Dark/Light Mode

Wamenkop Dorong Koperasi Susu Boyolali Lebarkan Sayap Ke Industri Pengolahan

Kamis, 14 November 2024 23:12 WIB
Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop), Ferry Juliantono. (Foto: Ist)
Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop), Ferry Juliantono. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop), Ferry Juliantono mengungkapkan, sejumlah langkah untuk membantu peternak sapi perah dan produsen susu di Boyolali menghadapi tantangan mereka.

Hal ini disampaikan dalam audiensi dengan peternak, pengurus, dan anggota Koperasi Unit Desa (KUD) Mojosongo di Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (14/11/2024).

Ferry menjelaskan, Kementerian Koperasi (Kemenkop) hadir untuk mendampingi koperasi susu di Boyolali, termasuk KUD-KUD, agar mereka dapat meningkatkan produksi dan konsumsinya. “Kemenkop hadir di sini, turut mendorong prioritas yang ditargetkan pemerintah, yakni swasembada pangan, dengan susu sebagai salah satu produk utama,” ungkap Ferry.

Baca juga : Siapkan Generasi Emas, Askrindo Gelar Gerakan Anak Sehat Indonesia di Labuan Bajo

Ia juga menegaskan, Kementerian Pertanian (Kementan) telah menetapkan kebijakan untuk mewajibkan industri pengolahan susu menyerap produksi dari peternak lokal. Sementara itu, Kemenkop akan mendukung kebutuhan para peternak dengan menyediakan peralatan seperti suling dan alat pendingin, yang akan didanai melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) KUMKM.

“Kami akan membantu pengadaan alat-alat pendingin untuk koperasi susu, juga memberikan pendampingan langsung,” tambah Ferry. 

Lebih lanjut, ia mendorong, koperasi susu untuk tidak hanya menyediakan bahan baku tetapi juga merambah ke industri pengolahan susu dengan mendirikan pabrik mereka sendiri. “Kami melihat ada aset-aset milik KUD di Boyolali yang bisa dimanfaatkan untuk ini. Semoga dalam waktu dekat bisa terwujud,” ucapnya.

Baca juga : Kemendag Dorong Ekspansi Pasar Global Buat UMKM Indonesia

Langkah ini diharapkan tidak hanya mendukung ekosistem pengolahan susu dari hulu ke hilir, tetapi juga menekan ketergantungan impor susu jangka panjang. Ferry menyebut, saat ini impor susu masih diperlukan untuk memenuhi permintaan nasional yang tidak sebanding dengan produksi lokal.

“Dengan adanya pabrik pengolahan milik koperasi, kita bisa mengurangi impor dan menuju swasembada susu,” jelas Ferry.

Sementara itu, Manager KUD Mojosongo, Winarno menjelaskan? Boyolali menghasilkan sekitar 640 ton susu per hari dari tiga koperasi, tetapi sekitar 30 ton di antaranya belum terserap. Ia berharap audiensi ini dapat membuka jalan untuk penyerapan susu lokal yang lebih terjamin.

Baca juga : ArtMoments Spot London Sukses Promosikan Seni Indonesia ke Mancanegara

Di sisi lain, Mardiyono, peternak yang juga anggota KUD Mojosongo, mengapresiasi rencana pendirian pabrik pengolahan susu oleh Kemenkop. Ia juga berharap harga susu di tingkat peternak bisa naik agar sesuai dengan biaya produksi. “Harga pakan ternak terlalu tinggi, sedangkan harga susu rendah. Kami berharap pemerintah menetapkan harga susu yang layak,” ungkap Mardiyono.

Senada, Kuncoro, peternak lain, menegaskan bahwa peternak sapi perah di Boyolali masih membutuhkan pendampingan dalam menjaga kualitas produk susu. Ia juga menekankan perlunya pembaharuan mesin pengolahan susu, dengan biaya yang diperkirakan mencapai Rp 400 miliar.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.