BREAKING NEWS
 

BTN Syariah Potensial Jadi Pemain Besar

Reporter : IRMA YULIA
Editor : ESTI FITRIA WULANDARI
Jumat, 31 Januari 2025 07:05 WIB
Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu

RM.id  Rakyat Merdeka - BTN Syariah, Unit Usaha Syariah (UUS) milik PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN diperkirakan bakal menjadi pesaing utama di industri perbankan syariah nasional, setelah nantinya resmi menjadi Bank Umum Syariah (BUS) sebelum tahun 2025 berakhir.

Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu mengatakan, BTN Syariah memiliki basis pertum­buhan bisnis yang solid dan keunikan yang tidak dimiliki UUS dan BUS lainnya.

Hal ini terlihat dari raihan kinerja keuangan BTN Syariah, yang terus mencatatkan pertum­buhan pesat.

Sebagai contoh, aset BTN Syariah telah mencapai Rp 58 triliun per kuartal III-2024, tumbuh double digit atau 19,2 persen year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 48 triliun.

Bahkan per akhir 2024, aset BTN Syariah telah mencapai Rp 60 triliun.

“Kalau hitungan saya, dengan kecepatan yang sama, seharusnya (dalam waktu) tiga tahun (aset) BTN Syariah sudah (mencapai) Rp 100 triliun,” ujar Nixon di Jakarta, Selasa (21/1/2025).

Baca juga : Pemerintah Siap Kucurkan Modal Hingga Rp 10 Miliar

Sebagai informasi, baru-baru ini BTN selaku induk usaha mewujudkan keseriusannya untuk mengembangkan BTN Syariah, melalui pengumuman akuisisi PT Bank Victoria Sya­riah (BVIS).

Rencananya, BVIS akan diintegrasikan dengan BTN Sya­riah sebagai bagian dari proses spin-off BTN Syariah menjadi BUS, yang diharapkan dapat selesai pada semester II-2025.

Menurut Nixon, BTN Syariah memiliki potensi menjadi pemain besar di industri perbankan sya­riah karena ditunjang kapabilitas dan keunikannya sebagai UUS, yang saat ini memimpin pasar KPR (Kredit Pemilikan Rumah) berbasis syariah di Indonesia.

Berdasarkan data BTN Sya­riah, saat ini market share BTN Syariah di pasar KPR syariah di Indonesia telah mencapai lebih dari 90 persen.

Pasalnya, imbuh Nixon, dengan berubah dari UUS menjadi BUS, maka kepercayaan masyarakat segmen syariah akan jauh lebih tinggi.

Adsense

“Karena menurut mereka, UUS itu masih setengah-setengah atau abu-abu. Kalau sudah clear, black or white, kepercayaan atau trust level-nya naik. Sehingga biasanya yang pertama naik itu DPK (Dana Pihak Ketiga). Hitungan kami seperti itu,” beber Nixon.

Baca juga : Program Pangan Murah Digeber Jelang Ramadan

Dari sisi pembiayaan, BTN Syariah juga turut menopang kiprah induknya di Program Tiga Juta Rumah melalui penyaluran pembiayaan rumah subsidi, dengan menggunakan akad syariah.

Apalagi sekitar 20-25 persen Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) menginginkan akad KPR dengan skema syariah.

Karena itu, kata Nixon, setidaknya harus ada dua BUMN yang bergerak di bidang perbankan syariah, karena yang mau dilayani sangat besar.

“Jadi tolong dilihat, bahwa kuenya ini gede banget. Market-nya (BTN Syariah) tidak akan terlalu compete dengan mereka (bank-bank syariah lainnya),” tuturnya.

Hal senada dikatakan penga­mat perbankan, sekaligus Direk­tur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah. Dia melihat, pasar perbankan syariah nasional, membutuhkan pemain yang spesifik dan telah berpengalaman di bidang tersebut.

Menurutnya, BTN Syariah memiliki kapabilitas tersebut dan paling berpengalaman di dunia KPR.

Baca juga : PSV Rusak Rekor Sempurna Liverpool

Saat ini, BTN Syariah menjadi satu-satunya pemain syariah yang fokusnya di sektor peruma­han, karena tumbuh berbarengan dengan induknya.

“Hal ini menjadi bekal kuat untuk BTN Syariah, melayani lebih banyak segmen masyara­kat syariah ketika sudah di-spin-off menjadi BUS,” tukas Piter di Jakarta, Kamis (30/1/2025).

Harapan akan adanya ke­hadiran bank syariah baru yang berskala besar, juga diutarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), selaku regulator industri per­bankan dan keuangan.

Pada awal Januari, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, perbankan syariah Indo­nesia saat ini masih cenderung didominasi satu entitas.

“Sehingga tidak kondusif untuk persaingan antar bank syariah, maupun persaingan antara bank syariah dengan bank konvensional,” ujar Dian dalam konferensi pers hasil Rapat De­wan Komisioner OJK bulanan, Selasa (7/1/2025).

Oleh sebab itu, menurut Dian, OJK mendorong terjadinya kon­solidasi di perbankan syariah, terutama melalui aksi korporasi berupa spin-off, merger, ataupun akuisisi. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense