RM.id Rakyat Merdeka - Penguatan program transisi hijau untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) Indonesia 2060 dibuktikan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI dengan pendanaan dan dukungan untuk debitur.
Peran strategis BNI dalam mendorong transisi hijau di Indonesia menjadi katalis positif untuk kinerja dan sahamnya.
Belum lama ini, BBNI turut hadir dalam acara The 29th Conference of the Parties to the UN Framework Convention on Climate Change (COP29) di Baku, Azerbaijan.
Dalam agenda tersebut, Direktur Risk Management BNI David Pirzada menyoroti peran strategis dalam mendukung transisi hijau di Indonesia.
Dalam mendukung transisi hijau di Indonesia, BNI memiliki platform kredit yang diberi nama Sustainable Linked Loan (SLL).
Baca juga : wondr by BNI Dongkrak Pertumbuhan, Analis Ramai-Ramai Untuk Buy BBNI
Hingga September 2024, BNI telah menyalurkan SLL sebesar Rp5,5 triliun untuk beberapa sektor termasuk agrifood, manufaktur semen, baja hingga kemasan.
Komitmen BNI dalam mendorong transisi hijau di Tanah Air sudah dilaksanakan bertahun-tahun. Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan nilai pinjaman hijau bank yang signifikan sejak tahun 2020 dan menjadi salah satu segmen di dalam platform kredit SLL.
Per akhir tahun 2020, nilai portofolio pinjaman hijau BNI sebesar Rp29,5 triliun. Apabila dibandingkan dengan kredit tersalur BNI yang mencapai Rp553 triliun, kontribusinya baru 5 persen.
Namun dalam kurun waktu 4 tahun, nilai portofolio kredit hijau BNI mencapai Rp70,9 triliun atau 10 persen dari total kredit bank per September 2024.
Dengan demikian, pertumbuhan kredit hijau BNI mencapai angka 26 persen per tahun atau konsisten tumbuh double digit.
Baca juga : Wamenkop Dorong Koperasi Susu Boyolali Lebarkan Sayap Ke Industri Pengolahan
Beberapa sektor yang turut mendorong pertumbuhan kredit hijau BNI adalah untuk sektor energi baru dan terbarukan (EBT) atau yang dikenal dengan renewable energy, bangunan hijau (green building) dan pencegahan polusi.
Mengacu pada data resmi yang diungkap perseroan, kredit untuk sektor EBT tumbuh 21,4 persen per tahun sejak 2020.
Di waktu yang sama, kredit yang disalurkan ke green buildings tumbuh 78% per tahun dan untuk sektor pencegahan polusi meningkat pesat dengan laju 109 persen per tahun.
Ciptadana Sekuritas dalam laporan risetnya juga turut menyoroti berbagai inisiatif BNI untuk mendorong transisi hijau di Indonesia.
“Dimulai pada tahun 2019, BNI menargetkan identifikasi dasar pembiayaan berkelanjutan pada berbagai industri seperti kelapa sawit, energi terbarukan, hutan sosial, dan obligasi hijau," ujar Erni Marsella Siahaan, analis Ciptadana Sekuritas dalam laporan risetnya.
Baca juga : Dukung Nelayan Natuna, Pertamina Berikan Bantuan Kapal
Dia juga mencatat bahwa responsible financing untuk kegiatan bisnis berkelanjutan, termasuk portofolio hijau, mencapai Rp188 triliun atau 26 persen dari total pinjaman.
Penerbitan obligasi hijau juga telah dimulai pada tahun 2022 sebesar Rp5 triliun, dengan 87 persen hasilnya telah dialokasikan sesuai dengan proyek hijau.
Dengan berbagai inisiatif tersebut, kinerja keuangan BNI yang tetap sejalan sesuai dengan estimasi serta perkiraan kinerja untuk 2024-2026 yang tidak berubah.
Ciptadana Sekuritas menyematkan rekomendasi beli saham BNI dengan target harga Rp6.700 per saham.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.