Dark/Light Mode

Bakar Sekolah, Tewaskan Guru

Teroris Papua Kembali Berulah

Senin, 24 Maret 2025 08:05 WIB
Tim Satgas Koops TNI Habema Kogabwilhan III ketika mengevakuasi guru korban penyerangan dan pembunuhan oleh kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Minggu (23/3/2025). (Foto: Dok. TNI)
Tim Satgas Koops TNI Habema Kogabwilhan III ketika mengevakuasi guru korban penyerangan dan pembunuhan oleh kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Minggu (23/3/2025). (Foto: Dok. TNI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kelompok bersenjata yang diduga bagian dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali melakukan aksi brutal. Kali ini, mereka membakar sekolah di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, yang mengakibatkan seorang guru bernama Rosalina (30) tewas di tempat.

Insiden ini terjadi Jumat (21/3/2025) sekitar pukul 17.00 WIT. Lokasi yang menjadi target serangan adalah SD YPK Anggruk, rumah guru, dan Puskesmas. Aksi tersebut membuat panik warga yang berada di dalam bangunan. Mereka berusaha menyelamatkan diri, tapi naas, Rosalina ditemukan meninggal dunia dengan luka parah akibat serangan tersebut.

Selain korban tewas, insiden ini juga menyebabkan tiga orang terluka serius, yakni Vidi, Cosmas, dan Tari. Sementara tiga orang lainnya, Vanti, Paskalia, dan Irmawati, mengalami luka ringan. Kejadian ini menyisakan trauma mendalam bagi para korban dan masyarakat setempat.

Menurut pihak TNI, serangan tersebut diduga dilakukan oleh kelompok OPM pimpinan Elkius Kobak. Kelompok kriminal bersenjata ini sebelumnya dilaporkan meminta sejumlah uang kepada para tenaga pengajar. Ketika permintaan mereka tidak dipenuhi, kelompok ini melakukan pembakaran dan kekerasan, termasuk pembunuhan terhadap Rosalina dan penganiayaan terhadap enam guru lainnya.

Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Candra Kurniawan mengutuk tindakan biadab kelompok tersebut. Selain membuat warga sipil meninggal, tindakan ini juga menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat.

Baca juga : Tantangan Ekonomi Saat Ini, Genjot Pendapatan Negara

“OPM ini benar-benar penjahat kemanusiaan yang tidak berperikemanusiaan,” ujar Candra, Minggu (23/3/2025).

TNI bergerak cepat mengevakuasi para korban yang masih hidup serta jenazah Rosalina. Sebanyak 58 guru dan tenaga kesehatan dari sejumlah distrik pedalaman Yahukimo juga diungsikan ke Wamena untuk menghindari ancaman lebih lanjut. Evakuasi dilakukan dengan menggunakan pesawat Adventist Aviation melalui Bandara Wamena, di bawah pengamanan ketat dari Satgas TNI

Dansatgas Rajawali II Koops TNI Habema Kogabwilhan III Letkol Inf Gustiawan menyatakan, medan berat dan ancaman gangguan dari kelompok bersenjata membuat proses evakuasi menjadi tantangan besar. “Namun, koordinasi yang baik memastikan keberhasilan misi ini,” jelasnya, Minggu (23/3/2025).

Pangkoops Mayjen TNI Lucky Avianto menegaskan, kehadiran Satgas Habema di Papua merupakan wujud nyata upaya negara untuk melindungi warga sipil, khususnya tenaga pendidik dan kesehatan di daerah konflik. “Negara tidak akan tinggal diam terhadap aksi kekerasan ini,” tegasnya.

Hingga kini, aparat masih memburu para pelaku dan meningkatkan patroli di wilayah rawan untuk mencegah kejadian serupa terulang. Mayjen Lucky juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan segera melaporkan aktivitas mencurigakan guna menjaga keamanan bersama.

Baca juga : TB Hasanuddin: Tidak Apa-apa Diuji, Biar Lebih Valid

Sementara, Kapuspen TNI Brigjen TNI Kristomei Sianturi menambahkan, pihaknya akan terus meningkatkan pengamanan di wilayah-wilayah rawan konflik di Papua. Ia menegaskan, keberadaan tenaga pendidik dan tenaga kesehatan sangat penting bagi pembangunan di Papua.

“TNI telah mengerahkan personel untuk mengevakuasi korban, mengamankan wilayah, dan mendukung pemulihan situasi pasca tindakan biadab dan pengecut dari OPM,” kata Brigjen Kristomei dalam keterangannya, Minggu (23/3/2025).

Kristomei juga mengingatkan TNI bersama aparat terkait terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menindak tegas pelaku serangan ini. Ia menekankan, TNI akan terus mendukung perlindungan warga sipil serta memastikan keamanan di wilayah yang berpotensi mengalami gangguan keamanan.

“TNI tidak akan tinggal diam terhadap aksi-aksi biadab dan pengecut yang mengancam keselamatan warga sipil dan stabilitas keamanan di Papua,” tandasnya.

Terpisah, Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Ia menyebut aksi itu dilakukan sebagai respons atas peran TNI yang dianggap menduduki jabatan sipil di Papua, termasuk sebagai guru dan tenaga kesehatan.

Baca juga : Abu Rizal Biladina: Kami Gugat Karena Ada Cacat Formil

“Maka dalam hal ini, penyerangan dan pembunuhan yang dilakukan oleh TPNPB terhadap enam guru dan pembakaran rumah-rumah di Distrik Anggruk adalah tepat sasaran,” ucap Sebby, Sabtu (22/3/2025).

Sebby juga menyebut, pengesahan RUU TNI oleh DPR membuktikan bahwa TNI telah menduduki jabatan sipil. Karena itu, TPNPB menganggap siapapun yang datang di Papua dengan berbagai latar belakang profesi telah terafiliasi dengan TNI.

“Berlakunya kembali dwifungsi ABRI di Indonesia, bukan hanya menjadi ancaman terhadap orang Papua saja, melainkan semua orang dan semua bangsa yang sedang dijajah oleh Indonesia harus berpikir untuk merdeka sendiri,” tandasnya. [BYU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.