Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pengembangan Kompetensi One Health di 20 Kampus Berakhir, Dampaknya Signifikan
Kamis, 17 Oktober 2024 11:08 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pandemi Covid-19 telah menjadi pembelajaran untuk semua sektor, termasuk pendekatan One Health, untuk mencegah terjadinya pandemi di masa mendatang.
Mengingat, banyaknya penyakit zoonosis dan infeksius baru yang masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia.
Tantangan ini memerlukan kolaborasi dan koordinasi lintas sektor dari berbagai disiplin ilmu. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Ditjen Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi telah bekerja sama dengan Indonesia One Health University Network (INDOHUN) dengan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), melalui proyek One Health Workforce Next Generation (OHW-NG).
Proyek kolaborasi ini bertujuan menghasilkan SDM yang memiliki kompetensi One Health pada tiga sektor utama.
Ketiganya yaitu, kesehatan masyarakat, kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan hidup termasuk satwa liar, untuk pelaksanaan program pencegahan, deteksi dini dan respon terhadap zoonosis dan penyakit infeksius baru.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi (Diktiristek) Prof. Dr. Abdul Haris dalam video sambutan pada penutupan proyek OHW- NG mengatakan, selama 5 tahun pelaksanaan proyek, telah dihasilkan berbagai program yang melibatkan civitas akademika, pemerintah daerah, industri dan masyarakat, yang berdampak cukup signifikan.
Di antaranya, peningkatan jumlah lulusan yang kompeten di bidang One Health; terbentuknya jaringan kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan pemangku kepentingan lainnya.
Baca juga : PNM Kembangkan Potensi Petani Aceh Lewat Klasterisasi Komoditas Minyak Nilam
Kemudian, inovasi dan solusi-solusi baru dalam mengatasi permasalahan kesehatan yang kompleks; dan kontribusi dalam penanganan pandemi Covid-19, seperti pelatihan mahasiswa dalam tracing dan testing.
“Kegiatan proyek ini juga sudah diintegrasikan dengan berbagai program unggulan Ditjen Diktiristek,” imbuh Abdul Haris.
Sejumlah program dimaksud adalah program dan aktivitas dosen dan mahasiswa dalam menangani kasus zoonosis dan masalah kesehatan di daerah sekitar melalui pendekatan One Health melalui One Health Student Club.
Lalu, pelatihan One Health di beberapa universitas serta kegiatan yang telah dilaksanakan oleh One Health Collaborating Center (OHCC) bekerjasama dengan universitas dan pemerintah serta masyarakat di daerah.
Saat ini, lanjut Haris, terdapat 8 OHCC di Indonesia, yaitu Universitas Airlangga (Jawa Timur), Universitas Gadjah Mada (DI Yogyakarta), Universitas Udayana (Bali), Universitas Syiah Kuala (Aceh).
Lalu, Universitas Cenderawasih (Papua), IPB University (Jawa Barat), Universitas Hasanuddin (Sulawesi) dan Universitas Mulawarman (Kalimantan Timur).
Selanjutnya adalah program kerja sama melalui Kedaireka, yaitu One Health City di Universitas Airlangga dan Kampung One Health di Universitas Cenderawasih, serta Kegiatan MSIB/Magang Independen melalui One Health Young Leaders selama 2 batch.
Baca juga : Purna Tugas, Cak Imin Kemas Barang Setelah 20 Tahun Berkarier Di Senayan
Kemendikbudristek berharap INDOHUN bersama OHCC dapat menjadi think tank Ditjen Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, khususnya sebagai pusat riset dan IPTEK terkait One Health yang akan menghasilkan evidence-based policy untuk pencegahan penyakit.
“Juga promosi kesehatan, deteksi dini, kesiapsiagaan, dan pemulihan dari krisis kesehatan,” ucap Abdul Haris.
Dia juga berharap INDOHUN dapat melanjutkan kemitraan dengan USAID, dunia industri dan berbagai stakeholders lainnya, dalam mengembangkan OHCC di seluruh wilayah di Indonesia.
Pihaknya akan memfasilitasi kolaborasi INDOHUN dengan Kelompok Kerja Nasional AHS dalam upaya percepatan pengembangan OHCC di berbagai wilayah di Indonesia.
“Kemendikbudristek juga akan terus berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, KLHK, dan Kemenko PMK dalam menyusun berbagai kebijakan untuk mendukung implementasi One Health di Indonesia,” sambungnya.
Ketua Tim Indonesia’s Global Health Security Program USAID, Monica Latuihamallo mengatakan, pihaknya akan terus menjalin kerja sama lanjutan dengab Pemerintah Indonesia, mengingat Indonesia adalah negara besar yang tidak luput dari ancaman pandemi.
Karena itu, lanjut Monica, USAID menganggap investasi peningjatan kapasitas SDM terkait penanganan pandemi ini perlu diprioritaskan.
Baca juga : Dukung Pengembangan Ekonomi Desa, Program Desa BRILiaN 2024 Terus Berlanjut
“Kolaborasi lintas sektor juga sangat diperlukan,” ujarnya.
Koordinator INDOHUN, Prof Dr Agus Suwandono mengatakan, saat ini program ONE Health di 20 Kampus dengan 32 fakultas yang turut di dalamnya, telah menjadi tren tersendiri.
One Health sendiri bukan sebuah mata kuliah, melainkan sebuah keterampilan tersendiri tentang kepemimpinan, komunikasi efektif, manajemen partisipatif, budaya dan gaya hidup yang dapat dimanfaatkan mahasiswa sebagai sebuah soft skill.
Hal itu nanti berguna saat mengatasi berbagai persoalan terkait penanganan pandemi dan masalah kesehatan masyarakat lainnya.
“Beberapa kampus bahkan sudah menjadikan One Health Student Club sebagai sebuay Unit Kegiatan Mahasiswa. Contohnya di Unair, Udayana dan Unsyiah,” kata Agus.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya