BREAKING NEWS
 

CEO Pertamina NRE John Anis

Storage Dan Gasifikasi Terapung Jawa-1, Jadi Pembangkit Terintegrasi, Terbesar Di Asia Tenggara

Reporter : BAMBANG TRISMAWAN
Editor : FIRSTY HESTYARINI
Minggu, 27 Oktober 2024 08:00 WIB
CEO Pertamina NRE John Anis. (Foto: Khairizal Anwar/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pertamina New & Renewable Energy atau Pertamina NRE menjadi garda terdepan dalam transisi energi nasional. Anak bungsu perusahaan Pertamina itu fokus mendukung Pemerintah mencapai target dekarbonisasi menuju net zero emission, sekaligus membangun fondasi bisnis energi masa depan. Salah satu pencapaian terbesar Pertamina NRE adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Jawa-1 di Karawang, Jawa Barat.

CEO Pertamina NRE John Anis menjelaskan, pembangkit listrik Jawa-1 memiliki sejumlah keunggulan. Sebagai pembangkit gas uap terintegrasi yang terbesar di Asia Tenggara, menggunakan teknologi canggih gas-to-power yang dilengkapi Floating Storage and Regasification Units (FSRU). Ini teknologi yang relatif baru di Indonesia. Sederhananya, gas alam cair (LNG) diambil menggunakan kapal khusus dari lapangan gas di Tangguh, Teluk Bintuni, Papua Barat. Setelah itu, LNG disimpan di fasilitas Floating Storage dan diregasifikasi (diubah kembali menjadi bentuk gas) oleh sistem FSRU. Proses regasifikasi ini memungkinkan gas tersebut digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik. Gas yang sudah diregasifikasi kemudian dialirkan ke pembangkit listrik Jawa-1 untuk menggerakkan turbin, yang menghasilkan energi listrik.

Pembangkit listrik Jawa-1 terdiri dari dua unit pembangkit. Masing-masing berkapasitas 880 megawatt (MW), sehingga total kapasitasnya mencapai 1.760 MW. Sejak Maret lalu, pembangkit ini sudah beroperasi penuh. Pembangkit ini diproyeksikan dapat mengurangi karbon hingga 3,3 juta ton CO2 per tahun.

John Anis berharap fasilitas ini bisa diresmikan oleh Presiden. “Mudah-mudahan presiden yang baru, berkenan meresmikan. Karena ini adalah satu upaya untuk mengurangi emisi. Dan ini merupakan fasilitas terintegrasi terbesar di Asia Tenggara,” kata John dalam wawancara khusus dengan Rakyat Merdeka, di kan­tornya, Grha Pertamina, Jakarta, Senin (14/10/2024).

Dari Rakyat Merdeka ha­dir Direktur Pemberitaan Ratna Susilowati, Pemred RM Digi­tal Firsty Hestyarini, reporter Bambang Trismawan dan foto­grafer Khairizal Anwar. Berikut petikan wawancara selengkap­nya:

Baca juga : Pakai AI, BRIN Analisis Produk Makanan

Di antara perusahaan migas, Pertamina NRE memimpin pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Salah satu visi Pertamina NRE adalah menjadi “energy champion.” Apakah visi ini sudah tercapai?

Sebelum menjawab itu, kita perlu mengingat Pertamina NRE mendapat dua mandat utama. Pertama, membantu Pemerintah dalam dekarbonisasi, termasuk mencapai target net zero emis­sion pada tahun 2060. Mandat kedua adalah mempersiapkan bisnis untuk masa depan. Kita tahu, transisi energi tidak ter­jadi dalam satu atau dua tahun. Proses ini bisa memakan waktu 10 hingga 20 tahun. Jadi kita secara bertahap akan berge­ser dari energi berbasis bahan bakar fosil ke energi baru ter­barukan.

Di mana posisi Pertamina NRE saat ini dalam pengembangan energi baru terbarukan?

Kami ini perusahaan yang masih relatif baru di bawah Pertamina. Bisa dibilang anak bungsu jika melihat struktur holding-nya. Pertamina sudah melakukan holdingisasi, dengan tujuan memperkuat dan mem­fokuskan setiap unit bisnis pada core masing-masing. Di hulu ada Pertamina Hulu Energi, di kilang ada Kilang Pertamina Internasional, untuk distribusi ada Patra Niaga, dan ada juga unit gas. Setelah itu baru ada kami, Pertamina NRE.

Awalnya kami memulai dari skala yang kecil. Namun, se­jak awal kami sudah memiliki tiga pilar dalam pengembangan bisnis. Pilar pertama adalah pengembangan bisnis rendah karbon, pilar kedua adalah energi baru, dan pilar ketiga adalah ekspansi.

Baca juga : PKB Dukung Prabowo

Bisa dijelaskan?

Di tahap awal, kami me­lihat bisnis yang sudah ada dan memasukkannya ke dalam portofolio PT NRE. Di pilar pertama, yaitu pengembangan energi rendah karbon. Di sini ada geothermal, termasuk gas-to-power. Kalau Anda pernah mendengar tentang Jawa-1, itu adalah salah satu proyek awal yang menjadi cikal bakal pengembangan Pertamina NRE. Kami juga melakukan beberapa inisiatif terkait efisiensi energi dan pemeliharaan pembangkit listrik, baik yang captive mau­pun untuk pasar umum.

Sejak awal, pertumbuhan kami terbilang cukup besar, dengan portofolio yang terus bertambah. Untuk geothermal misalnya, kami sudah menca­pai kapasitas 672 MW yang tersebar di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi Utara. Potensinya masih sangat besar dan terus kami kembangkan. Ada juga perkembangan proyek geother­mal di Lumut Balai, Sumatera Selatan. Kapasitasnya sekitar 55 MW. Kami terus mendorong pengembangannya.

Kemudian, untuk gas-to-power, ada Jawa-1 Power. Akhirnya su­dah beroperasi penuh. Proyek ini cukup panjang prosesnya. Pembangkitnya terdiri dari dua unit dengan kapasitas masing-masing 880 MW, jadi totalnya mencapai 1.760 MW. Tahun lalu, tren kedua unit sudah mu­lai beroperasi, dan ini menjadi salah satu kebanggaan kami.

Teknologi yang digunakan cukup canggih dan menjadikan Jawa-1 salah satu proyek gas terintegrasi terbesar di Asia Tenggara. Proyek ini menggu­nakan LNG (Liquefied Natural Gas), yang kemudian diubah menjadi energi listrik dan dialir­kan ke PLN.

Baca juga : KBL Berbasis Baterai Dikasih Keistimewaan

Pilar kedua adalah pengem­bangan energi baru terbarukan. Di sini ada solar panel, biomass, energi terbarukan lainnya. Kami intensif mengembangkan solar panel, meskipun kapasitasnya masih relatif kecil. Total kapa­sitas yang kami miliki saat ini adalah sekitar 56 MW, dan kami berharap angka ini terus bertambah. Tantangan dalam pengembangan solar panel terutama adalah kebutuhan lahan yang luas.

Untuk biomass, kami juga sudah mulai mengembangkan di Sumatera Utara, meskipun skalanya belum besar. Meski be­gitu memberikan dampak positif terhadap ekonomi sirkular. Ini merupakan bagian dari komit­men kami terhadap energi hijau dan pengurangan emisi karbon.

Portofolio lainnya termasuk sistem CDC (Charge Discharge/pengisian atau pengosongan baterai). Ini sudah mulai diter­apkan di Inalum, Mind ID, dan Antam, dengan PLN juga akan segera bergabung. Teknologi ini diharapkan menjadi salah satu ujung tombak dalam mendukung elektrifikasi, khususnya di sektor mobilitas, dan juga mendukung program hilirisasi pemerintah.

Selain itu, kami juga mulai melihat potensi pengembangan bioethanol. Secara keseluruhan, pertumbuhan kami cukup pesat, tetapi kami ingin tumbuh lebih cepat lagi karena ambisi kami lebih besar ke depan.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense