Sebelumnya
Menurut Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudy Suhendar, setiap tahun pengunjung ke Museum Geologi mencapai 1 juta orang. Memeriahkan event itu, ada pameran dan sejumlah lomba terkait dunia pertambangan Indonesia. Salah satu event yang penting dalam perhelatan itu adalah Mining Life Talk.
Dialog pemimpin media massa dengan sejumlah pengusaha pertambangan Indonesia. Hadir sebagai pembicara, selain Budi Gunadi Sadikin, ada Tony Wenas (Presdir PT Freeport Indonesia), Sukmandaru Prihatmoko (Ketua Ikatan Ahli Geologi) dan Hendra Sinadia (Pengamat Pertambangan yang juga Executive Director Indonesian Coal Mining Association).
Dari Kementerian ESDM ada Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara, Muhammad Hendrasto, tampil sebagai keynote speech. Di tengah seminar juga hadir Nico Kanter (Presdir Vale Indonesia) dan sejumlah pimpinan dari perusahaan tam¬bang lainnya. Dari PT Bukit Asam, PT Timah, Antam, Adaro, KPC dan lain-lain.
Baca juga : Usaha Tambang Diberi Atensi, Pertumbuhan Bisa Naik 7 Persen
Budi Sadikin dicandai Suryopratomo, Direktur Utama MetroTV yang menjadi pemandu diskusi hari itu. Katanya, “Sekarang ini Anda jadi orang terkaya karena baru saja membeli saham Freeport sebesar 51 persen.” Budi Gunadi tertawa.
Inalum yang dipimpinnya memang baru saja menyelesaikan proses divestasi yang amat rumit, yaitu amanat agar Freeport kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Tentang bagaimana pertambangan bisa menaikkan pertumbuhan Indonesia, dia tak asal ngomong. Ada banyak angka, asumsi dan prediksi teknis yang disampaikan. Semuanya sangat beralasan dan rasional. Kuncinya: regulasi, konsisten, komitmen dan ada atensi tinggi dari semua pihak terhadap dunia pertambangan.
Budi bercerita, orang tahunya dunia tambang itu cuma merusak. Gali, gali, gali, lingkungan hancur, monyet hilang. “Kasian kan orang tambang,” katanya. Padahal, yang mereka kerjakan itu luar biasa. Masuk ke hutan belantara, terpencil, mungkin belum ada kehidupan. Atau masuk ke tempat di mana orang hidupnya susah. Mereka tak hanya mencari mineral tapi juga membangun jalan, bangun pelabuhan, bangun airport sehingga ada kehidupan.
Baca juga : Dapat Angin Segar, Ekonomi Bisa Tumbuh 5,2 Persen
“Tanpa tambang, tak mungkin ada Kota Sawahlunto. Tak akan ada Bukit Tinggi. Tanpa PT Timah, tak akan lahir Bangka Belitung. Tanpa minyak, tak mungkin ada Balikpapan. Tak akan ada Soroako kalau tak ada perusahaan nikel Vale. Dan tanpa Freeport, mungkin tak ada Koala dan Kencana di Timika,” kata Budi.
Jadi, orang tambang itu, lanjutnya, we are not building cities, but life. “Jadi nggak fair kalau kita hanya melihat dampak tanpa melihat apa yang mereka kerjakan. Mereka membangun kehidupan,” tegasnya. Bahkan seharusnya, dunia pertambangan itu diberi insentif agar bisa berkontribusi lebih besar untuk negara.
Data Kementerian Keuangan menunjukkan, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak dari sektor minyak, mineral dan batu bara (minerba) pada Desember 2018 mencapai Rp 46,6 triliun.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.