Dark/Light Mode

Gubernur BI Optimis Ekonomi Makin Baik

Minggu, 1 Desember 2024 08:05 WIB
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. (Foto: BI)
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. (Foto: BI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimis, ekonomi Indonesia ke depan makin baik. Syaratnya, semua pihak selalu kompak dan bersinergi. 

"Karena masalah berat dan kompleks tidak mungkin dihadapi sendiri. Perlu kerja sama dan koordinasi, the power of we. Bersatu kita kuat dan bangkit," kata Perry, dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia bertema Sinergi Memperkuat Stabilitas dan Transformasi Ekonomi Nasional, di Jakarta, Jumat (29/11/2024) malam. 

Dengan bersinergi, Perry optimis, ekonomi Indonesia di tahun 2025 dan 2026 akan menunjukkan kinerja yang cukup tinggi. "Mencapai 4,8 sampai 5,6 persen pada 2025 dan 4,9 persen sampai 5,7 persen pada 2026.

Dari mana hitungannya? Dari sisi konsumsi dan investasi, Perry memprediksi akan meningkat. Ekspor juga masih cukup baik di tengah perlambatan ekonomi global. Inflasi juga masih terkendali dalam sasaran inflasi 2,5 plus minus 1 persen pada 2025 dan 2026. 

"Didukung konsistensi kebijakan moneter dan fiskal, serta Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP)," paparnya. 

Perry menambahkan, nilai tukar rupiah pada 2025 akan dijaga stabil oleh komitmen kuat Bank Indonesia. Serta didukung kebijakan moneter dan fiskal, dengan fundamental yang baik. Mulai dari inflasi rendah, imbal hasil investasi yang menarik, dan pertumbuhan tinggi. Ditambah lagi dengan stabilitas eksternal terjaga, neraca pembayaran sehat, cadangan devisa meningkat. 

Baca juga : Warga Di Kolong Tol Dipindahkan Ke Rusun

Selain itu, lanjut dia, pertumbuhan kredit diperkirakan akan meningkat 11 sampai 13 persen pada 2025 dan 2026. Stabilitas sistem keuangan juga terjaga. Hasil stress-test menunjukkan ketahanan terhadap turbulensi global. Ekonomi keuangan digital seperti transaksi e-commercial, digital banking, dan uang elektronik semakin moncer. "Semuanya tumbuh tinggi," tandas Perry.

Kendati demikian, Perry mengingatkan publik tentang situasi dunia yang terus bergejolak. Terutama, setelah terpilihnya kembali Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Di mana, salah satu yang akan diusung Trump saat menjabat nanti adalah mengusung kebijakan America First. Kebijakan ini diyakini akan membawa perubahan besar pada lanskap geopolitik dan perekonomian dunia. 

Semisal tarif tinggi dan bahkan perang dagang, ketegangan geopolitik, disrupsi rantai pasok dagang, serta fragmentasi ekonomi dan keuangan. "Akibatnya, prospek ekonomi global akan meredup pada 2025 dan 2026," beber Perry. 

Perry menjelaskan, ketidakpastian akan semakin tinggi dengan lima karakteristik. Pertama, slower and divergent growth. Pertumbuhan dunia akan menurun pada 2025-2026. Sementara AS membaik, China dan Eropa melambat. "India dan Indonesia masih cukup baik," jelas Perry.

Kedua, reemergence of inflation pressures. Penurunan inflasi dunia akan melambat, bahkan berisiko naik pada tahun 2026 akibat adanya gangguan rantai pasok dan perang dagang. Ketiga, higher US interest rate. Penurunan Fed Fund Rate akan lebih rendah. Sementara yield US Treasury akan melonjak ke angka 4,7 persen pada 2025 dan 5 persen pada 2026. Hal ini disebabkan membengkaknya defisit fiskal dan utang pemerintah AS.

Keempat, strong US Dollar. Dolar AS akan menguat dari 101 ke 107. Akibatnya, terjadi  tekanan depresiasi terhadap nilai tukar mata uang di seluruh dunia. Termasuk rupiah. "Semoga, dolar Amerika tidak menguat lagi," harap Perry.

Baca juga : Gerindra 32, PDIP 21

Terakhir, invest in America. Perry meyakini, preferensi ini akan berkembang di kalangan investor global. Akibatnya, terjadi pelarian modal dari emerging market ke Amerika karena tingginya suku bunga dan kuatnya dolar. Kelima gejolak global tersebut memiliki dampak negatif ke berbagai negara, termasuk Indonesia. 

"Ini perlu kita antisipasi. Kita waspadai dengan respons kebijakan yang tepat untuk ketahanan dan kebangkitan ekonomi nasional yang telah susah payah kita bangun," tegas Perry. 

Terpisah, Anggota Komisi XI DPR Puteri Anetta Komarudin sepakat dengan pernyataan Perry bahwa seluruh pihak perlu terus bersinergi guna menghadapi tantangan perekonomian ke depan. Puteri mencontohkan kolaborasi saat menghadapi tantangan Covid-19 beberapa tahun lalu. 

"Kita merasakan adanya sinergi yang erat melalui bauran kebijakan fiskal, moneter dan perbankan yang telah terbukti mampu membawa ekonomi Indonesia cepat pulih," ujar politisi Golkar itu.

Wakil Ketua Komisi XI DPR Hanif Diakhiri beranggapan, sinergi lintas sektor tetap harus dibersamai dengan langkah konkret untuk menjawab tantangan struktural. Karenanya, proyeksi pertumbuhan ekonomi perlu ditopang oleh percepatan reformasi fiskal dan moneter. 

Selain itu, lanjut dia, dukungan konkret untuk UMKM serta penguatan investasi berbasis transformasi digital dan energi terbarukan. "Mitigasi risiko ekonomi global, seperti fluktuasi harga komoditas dan ketegangan geopolitik, juga harus menjadi prioritas," warning politisi PKB itu. 

Baca juga : Hitung Cepat Pilkada Malut Disorot Netizen

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah menilai, sikap optimis dan kerja sama saja tidak cukup untuk meningkatkan ekonomi Indonesia di tahun-tahun berikutnya. "Di masa Presiden Jokowi, kerja sama itu sudah ada dan sudah cukup baik. Namun, terbukti pertumbuhan ekonomi kita segitu-gitu aja," terang Piter kepada Rakyat Merdeka. 

Kenapa? Menurut Piter, banyak permasalahan ekonomi tak kunjung diselesaikan dengan baik. Korupsi, tekannya, masih merajalela. Perekonomian juga masih dihantui oleh biaya tinggi sehingga tidak efisien. Terlebih, Incremental Capital Output Ratio (ICOR/tambahan kapital baru) Indonesia di atas 6, sementara negara tetangga hanya berkisar 3-4. 

"Suku bunga kredit tinggi, perekonomian masih dihinggapi penyakit rente. Investasi tidak maksimal. Kerja sama seperti apa yang kita lakukan? Kalau masih seperti ini, kita tidak bisa optimis mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen," pungkas Piter. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.