RM.id Rakyat Merdeka - Industri e-commerce disinyalir masih menggunakan strategi bakar uang untuk menarik minat belanja masyarakat. Terutama dalam memanfaatkan momen bulan Ramadan, untuk meningkatkan penjualan. Fenomena ini diharapkan bisa dimanfaatkan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) memasarkan produknya.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyoroti, strategi bakar uang yang masih digunakan platform e-commerce untuk memenangkan persaingan.
“Persaingan e-commerce di Indonesia sangat ketat dan hampir semuanya menggunakan strategi bakar uang,” ujar Huda kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Karena itu, lanjut Nailul, pemberian diskon kerap dilakukan untuk menarik minat masyarakat berbelanja. Hal ini tak lepas dari karakteristik masyarakat Indonesia yang masih price oriented consumer.
Baca juga : Hilirisasi Kunci Pertumbuhan Dan Pemerataan Ekonomi RI
“Artinya, mana yang lebih murah, maka mereka akan membeli barang dari toko atau platform tersebut. Jadi, satu kasih diskon, yang lain pasti juga akan kasih diskon serupa,” jelasnya.
Ia melihat, pertumbuhan trafik atau transaksi e-commerce kali ini tetap ada, meskipun tidak setinggi pada 2021-2022.
“Pertumbuhan pada 2025, nampaknya di angka 5 persenan saja,” prediksinya.
Ia menjelaskan, hal ini disebabkan oleh dua hal, yaitu pergeseran kembali pola belanja menjadi belanja secara offline. Serta adanya tekanan daya beli akibat maraknya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) yang terjadi sejak tahun lalu.
Baca juga : Warga Jakarta Baiknya Mudik Lebih Awal Deh...
“Akibatnya, pendapatan agregat masyarakat bisa berkurang, konsumsi rumah tangga melambat, termasuk belanja di online store,” bebernya.
Terpisah, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Muhammad Nidhal mengatakan, hadirnya teknologi harus bisa dimanfaatkan para pelaku UMKM agar semakin berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Hal ini menjadi salah satu harapan besar dari transformasi digital di Indonesia.
“Digitalisasi harusnya memberi dampak positif pada pertumbuhan UMKM, yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional,” ujar Nidhal kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Baca juga : Manchester City Vs Brighton 2-2, Guardiola Panik Dan Terjepit
Apalagi di momen Ramadan, yang seharusnya trafik transaksi lebih tinggi dari biasanya.
Untuk mendukung itu, kata Nidhal, dibutuhkan koneksi internet yang merata, alias tidak hanya di kota-kota besar saja.
Ia menilai, tanpa akses listrik yang stabil, maka kualitas jaringan internet broadband juga menjadi terganggu sehingga sulit terhubung dengan ekosistem digital.
“Kalau masih ada kesenjangan akses internet maupun listrik, mereka terancam tertinggal dalam persaingan digital dan bisa kehilangan peluang miliaran rupiah dari ekonomi digital,” tutut Nidhal.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.