BREAKING NEWS
 

Indef Minta Wacana BMAD Keramik Dikaji Lagi, Ini Alasannya

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Rabu, 17 Juli 2024 14:31 WIB
Diskusi Indef. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) merekomendasikan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) atas impor ubin keramik yang berasal dari China dengan tarif maksimal sebesar 199,98 persen. Indef meminta pemerintah mengkaji lagi rencana tersebut.

Direktur Kolaborasi Internasional Indef, Imaduddin Abdullah mengatakan, pentingnya menguji rencana kebijakan BMAD terhadap keramik dan bagaimana dampaknya terhadap industri dalam negeri dan konsumen. Menurut dia, kebijakan BMAD yang berlebihan dan tanpa dukungan data yang kuat justru akan kontraproduktif terhadap upaya membangun industri dalam negeri yang kompetitif dan mampu bersaing di level global.

Baca juga : Insiden Penembakan Di Dekat Masjid Oman, 4 Orang Tewas

“Indef memiliki kepedulian yang kuat terhadap upaya membangun industri dalam negeri serta menjaga kepentingan konsumen dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya saat diskusi publik "Menguji Rencana Kebijakan BMAD Terhadap Keramik" di Jakarta, Selasa (16/7/2024).

Adsense

Ia menambahkan, berbagai studi telah menunjukkan bahwa BMAD yang diterapkan secara berlebihan tidak efektif karena dapat menghasilkan trade diversion atau impor akan tetap meningkat dari negara-negara yang tidak dikenakan BMAD. Selain itu, pengenaan BMAD yang berlebihan akan berdampak pada kenaikan harga di tingkat konsumen, yang pada akhirnya akan menggerus kesejahteraan konsumen.

Baca juga : Aliansi Akademisi Minta Obral Guru Besar Distop, Ini Alasannya

“Kasus pemberian BMAD terhadap produk impor dari China oleh AS tidak menurunkan angka impor keramik itu sendiri, justru terjadi kenaikan impor dari India dan Vietnam”, pungkasnya.

Kepala Center of Industry, Trade, and Investment Indef, Andry Satrio Nugroho mengatakan, hasil analisis KADI untuk merekomendasi BMAD tidak kuat dan tidak memiliki urgensi. Menurut dia, data yang ditampilkan dalam laporan KADI menunjukkan bahwa tren impor ubin keramik turun 9,55 persen dan impor dari China turun 0,56 persen. Di saat yang bersamaan, penjualan oleh perusahaan dalam negeri pemohon naik 0,12 persen dan 22,19 persen.

Baca juga : Putu Rudana Minta Pemerintah Perhatikan Lembaga Pendidikan Seni Budaya

Kemudian, tren industri keramik domestik sedang dalam tahap ekspansi, dengan produksi meningkat 4,52 persen dan cashflow tumbuh positif. Tren kapasitas terpasang juga meningkat 15,74 persen, bahkan melebihi tren penjualan dalam negeri meningkat 12,02 persen.
“Berbagai data yang ditampilkan dalam laporan KADI justru menunjukkan industri keramik belum dalam tahap injury”, terang Andry.
Andry juga mempertanyakan hasil investigasi dan pengenaan BMAD yang mengalami perubahan dari hasil Mei dengan BMAD 6,61 persen hingga 155,48 persen, sementara hasil KADI 100,12 persen-199,88 persen. “Perubahan besaran angka ini perlu dipertanyakan dan KADI seharusnya dapat memberikan penjelasan yang transparan,” jelas Andry.
Ketua Tim Kerja Pembinaan Industri Keramik dan Kaca Kementerian Perindustrian, Ashady Hanafie mengatakan, sejak 2015, industri keramik mengalami tekanan dan utilisasi industri menurun karena kenaikan harga gas. “Saat ini harga gas sudah 6 dolar AS per MMBTU, akan tetapi pasokan gas untuk industri masih terbatas”, kata Ashady.

Ashady juga menyoroti tantangan yang dialami oleh industri ubin keramik akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, “semua penggunaan gas dihitung menggunakan dolar AS, sehingga ketika dolar AS menguat maka otomatis biaya produksi keramik juga naik,” tukasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense