RM.id Rakyat Merdeka - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan di dalam negeri masih stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hal itu salah satunya disebabkan menurunnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China.
AS dan China mencapai kesepakatan dagang sementara pada 12 Mei 2025 dan berlaku selama 90 hari. Hal ini turut berimbas positif pada stabilitas sektor jasa keuangan di dalam negeri.
“Stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga dan resilient, meski berada di tengah dinamika tensi perdagangan global,” kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar usai Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 28 Mei 2025, Selasa (2/6/2025).
Mahendra menyebut, perekonomian domestik masih menunjukkan resiliensinya di tengah tingginya dinamika global.
“Pertumbuhan ekonomi masih positif pada kuartal I tahun 2025, meskipun dengan laju yang sedikit melambat menjadi 4,87 persen,” ucap mantan Wakil Menteri Keuangan ini.
Permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga, tetap menjadi motor utama yang tumbuh sebesar 4,89 persen yoy (year on year).
Baca juga : Agar Ekonomi Kembali Kuat Perhatikan Kelas Menengah
Inflasi dalam negeri tetap terjaga tercatat sebesar 1,95 persen (Maret 2025 sebesar 1,03 persen), alias masih dalam rentang target Bank Sentral.
Menurut Mahendra, beberapa indikator perekonomian terkini juga masih menunjukkan resiliensi.
Di antaranya, Neraca Perdagangan yang terus mencatat surplus, defisit transaksi berjalan menyempit menjadi 0,05 persen Produk Domestik Bruto/PDB (sebelumnya 0,87 persen), dan cadangan devisa tetap stabil di level tinggi.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) ini menyampaikan, dinamika perdagangan internasional menunjukkan perkembangan, setelah terjadinya kesepakatan dagang antara AS dan Inggris pada 8 Mei 2025. Ini merupakan kesepakatan permanen pertama AS dengan negara lain, pasca-penundaan penerapan resiprokal tarif.
Pelaku pasar menyambut baik kesepakatan tersebut, sehingga mendorong penguatan pasar keuangan global.
“Hal ini diikuti juga oleh penurunan volatilitas pasar keuangan dan capital inflow ke pasar negara berkembang. Termasuk Indonesia,” ujarnya.
Baca juga : Orangtua Tidak Sekolahkan Anak Kudu Diganjar Sanksi
Ketegangan geopolitik meningkat di beberapa kawasan. Namun dampaknya terpantau dapat terlokalisir, sehingga imbasnya ke pasar keuangan global masih terbatas.
Rilis pertumbuhan ekonomi global pada kuartal I-2025 menunjukkan pelemahan, diikuti oleh berlanjutnya penurunan inflasi yang menunjukkan pelemahan permintaan global.
Menyikapi hal tersebut, kebijakan moneter global semakin akomodatif dengan beberapa Bank Sentral yang telah menurunkan suku bunga, menyuntikkan likuiditas ke pasar, atau menurunkan reserve requirement. Kebijakan fiskal global juga cenderung ekspansif, meski ruang fiskal terbatas.
Tak hanya itu, sambung Mahendra, di tengah perkembangan tersebut, The Fed (Bank Sentral AS Federal Reserve-red) menyiratkan kebijakan Fed Fund Rate (FFR) high for longer, yang menunggu kepastian dari kebijakan tarif dan dampaknya terhadap beberapa indikator perekonomian.
Hal ini mendorong pasar menurunkan estimasi penurunan FFR menjadi dua kali pada tahun ini (dari sebelumnya 3-4 kali penurunan), diperkirakan mundur ke bulan September.
“Beberapa hal tersebut mendorong pelemahan pasar obligasi dan nilai tukar AS,” katanya.
Baca juga : Luna Maya, Jarang Serumah Dengan Maxime
Mahendra melanjutkan, sehubungan dengan inisiatif Pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, dengan menggulirkan paket insentif ekonomi di bulan Juni 2025, OJK mendukung upaya-upaya tersebut. Harapannya, akan memperkuat daya beli. Dan pada akhirnya mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
“OJK bersama kementerian, lembaga terkait dan industri jasa keuangan terus berkolaborasi melakukan upaya-upaya terbaik,” ujarnya.
Mulai dari mendorong intermediasi yang optimal, pendalaman pasar keuangan, dan upaya-upaya pengembangan potensi industri yang prospektif. Termasuk mendukung segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Hal-hal tersebut dilakukan dalam rangka mendorong pembiayaan yang lebih inklusif.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.