BREAKING NEWS
 

Tahun 2025, PLTU Jeranjang Targetkan Penggunaan Biomassa Hingga 14 Persen

Reporter & Editor :
FAZRY
Sabtu, 7 September 2024 17:04 WIB
Manajer PLN IP Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Jeranjang Yunisetya Ariwibawa. (Fazry/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT PLN Indonesia Power (PLN IP), melalui Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeranjang, menargetkan penggunaan biomassa pada pembangkit sebanyak 14 persen pada tahun 2025.

Penggunaan biomassa sebagai bahan bakar pengganti batu bara dalam program co-firing tersebut, bakal ditingkatkan secara bertahap.

"Saat ini, persentase penggunaan biomassa di PLTU Jeranjang mencapai 7 persen. Dan direncanakan akan terus meningkat hingga 14 persen pada tahun depan," tutur Manajer PLN IP Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Jeranjang Yunisetya Ariwibawa dalam acara Media Ghatering PLN Indonesia Power (IP) yang mengusung tema "Perkuat Kolaborasi, Kawal Transisi Energi dan Lestarikan Alam Melalui Program TJSL", Kamis (5/9/2024).

Untuk diketahui, secara akumulatif, total konsumsi biomassa PLTU Jeranjang di Mataram, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), sepanjang 2024 sampai dengan Agustus saja telah mencapai 15.796 ton.

Yunisetya menyebutkan, teknologi co-firing biomassa di PLTU Jeranjang mulai dilakukan uji bakar pada 2019 dengan metode RDF (refuse derived fuel).

Baca juga : Terapkan Cofiring, PLTU Jeranjang Kerek Ekonomi Warga Lombok Dan Jaga Lingkungan

Di tahun-tahun berikutnya hingga 2024 ini, penggunaan jenis biomassa digenjot dalam rangka mendukung program Net Zero Emission (NZE) pemerintah pada 2060.

Dan target bauran energi nasional dari energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025.

Menurut dia, biomassa yang digunakan untuk co-firng di PLTU Jeranjang kini diperbanyak jenisnya, termasuk dengan memakai SRF atau pelet sampah, pelet kayu (woodchip) dan serbuk gergaji (sawdust).

“Selama kurang lebih lima tahun implementasi teknologi co-firing di PLTU Jeranjang, PLN IP juga mencatat ada peningkatan pendapatan ketika terjadi penambahan persentase co-firing,” katanya.

Adsense

Apabila diskemakan menggunakan asumsi kontrak PJBTL Subholding, terdapat penambahan pendapatan sebesar Rp 45,33 miliar ketika terjadi penambahan co-firing sebesar 5 persen.

Baca juga : Tekan Emisi, PLTU Jeranjang Manfaatkan Beragam Biomassa

Dan terdapat pula keuntungan dari selisih dari harga biomassa dan batu bara.

“PLTU Jeranjang, yang memasok 20 persen kebutuhan listrik Pulau Lombok dengan kapasitas terpasang 3×25 MW, juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon serta peningkatan ekonomi lokal melalui pembukaan lapangan kerja baru,” ujar Yunisetya.

Saat ini, PLTU Jeranjang merupakan salah satu pembangkit utama (backbone) dari sistem kelistrikan di Pulau Lombok.

Asisten Manager Energi Primer PLTU Jeranjang Ribut Handoyo menambahkan, dengan menaikkan persentase co-firing dan menyelesaikan kendala-kendala operasionalnya, perusahaan dapat meningkatkan pendapatan dan mendukung program NZE.

“Tak hanya itu, keberlanjutan (sustainability) PLTU Jeranjang pun semakin meningkat, sekaligus mengimplementasikan visi misi perusahaan,” ujar Ribut Handoyo.

Baca juga : OTW Medan, Tenis Meja DKI Targetkan Bawa Pulang Tiga Emas Di PON

Tak hanya itu, lanjut Ribut Handoyo, terdapat benefit sosial, seperti meningkatkan keekonomian rakyat, membuka lapangan kerja baru, pemanfaatan lahan kering untuk hutan energi dan menurunkan emisi karbon CO2 (dekarbonisasi).

Manajer Stakeholder Management and Investor Relation PT PLN Indonesia Power Ganis Nugraheni Purnamawati mengatakan, untuk mengejar target bauran EBT 23 persen pada 2025, pihaknya melakukan akselerasi proyek-proyek EBT di Indonesia seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), mikro hidro, dan pembangkit angin (bayu).

“Selain itu, penerapan co-firing di pembangkit batu bara juga digenjot dengan menggunakan berbagai jenis biomassa seperti woodchip, sawdust, pelet sampah dan limbah uang kertas, seperti yang diterapkan di PLTU Jeranjang Lombok,” katanya.

Kapasitas terpasang sistem kelistrikan Pulau Lombok saat ini mencapai 360 MW, dengan beban puncaknya mencapai 320 MW.

Selain dari PLTU Jeranjang 75 MW, sistem kelistrikan Lombok juga dipasok dari PLTMGU (Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas Uap) Lombok Peaker 150 MW, PLTU IPP (swasta) 50 MW dan sisanya dari PLTS dan pembangkit diesel.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense