BREAKING NEWS
 

Kehadiran BSI Diharapkan Jadi Lokomotif Ekonomi Syariah Nasional

Reporter : DWI ILHAMI
Editor : SRI NURGANINGSIH
Jumat, 28 Juni 2024 18:37 WIB
Dirut BSI Hery Gunardi (tengah) saat memberikan keterangan soal buku karangannya Mega Merger In The Pandemic: Kepemimpinan dan Tantangan Merger Bank Syariah Indonesia, di Jakarta,Kamis (27/6/2024)

RM.id  Rakyat Merdeka - Bergabungnya tiga entitas perusahaan syariah dari bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi PT Bank Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), dinilai sebagai lokomotif ekonomi syariah nasional.

Perlu diketahui, pembentukan BSI terjadi dalam masa pandemi Covid-19 di tahun 2021. Segala lika liku perjalanan terbentuknya BSI ini hadir dalam sebuah buku bertajuk, ‘Mega Merger In The Pandemic Era: Kepemimpinan dan Tantangan Merger Bank Syariah Indonesia,’ karya Direktur Utama BSI Hery Gunardi.

Dalam acara diskusi buku tersebut, hadir sejumlah bankir yang hadir merupakan alumni Bank Mandiri yang sekarang sudah berkiprah di berbagai BUMN di Hutan Kota by Plataran, Jakarta, Kamis (27/6/2024) malam.

Direktur Keuangan & Strategi BSI Ade Cahyo Nugroho menyebutkan, banker  senior Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2013-2018 Agus Martowardojo dalam buku tersebut menjelaskan, merger dan transformasi tiga bank syariah yang dimiliki oleh tiga bank terbesar milik BUMN (Himbara) menjadi BSI, merupakan hal yang mengikat dan menjadi satu kesatuan.

Dalam proses merger, tentunya akan diiringi langkah transformasi. Karena merger sejatinya memiliki tujuan perubahan dan perbaikan. Transformasi sendiri mendorong perusahaan merger memiliki kesehatan, daya saing dan profitabilitas yang lebih tinggi. Artinya, perusahaan tumbuh menjadi kekuatan baru.

Kedua hal itu tak mudah dilakukan. Prosesnya panjang, dan memerlukan sosok pemimpin mumpuni untuk mengawal dan mendorong jalannya sesuai dan mencapai tujuan.

Baca juga : Top, Dirut BRI Dinobatkan Jadi Best CEO, BRI Borong 11 Penghargaan Internasional

“Terlebih di era krisis lalu, peran seorang leader sangat penting untuk menentukan arah kebijakan agar bisa bertahan dan berkelanjutan di masa depan,” kata Cahyo yang mengutip Agus Martowardojo dalam kata pengantar buku tersebut.

Ia melanjutkan, sebagai leader, Hery dinilai mampu menerapkan kepemimpinan transformasional yang notabene merupakan salah satu kunci sukses dalam proses merger.

Dia mampu meningkatkan motivasi dan moralitas karyawan dalam proses merger.

“Bahkan saat ini BSI memiliki arah baru ke depan, guna mencapai harapan Pemerintah untuk menjadi bank syariah terbesar di Tanah Air dan menjadi salah satu pemain utama di kancah global,” tulis Agus yang dikutip Cahyo.

Sebagai leader juga harus memberikan teladan bagi jajarannya. Menancapkan visi dan misi baru yang tidak mudah. Sebab masing-masing bank yang di-merger memiliki culture berbeda dengan semangat bersaing dan kebanggaan atas culture perusahaan awal masing-masing.

Adsense

Cahyo mengatakan, melalui catatan sejarah di buku tersebut memberikan sebuah pesan berharga bahwa kepemimpinan, kompetensi, dan jam terbang turut menjadi kunci penting, sehingga setiap tantangan yang dihadapi dalam proses merger dan transformasinya dapat diatasi dengan baik.

Baca juga : Ketua Banggar Said: RAPBN 2025 Disiapkan Guna Hadapi Tantangan Ekonomi

“Lazimnya merger company itu dua sampai tiga tahun. Dan BSI di bawah Pak Hery, bisa sangat cepat dan proses merger BSI tetap berjalan mulus. Tentunya itu berkat kepemimpinan andal,” ucapnya.

Cahyo mengatakan, dalam transformasi BSI, Hery Gunardi melakukannya dengan sangat baik. Seperti diketahui, nakhoda BSI itu awalnya dipercaya menjadi Ketua Project Management Office (PMO) dan Integration Management Office (IMO) saat awal proses merger pada 2021.

Menurutnya, perjalanan BSI ini pun merupakan penguatan ekosistem keuangan syariah. Dengan demikian penetrasi keuangan syariah nasional yang masih sekitar 7 persen (5 tahun terakhir) dapat ditingkatkan. Penguatan ekosistem akan memberikan dampak luar biasa terhadap dorongan pertumbuhan dan penetrasi yang sangat tinggi.

“Strategi merger secara jangka panjang juga akan mendorong Indonesia menjadi salah satu pusat keuangan syariah dunia,” kata Cahyo.

Penulis buku Mega Merger in The Pandemic Era, Hery Gunardi mengatakan, BSI merupakan salah satu bentuk nyata dari aspirasi Pemerintah, dalam upaya peningkatan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

Untuk mengabadikan proses merger menjadi bank syariah terbesar di Indonesia, ia menyusun milostone tersebut dalam buku Mega Merger ini.

Baca juga : Komisi VI: Pembentukan PalmCo Perkuat Ekosistem Sawit Nasional

“Kami berharap, buku ini dapat menjadi referensi bagi industri dalam rangka memperkuat ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia,” katanya.

Hery merasa bersyukur dengan launching-nya buku tersebut. Ia mengaku, sesuai aspirasi yang ada, kehadiran BSI harus bisa menjadi bank syariah yang modern, universal dan inklusif.

BSI pun harus mampu menjangkau lebih banyak masyarakat di Tanah Air. Mengingat, masih banyaknya masyarakat yang belum terlayani dan memiliki akses terhadap perbankan.

BSI harus melakukan transformasi, termasuk teknologi dan digital, serta menjadi bank syariah yang mampu bersaing dan kompetitif, sehingga BSI memenuhi segala kebutuhan berbagai segmen konsumen dari segi bisnis apapun.

“Dengan kemampuan yang unggul dan kepercayaan diri yang tinggi, segenap insan BSI akan mampu memberikan pelayanan terbaiknya kepada segenap nasabah dan masyarakat di Tanah Air,” pungkas Hery.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense