Sebelumnya
Kemenko Perekonomian meyakini, penguatan peran BUMN dalam LCT dapat menjadi faktor penting dalam memperluas adopsi penggunaan mata uang lokal di Indonesia.
Ferry menekankan, seiring dengan terus berkembangnya kerja sama LCT dengan negara mitra. Seperti Korea Selatan (Korsel) dan Uni Emirate Arab (UEA), serta perluasan cakupan transaksi ke sektor investasi portofolio dan ritel digital, maka peluang pemanfaatan LCT juga akan makin terbuka lebar.
“Momentum positif ini harus terus kita jaga,” ujarnya.
Ferry menegaskan, dengan memperkuat peran BUMN dalam ekosistem LCT nasional, Indonesia tidak hanya menjaga stabilitas makroekonomi. Tetapi juga, membangun fondasi kedaulatan ekonomi jangka panjang.
Terpisah, Pengamat ekonomi dan perbankan Paul Sutaryono berpendapat, dorongan Indonesia serta keterlibatan BUMN untuk menekan penggunaan dolar, sangat baik dijalankan.
Baca juga : Pencegahan Kebakaran Harus Terus Disosialisasikan
“Hal ini menjadi langkah Pemerintah yang sangat strategis, untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang dolar AS dalam perdagangan internasional,” kata Paul kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Penggunaan mata uang lokal dalam berbagai transaksi perdagangan melalui mekanisme LCT, pun dinilainya lebih hemat dan efisien.
Dengan menggunakan mata uang lokal, BUMN dapat mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, yang selama ini dapat menyebabkan kerugian atau keuntungan tidak terduga.
Misalnya Pertamina, PLN atau Garuda Indonesia selama ini sering melakukan lindung nilai (hedging) untuk mengurangi risiko nilai tukar dolar AS, yang menimbulkan biaya.
“Nah, penggunaan rupiah bisa mengurangi kebutuhan akan hedging tersebut,” ujarnya.
Baca juga : Steffi Zamora, Pamer Foto Tunangan
Selain itu, BUMN-BUMN besar yang bertransaksi secara global, biasanya menggunakan banyak mata uang dolar AS.
“Namun dengan kesepakatan baru ini, akan semakin memperkuat nilai tukar dalam negeri,” tegasnya.
Terlebih, Indonesia telah menjalin kerja sama serupa dengan Thailand, Jepang, Malaysia, China, dan Korsel.
Paul mendukung penggunaan rupiah dalam transaksi impor dan ekspor oleh BUMN, karena dapat mendukung penguatan posisi rupiah sebagai mata uang yang berdaulat, dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
“Diharapkan bisa mendorong pengembangan pasar keuangan lokal dan likuiditas rupiah,” tuturnya.
Baca juga : Rapat Malam-malam, Prabowo Keras ke Pengoplos Beras
Meski begitu, transisi penuh dari dolar AS ke mata uang lokal tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat. Sebab, kata Paul, masih ada beberapa tekanan.
Seperti tekanan geopolitik yang cukup besar, hingga kesepakatan tarif impor pada barang-barang dari negara anggota BRICS (Brazil, Rusia, India, China, Afrika Selatan). [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.