BREAKING NEWS
 

Elektrifikasi Kendaraan untuk Ketahanan Energi Dunia yang Lebih baik

Writer : Ridwan Rafli Purwanto
Editor : UJANG SUNDA
Senin, 22 April 2024 09:06 WIB
Presiden Jokowi saat meresmikan pabrik baterai kendaraan listrik di Karawang. (Foto: Setpres)

Pendahuluan

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), ketahanan energi didefinisikan sebagai suatu kondisi terjaminnya ketersediaan energi, akses masyarakat terhadap energi pada harga yang terjangkau dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan perlindungan terhadap lingkungan hidup. Sampai sekarang satu-satunya sumber energi yang dapat terus diambil dalam jangka panjang dan tetap aman bagi lingkungan hidup adalah energi terbarukan. Kelompok sumber energi ini adalah sumber yang akan tetap ada untuk hampir selamanya karena memang sumber energi ini bagian dari lingkungan itu sendiri sehingga tidak berbahaya sama sekali baik bagi manusia maupun lingkungan.

Listrik adalah sumber energi sekunder karena didapat dengan mengubah sumber energi primer baik yang terbarukan maupun yang tidak terbarukan (U.S. Energy Information Administration, 2023). Dengan menggunakan energi listrik kita bisa memanfaatkan semua energi terbarukan sesuai kebutuhan kita. Misalnya ketika kita butuh pemanas air di hari yang dingin, kita dapat menggunakan energi listrik yang dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Hal ini tentu akan lebih ramah lingkungan ketimbang menggunakan kompor konvensional untuk memanaskan air karena kita dapat mengurangi ketergantungan kita akan energi tak terbarukan dengan memanfaatkan listrik. 

Pemanfaatan listrik tidak hanya terbatas pada kebutuhan rumah tangga seperti kipas angin dan televisi, listrik juga dapat diaplikasikan pada tingkatan yang lebih besar seperti pada sektor transportasi yang mayoritas masih menggunakan energi tak terbarukan, Bahan Bakar Minyak (BBM). Untuk mengatasi kebutuhan perjalanan jarak jauh, terdapat 2 sistem yang umumnya digunakan oleh masyarakat yaitu ganti baterai dan pengisian di tempat tertentu. Sistem ganti baterai mirip dengan kendaraan konvensional yang menggunakan BBM, yaitu dengan mengganti baterai yang habis dengan baterai yang penuh di tempat tertentu. Sedangkan untuk pengisian baterai, pengguna harus berhenti pada suatu checkpoint untuk mengisi baterai hingga penuh atau cukup untuk kebutuhan pengguna.

Baca juga : Tim Siaga Bencana ESDM Salurkan Bantuan Korban Erupsi Gunung Ruang

Isi

Dengan maraknya kendaraan listrik sekarang, tentu kebutuhan listrik di dunia meningkat. Menurut gencellenergy.com, satu home charger saja bisa menggunakan hingga 11.81 kWh setiap harinya. Jumlah ini tentu bukanlah jumlah yang sedikit, sebagai pembanding konsumsi listrik rumah tangga Indonesia saja hanya 1.285 kWh/kapita. Semakin meningkatnya kebutuhan listrik di dunia memaksa setiap negara untuk meningkatkan produksi listrik mereka dan mencari setiap sumber energi yang tersedia di alam guna mencukupi kebutuhan energi.  Sehingga dalam beberapa waktu ke depan kebutuhan kita akan listrik ini akan terus meningkat sampai kita menemukan sumber energi lain yang lebih efektif dan efisien.

Untuk mengatasi peningkatan kebutuhan listrik yang ada pada hampir seluruh dunia, masing-masing negara mulai membangun pembangkit listrik mereka. Berdasarkan Badan Energi Terbarukan Internasional, 83% pembangkit listrik yang baru berasal dari sumber energi terbarukan selama tahun 2022. Hal ini tentu menjadi berita baik bagi kita semua, pelan tapi pasti kita bisa mengurangi ketergantungan atas bahan bakar fosil (batu bara, gas, dan minyak bumi) yang telah terjadi sejak revolusi industri pertama dimulai. Terlebih lagi menurut Kementerian ESDM, seluruh cadangan minyak bumi di dunia akan habis dalam kurun waktu 300 tahun.

Meskipun sebagian besar pembangkit listrik baru sudah memanfaatkan sumber energi terbarukan, penyumbang energi listrik terbesar masih dihuni oleh sumber energi fosil. Menurut Our World in Data, sumber energi terbarukan hanya menyumbang sebanyak 30% dari total energi listrik di dunia. Angka ini tergolong kecil dibandingkan dengan pembangkit listrik fosil yang menempati posisi pertama dengan nilai 61% dan sisanya adalah pembangkit listrik tenaga nuklir. Bahkan negara tercinta kita, Indonesia, tercatat bahwa 85,9% sumber energi listrik masih berasal dari bahan bakar fosil.

Baca juga : KB Bank Sukses Pertahankan Peringkat dari Fitch Ratings di Level AAA

Selain dari segi ketahanan energi dan keamanannya bagi lingkungan, kendaraan listrik juga sangat efisien dari segi ekonomi. "1 liter bensin setara dengan 1,2 kWh listrik dengan jarak tempuh yang sama, maka satu liter bensin Rp 14-15 ribu sementara 1,2 kwh listrik hanya Rp 1.800 jadi pengurangan biaya yang luar biasa ini bisa seperlima," ujar Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN) Darmawan Prasodjo. Hal ini tentu karena semua sumber energi terbarukan sudah ada di alam sedemikian rupa sehingga kita tidak perlu mengeluarkan upaya lebih untuk mengeluarkannya dari perut bumi.

Elektrifikasi kendaraan juga membuka jalan bagi manusia untuk meningkatkan kualitas dari kendaraan tertentu. Saat ini yang paling bisa kita lihat adalah kereta Magnetic Levitation (Maglev) yang saat ini marak di beberapa negara seperti Jepang dan China. Dikutip dari Wikipedia, tercatat bahwa kecepatan puncak yang pernah tercatat dari kereta ini adalah 603 km/h pada sebuah eksperimen di Jepang. Namun, kecepatan tertinggi kereta Maglev komersial hanya 431 km/h. Meskipun begitu angka ini tetaplah di atas kecepatan tertinggi kereta konvensional yaitu 357 km/h. Tentu saja teknologi Maglev memberi kita harapan untuk meningkatkan kualitas transportasi yang lebih baik.

Penutup

Dengan semakin banyaknya sektor yang berpindah dari sumber energi fosil ke listrik, kita jadi semakin bebas dari ketergantungan yang telah berlangsung selama hampir 3 abad sejak tahun 1750. Hal ini dikarenakan listrik masih bisa didapat dari sumber energi yang lebih sustainable. Terlebih lagi sebagian besar pembangkit listrik baru merupakan pembangkit listrik yang terbarukan. Dengan ini kita tidak lagi perlu khawatir dengan kebutuhan listrik yang meningkat drastis karena pembangkit listrik yang baru berfokus pada sumber energi terbarukan.

Baca juga : Empal Gentong Dan Pempek Jadi Makanan Favorit Menteri Basuki Saat Lebaran

Elektrifikasi juga akan mengurangi kesenjangan dan mempermudah masyarakat menengah ke bawah untuk mengakses transportasi. Selain itu, elektrifikasi transportasi juga membuka jalan bagi manusia untuk meningkatkan kualitas transportasi yang lebih baik. Tentu hal ini akan sangat menguntungkan bagi masyarakat menengah ke atas karena banyak waktu yang dapat dihemat akibat meningkatnya kualitas transportasi. Dengan adanya elektrifikasi kendaraan semua lapisan masyarakat akan menerima dampak positifnya. Kabar baiknya lagi, ini hanyalah sebagian kecil dari manfaat yang bisa didapat dari elektrifikasi karena mencegah kerusakan lingkungan merupakan manfaat yang lebih besar.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense