Sebelumnya
Pemerintah juga diminta mempertebal alokasi subsidi energi dan pangan, termasuk pupuk subsidi idealnya ditambah dua kali lipat. Namun, penambahan subsidi ini harus diikuti dengan pengawasan ketat.
Selain itu, pangan harus diamankan dari indikasi terjadinya krisis pangan global.
Jaring pengaman sosial saat pandemi Covid-19 seperti program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) jangan terburu-buru dipangkas atau distop.
“Justru penerima Program Keluarga Harapan (PKH) harus ditambah, dari 10 juta jadi 15 juta keluarga penerima. Ini untuk melindungi 40 persen pengeluaran terbawah dari gejolak kenaikan harga pangan,” tegas Bhima.
Baca juga : Puan Ingatkan Pemerintah Siapkan Rencana Cadangan Hadapi Krisis Pertalite
Tergantung Konsumsi
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menambahkan, target pertumbuhan ekonomi Pemerintah 5,3 persen -5,9 persen (year on year/yoy) pada 2023 cukup berat. Terutama dengan penurunan harga komoditas di tingkat internasional yang mulai terjadi saat ini.
“Perekonomian Indonesia akan bergantung pada konsumsi dan rumah tangga. Tahun depan, sumbangan ekspor akan relatif lebih kecil dibanding konsumsi dan investasi,” jelas Yusuf kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Agar tetap bisa tumbuh tinggi, lanjut Yusuf, investasi harus diiringi reformasi struktural di semua bidang, agar ekonomi bergerak lebih dinamis lagi.
Baca juga : Angkasa Pura I Tanam 5.000 Pohon di Kawasan Penyangga Bandara YIA
Sebelumnya, Presiden Jokowi memprediksi kondisi ekonomi dunia pada 2023 akan lebih sulit daripada tahun ini.
Prediksi tersebut berdasarkan rangkuman informasi yang didapat saat bertemu para pemimpin dunia. Seperti Sekjen PBB Antonio Guterres, para kepala lembaga internasional, dan semua kepala negara G7.
“Tahun depan akan gelap. Ini bukan Indonesia, ini dunia. Hati-hati, bukan Indonesia, yang saya bicarakan tadi dunia,” ujar Jokowi saat membuka Silaturahmi Nasional Persatuan Purnawirawan TNIAD (PPAD) Tahun 2022, di Sentul International Convention Center di Bogor, Jumat (5/8).
Jokowi mengutip penjelasan dari Sekjen PBB dan IMF bahwa akan ada 66 negara yang akan ambruk ekonominya.
Baca juga : Menkeu: APBN 2023 Tahan Guncangan Hadapi Ekonomi Global
“Ini saya sampaikan apa adanya karena posisi pertumbuhan ekonomi bukan hanya turun, tapi anjlok. Singapura, Eropa, Australia, Amerika, semuanya. Pertumbuhan ekonomi turun, inflasi naik, harga-harga barang semua naik. Dunia pada kondisi mengerikan,” tegas Jokowi. [NOV]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.