Sebelumnya
Menurut Perry, hal itu dampak dari sentimen global, yaitu kebijakan tarif AS. Sehingga ada sektor-sektor yang akhirnya hanya tumbuh terbatas akibat sentimen tersebut.
“Tetapi kami tetap optimis ada beberapa sektor yang bisa menjadi penopang pertumbuhan kredit pada tahun ini,” katanya.
Perry melihat kontribusi pertumbuhan kredit masih didukung oleh sektor industri, pertambangan, dan jasa sosial.
“Beberapa assessment memberikan risiko, bahwa pertumbuhan kredit 2025 akan menuju ke batas bawah kisaran 11 hingga 15 persen,” ucapnya.
Baca juga : Tidak Boleh Ada Anak Putus Sekolah Di DKI
Perlambatan ini belum mencerminkan pelemahan yang mendasar pada fungsi intermediasi perbankan. Sebab, ia melihat minat perbankan untuk memberikan kredit cukup tinggi.
Ini tercermin dari indeks lending standard, yang merupakan persyaratan-persyaratan pemberian kredit, belum ada tanda-tanda pengetatan. Bank terlihat masih longgar memberikan kredit.
Menyoal ini, Chief Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengamini, perbankan akan merasakan dampak negatif dari kombinasi sentimen kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Akibatnya, arus modal asing keluar dari pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Baca juga : Sarwendah, Sibuk Jual Daster Dan Urus Anak
“Sehingga memberikan dampak pada pelemahan rupiah, yang meningkatkan biaya impor dan mendorong inflasi,” kata Josua kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Di sektor perbankan, imbuh Josua, salah satu yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya risiko kredit. Khususnya pada debitur berbasis impor dan sektor yang sangat tergantung pada bahan baku luar negeri.
Tekanan terhadap nilai tukar juga memicu kewaspadaan otoritas moneter, yang dapat berujung pada pengetatan kebijakan suku bunga.
“Dan berpengaruh pada lemahnya permintaan kredit,” ucap Josua.
Ia pun memproyeksikan penyaluran kredit industri perbankan akan tumbuh 10,78 persen yoy pada 2025.
Pertumbuhan kredit sepanjang 2025 tersebut kemungkinan didorong oleh kredit investasi, yang pada Desember 2024 cukup tinggi.
“Perbankan akan lebih selektif dalam menyalurkan kreditnya dengan menyesuaikan kondisi likuiditas,” tutup Josua.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.