Sebelumnya
“Akan berbeda jika perusahaan yang awalnya bermasalah, kemudian melakukan IPO untuk menyelamatkannya dari belitan utang,” katanya.
Menurutnya, prospek kinerja emiten BUMN ke depan tidak bisa dilepaskan dari faktor politik. Penempatan manajemen dan pengawas di BUMN dilakukan oleh Pemerintah melalui Kementerian BUMN, serta penugasan yang diberikan oleh Pemerintah perlu jadi pertimbangan.
“Investor memilih emiten yang memiliki nilai Earning Per Share (EPS) dan membagi dividen secara konsisten. Seperti sektor perbankan. Kinerja BUMN yang bagus masih terkonsentrasi di sektor keuangan,” tuturnya.
Butuh Support BUMN
Baca juga : Kualitas Pendidikannya Jangan Kaleng-kaleng
Terpisah, Direktur Utama BEI Iman Rachman mengaku optimistis dapat meningkatkan kapitalisasi pasar hingga Rp 22.000 triliun. Namun pihaknya tetap membutuhkan dukungan dari semua pihak agar hal ini dapat terjadi. Salah satunya BUMN.
“Kami perlu suplai IPO yang besar. Perlu support dari anak usaha BUMN atau perusahaan swasta yang cukup besar,” kata Iman di Jakarta, Senin (12/8/2024).
Sekadar informasi, pencatatan saham saat ini didominasi oleh perusahaan beraset menengah. Transaksi harian investor yang lebih aktif juga dapat meningkatkan kapitalisasi pasar bursa ke depan.
Baca juga : Morata Siap Antarkan Milan Raih Scudetto
Untuk itu, BEI mengharapkan perusahaan BUMN beraset jumbo, segera melaksanakan pencatatan saham di bursa.
“Kami yakin, target tersebut dapat dicapai. Tapi dengan catatan, perusahaan dengan aset besar bisa melantai di bursa,” ujarnya.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menambahkan, untuk menggaet lebih banyak perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar melantai di bursa, BEI telah menjalankan kerja sama untuk melakukan survei kepada konglomerasi dan grup-grup besar yang belum menjadi perusahaan tercatat.
Baca juga : Sabalenka Ngincar Final
Nyoman menuturkan, tujuan dari survei ini, adalah bagaimana bursa dapat mengetahui apa yang mengakibatkan grup konglomerasi tersebut belum masuk ke pasar modal Indonesia. Baik riset dari supply side maupun demand side.
“Hal ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana persepsi investor dan perusahaan besar, seperti apa yang investor inginkan untuk tercatat,” kata Nyoman. DWI
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 9, edisi Kamis, 15 Agustus 2024 dengan judul "Kapitalisasi Pasar Dipatok Capai Rp 22 Ribu Triliun, BUMN Dan Anak Usaha Didorong Agresif IPO"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.