Sebelumnya
BI berharap, kebijakan KLM ini mampu mendorong pertumbuhan kredit yang diproyeksi mencapai kisaran 10-12 persen pada 2024 dan meningkat ke 11-13 persen pada 2025. Dan stabilitas sistem keuangan terjaga.
“Hasil stress-test menunjukkan ketahanan sistem keuangan kita terhadap dampak gejolak global. Kebijakan BI merupakan pro growth,” ucapnya.
Menyoal ini, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk atau BCA David Sumual mengatakan, kenaikan suku bunga acuan BI tidak akan berdampak signifikan pada permintaan kredit. Ia yakin, permintaan kredit masih akan tetap stabil, meskipun suku bunga terkerek.
“Pertumbuhan DPK industri actually improve lumayan di bulan Maret ke 7,44 persen. Sementara pertumbuhan kredit diprediksi bisa menembus di level 12,40 persen tahun ini,” ucap David kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Baca juga : Duh... 66,9 % ASN DKI Gendut, 37,8 % Darting
Apalagi, sambung David, suku bunga BI masih memiliki kebijakan KLM yang juga dapat menjaga pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, kebijakan KLM untuk menjaga agar prospek pertumbuhan ekonomi.
“Maka, meski tantangan ekonomi dan geopolitik global masih mengancam, keyakinan kredit di dalam negeri akan tetap tumbuh,” ujarnya.
Tak hanya itu, David menilai, langkah BI yang menaikkan suku bunga acuan jadi 6,25 persen diharapkan dapat membuat nilai tukar rupiah menjadi lebih stabil. Sehingga eksportir dan importir juga nyaman dalam bertransaksi, serta mendukung ekonomi nasional.
Sebelumnya, Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, situasi global dan domestik yang menantang pada akhirnya memaksa pelaku industri untuk dapat merespons dengan baik dan bijak. Adanya kenaikan suku bunga dilakukan demi menjaga inflasi dan nilai tukar.
Baca juga : Pertaruhan Terakhir Bagi Thomas Tuchel
Menurut Sunarso, efeknya akan dirasakan oleh semua pihak, termasuk pelaku pasar di industri perbankan.
“Kenaikan suku bunga adalah keputusan yang logis dan rasional,” tutur Sunarso di Jakarta, Kamis (25/4/2024).
Sunarso menyebut, beban ekonomi negara memang harus dipikul bersama. Bank juga harus ikut bersusah payah mempertahankan likuiditas di era suku bunga tinggi.
Dan kondisi saat ini tidak memiliki dampak signifikan bagi BRI, karena memiliki kondisi permodalan yang tangguh.
Baca juga : Garuda Cakar Gajah Perang
BRI punya LDR (Loan to Deposit Ratio) sebesar 83 persen hingga kuartal I-2024, sehingga tidak ada isu likuiditas.
“BRI masih mampu menumbuhkan kredit 10 persen karena likuiditas yang masih longgar,” jelasnya. DWI
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 9, edisi Selasa, 30 April 2024 dengan judul "Diskon Aturan GWM 4 Persen BI Dorong Perbankan Kerek Penyaluran Kredit"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.