RM.id Rakyat Merdeka - Staf Ahli Ekonomi Makro Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Imam Suyudi optimis ekonomi Indonesia bisa tumbuh 8 persen, sebagaimana ditargetkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Akan tetapi, ia menggarisbawahi, target tersebut tidak bisa dicapai dengan instan. Melainkan harus dilakukan secara bertahap dan inklusif.
"Kata inklusif ini menurut kami sangat penting," kata Imam Suyudi, saat membuka obrolannya di Podcast Ngegas di kanal YouTube Rakyat Merdeka TV, yang turut menghadirkan Managing Director, Head of Global Market & Securities Services HSBC Indonesia Ali Setiawan dan dipandu oleh Firsty Hestyarini dan Siswanto, Senin (25/11).
"Meskipun kita mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen, tetapi jika tidak merata, maka manfaatnya tidak bisa dirasakan oleh semua kalangan, baik atas maupun bawah," lanjutnya.
Untuk mencapai target tersebut, kata Imam, Kementerian Investasi dan Hilirisasi di bawah komando Menteri Rosan Roeslani Perkasa, telah mengimplementasikan berbagai program strategis.
Salah satunya adalah percepatan proses perizinan untuk mendukung iklim investasi yang kondusif. Imam menambahkan, pemerintah kini telah melakukan revisi PP Nomor 5 terkait percepatan perizinan dengan konsep fiktif positif.
Baca juga : Prof Didik: Industri Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
"Artinya, kita memberikan kepastian jangka waktu perizinan," terangnya.
Sebagai contoh, kata Imam, Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) atau sebelumnya disebut izin lokasi, hingga Izin Mendirikan Bangunan (IMB) atau Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) kini semuanya sudah diintegrasikan ke dalam sistem.
Namun, tantangan besar bagi Indonesia adalah keluar dari jebakan middle-income trap, yang telah berlangsung hampir tiga dekade.
Diungkapkan Imam, negara-negara seperti Korea Selatan dan Taiwan yang sebelumnya berada pada tingkat pendapatan per kapita yang serupa dengan Indonesia di tahun 1990-an, kini telah berhasil keluar dari kategori tersebut dan menjadi negara maju.
"Korea Selatan dan Taiwan memiliki empat program unggulan," sebutnya.
Dari keempat program unggulan tersebut, dua di antaranya adalah pembangunan infrastruktur dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).
Baca juga : Efisiensi Dan Inovasi Investasi Kunci Capai Target Ekonomi 8 Persen
"Pembangunan infrastruktur, (Indonesia) sudah, tapi mungkin perlu ditambah," tuturnya.
Soal SDM, Korsel maupun Taiwan tak main-main. Mereka banyak menyekolahkan mahasiswanya ke kampus-kampus terkenal di dunia, seperti Harvard atau Oxvord University.
"Mereka itu dikirimkan untuk
Scholarship di program-program unggulan mereka," ujar Imam Suyudi.
Jika mahasiswa Korea itu banyak kualiah di bidang ilmu Heavy Industry, seperti industri perkapalan, baja, otomotif hingga nanoteknology. Taiwan lebih dikhususkan kepada semikonduktor dan elektronik.
Anggaran penelitian atau research and development (R&D) yang diplot oleh pemerintah kedua negara ini cukup besar. Bahkan di Korsel, anggaran R&D nya disebut-sebut menjadi yang terbesar di dunia.
"Budgetnya itu terbesar di dunia untuk pengembangan sektor prioritas mereka," ungkapnya.
Baca juga : Kawal Investasi Mobil Listrik, Menteri Rosan Temui Perusahaan EV di China
Program unggulan ketiga, sebut Imam Suyudi, Korsel dan Taiwan serius menyiapkan SDM dari hulu hingga hilir. Sehingga aetelah 20-30 tahun, produktivitas SDM mereka sangat tinggi, mendukung perusahaan lokal untuk bersaing global.
"Taiwan, misalnya, menjadi pemain utama semikonduktor dunia," tuturnya.
Dikatakan, Presiden Prabowo sudah menyampaikan rencana untuk meningkatkan nilai tambah lewat hilirisasi. Apalagi saat ini, terdapat 28 komoditas unggulan yang bisa membawa Indonesia menuju revolusi ekonomi dalam 10-20 tahun mendatang. "Dengan catatan kita harus menyiapkan SDM unggul," tandasnya.
Menurut Imam, pertumbuhan ekonomi inklusif hanya bisa didorong oleh produktivitas SDM yang juga meningkat. "Contohnya, jika pekerja memiliki sertifikasi dan keahlian, mereka bisa mendapatkan upah UMR plus. Produktivitas yang meningkat akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara signifikan," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.