BREAKING NEWS
 

Negara Tetangga Krisis Pangan

Alhamdulillah, Kita Surplus Beras 5 Juta Ton

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : UJANG SUNDA
Senin, 24 Februari 2025 08:56 WIB
Petani di Bogor sedang memanen padi. (Foto: Patra Rizki Syahputra/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dua negara tetangga kita, Malaysia dan Filipina, dikabarkan sedang mengalami krisis pangan. Untungnya, pangan kita dalam posisi stabil. Bahkan, stok beras saja surplus 5 juta ton. Alhamdulillah.

Info surplus beras itu disampaikan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi dalam rekaman suara yang diunggah di akun Instagram @badanpangannasional, Minggu (23/2/2025). Arief memastikan, stok beras Indonesia aman. Berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia akan mengalami surplus produksi beras hingga 5 juta ton pada periode Maret-April.

"Jadi, prediksi dari BPS, KSA itu di atas 5 juta ton (surplus) Maret-April. Kalau setara gabahnya itu kurang lebih sekitar 12 juta ton," ucapnya. 

Karena banyaknya stok, Arief sedikit khawatir kondisi ini tidak menguntungkan para petani. "Kita ini agak khawatir, jangan sampai harganya itu jatuh gitu," ucapnya.

Saat ini, cadangan beras Pemerintah tembus 2 juta ton. Dengan stok sebanyak itu, Arief optimis, harga beras stabil. Saat ini, beras premium di Pulau Jawa dibanderol Rp 14.900 per kg. Sedangkan beras medium Rp 13 ribu per kg.

"Kita sudah punya stok dari akhir tahun lalu sekitar 1,9 sampai 2 juta ton. Jadi, insya Allah kita bisa menjaga stabilitas harga beras," ucapnya.

Baca juga : 40 Perkara Saat Pilkada Bakalan Diketok Hari Ini

Mengenai kabar krisis pangan di negara tetangga, disampaikan Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Selain Malaysia dan Filipina, Jepang juga tengah dilanda krisis pangan. Harga beras di tiga negara ini melonjak drastis.

Di Malaysia, kelangkaan beras memicu kepanikan masyarakat. Stok yang kurang memadai membuat harga beras gila-gilaan. Nahasnya, harga beras impor justru lebih tinggi.

Filipina, yang dikenal sebagai lumbung padi ASEAN, sudah menetapkan status darurat ketahanan pangan sejak awal Februari. Inflasi di sana tembus 24,4 persen, yang dipicu melonjaknya harga pangan.

Jepang juga tak jauh berbeda. Untuk pertama kalinya, pemerintah negeri sakura itu melepas 210 ribu ton beras dari cadangan darurat 1 juta ton akibat lonjakan harga yang tembus 82 persen.

"Negara yang bergantung pada impor beras sangat rentan ketika pasokan global terganggu. Ini menjadi pelajaran berharga bahwa ketergantungan pada impor bukanlah solusi jangka panjang. Indonesia harus memperkuat produksi dalam negeri," ucap Amran.

Adsense

Berdasarkan proyeksi BPS, produksi beras Indonesia periode Januari-Maret 2025 mencapai 8,67 juta ton. Angka tersebut jauh lebih besar dari produksi di periode yang sama tahun lalu, yang hanya 5,69 juta ton. Artinya, ada kenaikan 2,98 juta ton atau 52,32 persen.

Baca juga : Pengusaha Tambang Diminta Nyumbang Dana Kampanye

Capaian ini sejalan dengan potensi luas panen padi periode Januari-Maret 2025 yang diperkirakan meningkat 2,83 juta hektare atau 52,08 persen. Alhasil, produksi padi juga diperkirakan meningkat 15,06 juta ton gabah kering giling sepanjang Januari-Maret.

Guna memaksimalkan hasil panen para petani, Perum Bulog memastikan bakal terus melakukan penyerapan hingga Lebaran tiba. Target 3 juta ton gabah dengan harga Rp 6.500 per kg diyakini membuat para petani sejahtera.

Pemerintah telah memberi bantuan kepada Bulog melalui mekanisme Operator Investasi Pemerintah (OIP) sebanyak Rp 16,5 triliun untuk menyerap gabah petani terserap. Bulog pun semakin concern dalam upaya penyerapan gabah/beras secara maksimal. 

Hingga saat ini, serapan Bulog lebih dari 140 ribu ton setara beras, dengan realisasi harian di atas 8 ribu ton. Kesuksesan ini tak lepas dari strategi Bulog dalam mewujudkan swasembada pangan sesuai keinginan Presiden Prabowo Subianto.

Humas Perum Bulog Andrew R Shahab menyebut, ada tiga strategi yang dilakukan. Pertama, gencar sosialisasi. Kedua, membentuk tim jemput gabah hingga ke cabang. Ketiga, berkoordinasi dan mengumpulkan informasi dengan para stakeholders.

Kementerian BUMN juga telah meneken MoU dengan TNI terkait kerja sama strategis dalam upaya mencapai swasembada pangan sesuai arahan Presiden Prabowo. Selain itu, Bulog juga melibatkan penggilingan padi di seluruh Indonesia untuk dapat memaksimalkan penyerapan gabah/beras. Bulog dan Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) berkomitmen bersama dengan Kementerian Pertanian untuk dapat bersama-sama memenuhi target penyerapan gabah/beras sebanyak 3 juta ton.

Baca juga : OJK Ajak Anak Muda Bijak Kelola Keuangan

"Komitmen bersama ini sekaligus sebagai upaya pencapaian cadangan beras pemerintah untuk mendukung swasembada pangan," tutur Andrew.

Anggota Komisi IV DPR Daniel Johan gembira mendengar kabar Indonesia surplus beras. Kata dia, hal ini penting mengingat sebentar lagi memasuki Ramadan dan Lebaran. Artinya, Pemerintah sudah siap dengan kebutuhan masyarakat yang melonjak ketika Hari Besar Keagamaan tiba.

"Dengan kebutuhan rata-rata per bulan 2,5 juta ton beras, maka surplus 5 juta ton tersebut bisa dikatakan aman untuk 2 bulan ke depan," ujarnya.

Menurut Daniel, yang telah disampaikan Bapanas sudah on the track. Ia berharap, produksi beras terus meningkat. Tentu angka-angka ini harus dibuktikan dengan ketersediaannya. Dia pun memastikan, Komisi IV bersama mitra akan terus saling mendukung agar kebutuhan pangan saat Ramadan dan Lebaran serta hari-hari besar keagamaan lainnya tercukupi.

"Harapan kita, tahun ini tidak ada lagi berita langka beras, langka daging, gula, minyak dan kebutuhan dasar lainnya," pungkas Daniel.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense