BREAKING NEWS
 

Antisipasi Tatanan Dunia Baru

Dino Patti Djalal: Saatnya Kebijakan Luar Negeri Jadi Panglima

Reporter & Editor :
BAMBANG TRISMAWAN
Minggu, 13 April 2025 14:24 WIB
Mantan Wamenlu sekaligus Founder FPCI Dino Patti Djalal berbicara dalam diskusi yang digelar The Yudhoyono Institute di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Minggu (13/4/2025). (Foto: RM.ID/BCG)

RM.id  Rakyat Merdeka - Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menegaskan pentingnya menjadikan kebijakan luar negeri sebagai prioritas nasional di tengah dinamika global yang kian tidak pasti. Menurutnya, dunia saat ini sedang mengalami transisi struktural besar yang akan membentuk ulang tatanan internasional.

It’s time for foreign policy,” kata Dino dalam diskusi bertajuk “Tata Dunia yang Berubah: Persaingan Kekuatan dan Masa Depan Stabilitas Regional dan Dunia” yang digelar di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Minggu (13/4/2025). Acara ini juga menghadirkan Wakil Menlu Arrmanatha Nasir, Senior Fellow CSIS Rizal Sukma, serta Wamen ATR/BPN Ossy Dermawan, dan dimoderatori oleh Ahmad Khoirul Umam.

Dino menyebut dunia kini memasuki “a great transition” serupa dengan saat runtuhnya Tembok Berlin pada 1990, yang menandai berakhirnya Perang Dingin. Namun, kali ini transisinya tidak sedrastis masa lalu, melainkan lebih kompleks dan tersembunyi.

Baca juga : DPR: Saatnya Perkuat Produksi Pangan Lokal

“Sekarang ini, kita menghadapi pergeseran sistemik dalam tatanan global, dan itu membutuhkan perhatian serius dari para pembuat kebijakan,” ujarnya.

Mantan Dubes RI untuk AS ini menilai di saat yang sama kepemimpinan global Amerika makin lemah. Sejak era Donald Trump, AS tak hanya mundur dari peran itu, tapi juga merusak tatanan dunia yang berbasis aturan.

Adsense

“AS tidak lagi tertarik untuk memimpin dunia. Tidak ada isu global pun saat ini yang benar-benar dipimpin oleh Amerika, entah itu perubahan iklim, perdagangan, atau keamanan,” katanya.

Baca juga : Daerah Diminta Siapkan Subsidi Pangan Via APBD

Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) ini juga menyoroti retaknya hubungan antara AS dan Eropa, yang selama ini menjadi pilar kekuatan Barat. Ia menyebut Eropa kini mulai membangun otonomi strategis dan berusaha mandiri dari bayang-bayang proteksi AS.

“Ini adalah perubahan sistemik yang permanen. Ke depan, Eropa akan tetap ingin punya asuransi sendiri dan tidak sepenuhnya bergantung pada Amerika,” ucapnya.

Dalam konteks ini, Dino menekankan bahwa geopolitik kini telah menggantikan ekonomi sebagai faktor dominan. Indikasinya tampak dari lonjakan anggaran pertahanan di negara-negara NATO, Jepang, dan China. 

Baca juga : Antisipasi Kemacetan Arus Balik, Polri Amankan Jalur Pemudik

“Geopolitik sekarang menjadi panglima. Anggaran pertahanan naik di mana-mana, bahkan China kini punya armada laut terbesar di dunia dari sisi jumlah kapal,” katanya.

Dino juga menyinggung posisi Asia Tenggara, khususnya ASEAN, dalam dinamika global ini. Ia mengajak agar ASEAN mempertahankan ASEAN exceptionalism, di mana kawasan tetap stabil dan damai meski kompetisi global meningkat.

“Di saat rivalitas besar meningkat di mana-mana, justru ASEAN tetap bisa menjaga stabilitas. Bahkan negara-negara besar tunduk pada mekanisme ASEAN. Itu kekuatan kita dan harus kita perjuangkan,” pungkasnya. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense