnya masih digunakan untuk kebutuhan konsumsi yang kebutuhan per tahunnya sekitar 3 juta ton 3,2 juta ton.

Baca juga : Mendag Lutfi: Perdagangan Komoditas Dunia Perlu Ditata Ulang

Sementara itu, untuk kebutuhan gula khusus industri pada 2022 ini diproyeksi mencapai 3,2 juta ton. Seluruh kebutuhan gula untuk industri didatangkan dari pasokan impor. Baik dalam bentuk gula mentah maupun gula kristal rafinasi.

Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan, swasembada gula konsumsi harus dicapai tahun 2024 mendatang. Optimisme ini muncul pasca beroperasinya lima pabrik gula baru tahun ini, yang total diperkirakan bisa memproduksi 400 ribu ton gula pasir.

Khusus tahun ini, Kementan menargetkan produksi gula bisa mencapai 2,5 juta ton. Atau naik dari realisasi produksi 2021 sebesar 2,3 juta ton. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense