RM.id Rakyat Merdeka - PLN Indonesia Power (PLN IP) memanfaatkan beragam limbah untuk dijadikan bahan baku biomassa sebagai energi primer pembangkit melalui program cofiring. Selain berkontribusi menekan emisi karbon, program tersebut sukses menggairahkan ekonomi warga.
Metode cofiring yakni mencampur batubara dengan biomassa berkadar tertentu sebagai bahan bakar utama Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Umumnya, kadar biomassa yang dicampur 5-10 persen.
Direktur Utama PLN Indonesia Power Edwin Nugraha Putra mengatakan, aksi korporasi ini sebagai wujud komitmen PLN Indonesia Power dalam mendukung percepatan program transisi energi, guna membantu Pemerintah dalam mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060.
Upaya ini juga sebagai upaya perusahaan memberikan pelayanan terbaik melalui pasokan energi bersih bagi pelanggan pada moment Hari Pelanggan Nasionan (HPN).
Baca juga : Tekan Emisi, Pemerintah Jangan Hanya Fokus Ke Mobil Listrik, Ini Alasannya
Bentuk dukungan tersebut di antaranya dengan menjalankan program cofiring, salah satunya seperti yang diterapkan di unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeranjang dengan kapasitas 3x25 MW, Lombok, Nusa Tenggara Barat.
"Kami memanfaatkan apa saja yang bisa dijadikan bahan baku biomassa untuk menjalankan program cofiring yang bisa meningkatkan porsi energi baru terbarukan pada sektor kelistrikan," kata Edwin Nugraha Putra dalam keterangan tertulis, Jumat, (6/9/2024).
Dalam menjalankan program cofiring di PLTU Jeranjang, PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Jeranjang telah memanfaatkan beragam limbah mulai dari woodchip, serbuk kayu (sawdust), hasil olahan sampah (solid recovered fuel/SRF) dan Limbah Racik Uang Kertas (LURK).
"Bahan baku biomassa tersebut kami peroleh dari sekitar PLTU Jeranjang yang sebagian besar tidak dimanfaatkan sebelumnya," tutur Edwin.
Baca juga : Berikan Kuliah di Pascasarjana Unhan, Bamsoet Ingatkan Pentingnya Perbaikan Parpol
Edwin mengungkapkan, program cofiring pada PLTU Jeranjang sudah dilaksanakan sejak 2019, diawali tahapan uji coba bakar SRF.
Kemudian terus berkembang dengan memanfaatkan beragam jenis biomassa.
Saat ini, porsi konsumsi biomassa pada PLTU Jeranjang telah mencapai lebih dari 3 ribu ton per bulan atau 2,5 persen dari total konsumsi batu bara pembangkit tersebut.
"Secara akumulatif total konsumsi biomassa PLTU Jeranjang sepanjang 2024 sampai dengan Agustus ini mencapai 15.796 ton, kami berupaya terus meningkatkan penggunaan biomassa untuk mengoptimalkan pengurangan emisi karbon yang dihasilkan dari pembakaran batu bara," ujar Edwin.
Baca juga : Sikapi Muktamar Tandingan, Maruf-Imin Rapatkan Barisan
Menurut Edwin, dengan diterapkannya program cofiring tersebut, PLTU Jeranjang menjadi salah satu pembangkit penyumbang green energy di NTB.
Pasalnya, PLTU Jeranjang merupakan salah satu tulang punggung kelistrikan di wilayah Lombok.
Dalam sistem kelistrikan Lombok, PLTU Jeranjang memegang peran penting dengan porsi sebesar 20 persen.
"Jadi kami mengupayakan agar PLTU ini selalu andal dalam memasok listrik ke pelanggan Disamping itu, penerapan cofiring di pembangkit ini juga dapat menekan emisi karbon yang dihasilkan dari sektor kelistrikan," tambah Edwin.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.