RM.id Rakyat Merdeka - Bisnis penerbangan di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Berbagai persoalan kerap menimpa bisnis ini.
"Sektor bisnis penerbangan saat ini kondisinya sangat tidak baik-baik saja. Jika dibiarkan, kondisi bukan tidak mungkin dampaknya akan memburuk," kata pengamat penerbangan Gatot Rahardjo, di Jakarta, Kamis (31/10/2024).
Gatot mengungkapkan, ada tiga persoalan yang kini terus menghantui bisnis penerbangan. Pertama, dari harga bahan bakar avtur yang digunakan yang bisa mencapai 30 persen dari total biaya bagi maskapai full service atau bahkan mencapai 50 persen bagi maskapai low cost carrier (LCC).
Kedua, biaya maintenance sebesar 16 persen, termasuk untuk pengadaan sparepart. Untuk impor sparepart ini masih dibutuhkan waktu lama dan sebagian besar masih dikenakan bea masuk yang besar.
Baca juga : Pengamat: Pertahankan Nol Serangan Teroris, Tantangan Besar Bagi Prabowo-Gibran
Ketiga, biaya sewa pesawat sebesar 14 persen. Jika ditotal tiga biaya itu, bagi maskapai full service sudah mencapai 60 persen, sedangkan maskapai LCC bisa mencapai 80 persen.
Tentu saja kenaikan biaya itu akan mempengaruhi kenaikan total biaya maskapai.
"Sedihnya lagi, biaya-biaya tersebut juga dipengaruhi oleh nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS. Semakin tinggi harga dolar, semakin besar juga biaya yang ditanggung karena pemasukan maskapai adalah rupiah," ungkapnya.
Ketua Umum Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Denon Prawiraatmadja menambahkan, kondisi bisnis industri penerbangan saat ini masih dalam keadaan kritis.
Baca juga : Pembelakan Menteri Di Akmil: Satu Komando Di Bawah Arahan Presiden
Hal ini disebabkan oleh pemulihan yang belum optimal pasca Covid-19, yang kini ditambah dengan dampak krisis geopolitik global yang menyebabkan kenaikan harga avtur.
"Bisnis penerbangan seperti sudah jatuh tertimpa tangga. Karena belum selesai 100 persen pemulihan akibat terdampak pandemi Covid-19 dari tahun 2020-2022, dan sekarang terdampak krisis geopolitik global," ujarnya.
Denon menjelaskan, maskapai nasional telah berupaya meningkatkan produksi untuk menambah pendapatan.
Namun, mereka menghadapi kendala biaya yang sangat tinggi serta melemahnya daya beli masyarakat.
Baca juga : Satgas Damai Cartenz Tangkap Anggota KKB Mairon Tabuni di Bandara Ilaga
"Berbagai problem yang menghantam industri penerbangan menyadarkan kita bahwa jika ingin survive, kita harus kolaborasi. This is collaboration era, not competition era! Tantangannya terlalu besar untuk kita hadapi sendiri-sendiri," tegasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.