RM.id Rakyat Merdeka - Kehadiran Light Rail Transit/ LRT Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi (Jabodebek) memberi pengaruh signifikan terhadap pergerakan harga properti di wilayah sekitar stasiun. Kenaikannya mencapai 45 persen.
Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno mengatakan, LRT merupakan salah satu angkutan perkotaan modern yang diharapkan mampu mengalihkan pengendara kendaraan pribadi ke transportasi umum.
Artinya, ada segmen kelas tertentu yang ditargetkan memanfaatkan transportasi tersebut.
“Maka tidak heran kalau daerah yang dilalui lintasan LRT ini ikut tumbuh, termasuk properti,” ujar Djoko kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Sebab, lanjut Djoko, keberadaan transportasi umum erat kaitannya dengan pengembangan wilayah.
Baca juga : Inflasi Terkendali, Daya Beli Terjaga
“Biasanya, ketika suatu daerah dibangun stasiun, ekonomi di sekitarnya juga ikut tumbuh,” kata Djoko.
Namun yang terpenting, kata dia, Pemerintah harus punya kebijakan tegas agar keberadaan transportasi umum ini bisa dimanfaatkan optimal oleh masyarakat.
Apalagi LRT Jabodebek terus berupaya menambah rangkaian gerbong dan frekuensi perjalanannya.
“Jangan sampai kebijakan yang dikeluarkan malah membuat angkutan LRT jadi sepi,” imbaunya.
Ia mencontohkan, kebijakan libur Lebaran tahun ini. Pemerintah menerapkan kebijakan WFA (Work From Anywhere). Kebijakan ini diambil bertujuan untuk mengurai waktu keberangkatan mudik masyarakat. Tetapi, kebijakan itu berdampak pada penurunan jumlah pekerja yang menggunakan LRT Jabodebek.
Baca juga : Ditinggal Mudik, Jakarta Rawan Diamuk Kebakaran
Dia berharap, ke depan ada inovasi yang bisa menguntungkan semua pihak.
Wilayah Berkembang
Executive Vice President (EVP) LRT Jabodebek Mochamad Purnomosidi mengatakan, perkembangan wilayah yang dilalui LRT, cukup baik.
Bahkan harga tanah dan properti di area-area yang ada di sekitar stasiun, terutama di kawasan yang berada dalam radius 0,1 hingga 1 kilometer (km) naik harga hingga 45 persen.
Sementara untuk jarak 2 sampai 3 km, kenaikan harga tanah dan properti berkisar 35 sampai 40 persen.
Baca juga : Indonesia Vs Bahrain, Harga Mati
“Ini cukup menarik, signifikan kenaikannya, hampir 50 persen dari harga properti yang ada di sekitar stasiun LRT,” ujar Purnomo dalam diskusi bersama media, di Stasiun LRT Jabodebek Cawang, Kamis (20/5/2025).
Tak hanya soal kenaikan, dari segi efisiensi biaya terjadi peralihan penggunaan kendaraan pribadi ke LRT Jabodebek. Sehingga turut menghemat biaya bahan bakar hingga Rp 114,5 miliar per tahun. Selain itu, terjadi pengurangan emisi karbon hingga Rp 269 miliar per tahun.
“LRT Jabodebek juga diklaim, mengurangi potensi kerugian akibat kecelakaan kendaraan pribadi hingga Rp 4,6 triliun per tahun,” ujar Purnomosidi.
Bahkan, imbuh dia, berkurangnya kendaraan di jalan mengurangi beban infrastruktur karena mampu menghemat Rp 19,1 miliar per tahun dalam biaya perbaikan.
Karena itu, pihaknya akan terus mengoptimalkan LRT Jabodebek, melalui perpanjangan rute, penawaran promo diskon tiket, khususnya ketika masa libur Lebaran. Mengingat pengguna LRT Jabodebek mayoritas adalah para pekerja.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.