RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti lingkungan global yang saat ini berubah secara luar biasa. Ada tantangan geopolitik yang terus meningkat, tingginya inflasi dunia yang menyebabkan kenaikan suku bunga global, hingga pembukaan kembali China setelah lockdown.
Semua itu, kata Sri Mulyani, menimbulkan berbagai kemungkinan dan tantangan yang harus kita antisipasi.
"Momentum perekonomian Indonesia yang saat ini cukup kuat di angka 5,3 persen, akan terus dijaga. Agar permintaan dan konsumsi rumah tangga bisa tetap tumbuh di atas 5 persen, inflasi harus dikendalikan. Confidence konsumen, harus dijaga. Investasi pun harus diperkuat ," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers usai rapat terbatas dengan Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (20/2).
Menurutnya, kita perlu mengantisipasi kondisi global dalam bentuk ekspor, yang barangkali mengalami disrupsi karena faktor geopolitik. Dan harga komoditas yang melonjak, karena adanya persaingan politik antara negara-negara besar.
2024 adalah tahun terakhir pemerintahan Jokowi. Karena itu, fokus terhadap berbagai program prioritas yang menjadi PR pemerintah, akan terus ditingkatkan.
Baca juga : BPS Dan DKI Pelototin Data Penerima Bansos
Sri Mulyani menyebut, PR pertama adalah penurunan kemiskinan ekstrem mencapai nol persen.
"Ini berarti, keseluruhan total kemiskinan akan menurun. Kebutuhan pendanaannya akan diprioritaskan untuk tahun ini dan tahun depan," ujar mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.
Selain itu, Kementerian Keuangan juga perlu meningkatkan alokasi dalam rangka penurunan stunting, sesuai arahan Presiden Jokowi kepada kepala daerah, untuk menekan angka stunting menjadi 3 persen.
Tentu, ini akan menimbulkan implikasi anggaran yang akan disediakan pada tahun ini dan tahun depan.
"Terkait target kemiskinan nol persen di tahun 2024; kemiskinan headline di 6,5-7,5 persen; dan stunting 3,8 persen, kita perlu effort keras terhadap alokasi anggaran yang disediakan untuk tahun ini dan tahun depan," papar Sri Mulyani.
Baca juga : Wapres Tebar Optimisme
Dari sisi investasi, pemerintah juga perlu meningkatkan dukungan. Agar investasi meningkat secara signifikan pada tahun ini dan tahun depan.
Hal ini dilakukan melalui perubahan regulasi yang sudah dicapai. Sehingga, fokus pada tahun 2024 adalah pelaksanaan UU Ciptaker UU P2SK, UU Harmonisasi Peraturan Perpajakan, dan UU Keuangan Pusat dan Daerah.
"Kita juga akan menggunakan insentif fiskal dalam bentuk tax holiday, super deduction untuk research, vokasi. Serta tax allowance untuk mendukung transformasi industri. Terutama, yang berbasis sumber daya alam, yang memperkuat ekosistem industri berbasis elektrik dan baterai," beber Sri Mulyani.
"Ini menjadi salah satu upaya yang akan dilakukan pada tahun ini dan tahun depan," sambungnya.
Sri Mulyani menekankan, pemerintah juga akan fokus pada infrastruktur. Karena akan meningkatkan produktivitas dan competitiveness perekonomian.
Baca juga : Heru Ajak Pengurus RW Kompak Turunkan Kemiskinan Ekstrem Dan Stunting Di Ibu Kota
"Dengan landasan itu, maka pada tahun depan, kita perkirakan anggaran akan terjaga. Di satu sisi, pendapatan negara akan tetap tumbuh dengan tax ratio yang terus meningkat. Di sisi lain, belanja negara akan dijaga secara disiplin. Dengan prioritas sesuai agenda nasional," jelas Sri Mulyani.
Dia memperkirakan, awal tahun depam, defisit akan semakin menurun ke level 2,16 hingga 2,64 persen dari PDB, dengan primary balance mendekati nol. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.